About me

Saya, Prof. Atmonobudi Soebagio Ph.D.,  adalah guru besar Energi Listrik dan Terbarukan pada program studi S-1 dan S-2 Teknik Elektro di Universitas Kristen Indonesia (UKI).   Spesialisasi saya adalah  di bidang  Konversi Energi Terbarukan menjadi Energi Listrik, serta Manajemen dan Ekonomi Energi.

Saya  juga menjadi pengamat masalah “Energi Sebagai Faktor Penting dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Infrastrukturnya,” serta hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana cara beradaptasi terhadap perubahan iklim; di samping menjadi penulis artikel pada beberapa surat kabar ibu kota dan daerah.

Setelah mengakhiri tugas pelayanan sebagai Rektor UKI (2000-2004), saya kembali di kegiatan penelitian di bawah Pusat Kajian dan Studi Kebijakan dalam Penggunaan Energi Terbarukan UKI, di samping mengajar di program studi S-1 dan S-2 Teknik Elektro UKI.

Melalui perkenalan ini saya ingin mengajak  kita semua untuk mulai mengubah gaya hidup kita, khususnya dalam mengurangi penggunaan energi listrik di rumah atau kegiatan kerja, serta menghemat bahan bakar dari kendaraan bermotor kita. Penghematan ini akan besar sekali pengaruhnya dalam menurunkan konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfir Indonesia, sehingga akhirnya akan mengembalikan suhu permukaan bumi ke keadaan semula. Iklim pun akan kembali normal dan teratur. Semoga ajakan ini berkenan bagi Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudari sekalian.

Demikianlah perkenalan saya ini, dan sering-seringlah mengunjungi blog ini untuk berbagi  wawasan kita tentang “Energi dan Bahan Bakar bagi Pembangunan Berkelanjutan di Era Perubahan Iklim  dan Adaptasinya”.

Terima kasih banyak atas kunjungan Anda.

 

Prof. Atmonobudi Soebagio MSEE, Ph.D. (Guru Besar Pascasarjana Teknik Elektro UKI)

Email: atmonobudi@uki.ac.id  dan  atmonobudisoebagio@gmail.com .

 

31 responses to “About me

  1. Salam kenal Prof. Atmono, kebetulan bidang yang saya pelajarin sama dengan yang bapak tekuni.

    Salam,

    Ery

  2. Saya masih berkecimpung dalam penelitian, kebetulan saat ini menjadi mahasiswa di laboratorium ekonomi energi di Kyoto University. Dulu saya juga pernah bekerja dengan kolega bapak di UKI, Pak Charles sewaktu di AIT.

  3. Salam kenal Prof. Atmono, saya seorang profesional telekomunikasi, bekerja di Jakarta.
    Saai ini saya tertarik dengan program studi spesialisasi energi terbarukan. Apakah anda bisa memberikan saran di mana saya bisa mendalaminya?

    Thanks,

    Yus

    • Yth. Ibu Yus Nafiri.

      Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini.

      Saya kurang mengetahui peminatan energi terbarukan di perguruan2 tinggi yang ada di Jakarta. Namun, yang pasti adalah bahwa jumlah program studi masih langka.

      FT UKI saat ini sedang dalam proses pengajuan Program Pascasarjana Teknik Elektro/Energi, dan sedang menunggu keputusan ijin operasional dari Ditjen Dikti. Mudah-mudahan perkuliahan sudah dapat dibuka pada awal tahun depan.

      Program pasca tersebut memiliki peminatan: (a) konstruksi dan perancangan energi, (b) manajemen dan operasionalisasi energi, serta (c) Kibajakan dan Perdagangan Energi.
      Semua peminatan tersebut terkait dengan membangkitkan energi listrik dengan memanfaatkan energi terbarukan yang ada di tanah air. Jumlah kredit adalah 40 sks.
      Kekhususan energi terbarukan yang akan diajarkan di program pasca tersebut adalah energi matahari (thermal dan solar cells), angin, gelombang laut, dan biomassa.

      Bila Anda berminat untuk mengetahui kurukulum maupun sillabus dari setiap mata kuliah program tersebut, silakan menghubungi Bp. Tahan M. Tobing MSc, di 800-9193 ext. 414 atau Bp. Bambang Widodo MT di ext. 408. Demikian informasi yang dapat kami sampaikan.

      Salam,

      • Yth. Sdr. Yus Nafiri.

        Terima kasih atas perkenalannya.
        Marilah kita bangun negara tercinta ini dengan membangun kedaulatan energi nasional.

        Salam,
        Atmonobudi.

  4. Djoko Sutjiaman

    Dear Prof,

    Senang sekali mengetahui UKI juga bergerak di green energi.
    Saya lagi IPP dgn PLN untuk hydro power di flores dan Sumba.

    Salam,
    Djoko

    • Selamat pagi Mas Djoko.

      Saya menyambut gembira rekan-rekan seprofesi yang semakin banyak yang bergerak pada pembangkitan listrik yang non-fossil atau terbarukan.
      Menurut Anda, bagaimana kita-kira kepedulian sektor kelistrikan swasta dalam menggunakan sumber-sumber energi terbarukan untuk tenaga listrik?

      Saya memperoleh informasi dari Mas Erwandi (BPPT) bahwa arus pasang-surut di Selat Larantuka sangat promising untuk dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik.

      Salam,
      Atmonobudi.

  5. Josephine Sakiman

    Selamat perkenalan prof. Atmono! Saya adalah konsultan pertanian , kehutanan yang telah berkecimpung di Mesir, Tunis, Liberia , NL dan Jerman dan telah selalu berusaha menerapkan innovasi2 berwawasan lingkungan termasuk green energi sekarang ditanah air kita sampai ditingkat bisnis. Saya keblog sdr karena seminar mengenai pemberantasan korupsi yang akan diadakan 26 Mei 2012 yad. menarik saya, tetapi sayang tidak dapat menghadiri karena di NL.saat ini. Saya harap dapat suatu waktu langsung ketemu bapak untk diskusi lebih jauh. Salam , Josephine S.

    • Selamat sore Ibu Josephine Sakiman. Senang dapat berkenalan dengan Ibu, walaupun lewat internet. Terima kasih banyak atas kunjungannya di blog ini. Saya kagum dengan kiprah Ibu hingga ke mancanegara. Semoga semakin banyak diantara bangsa kita yang seperti Ibu, y.i. yang peduli dan sekaligus sebagai inovator dalam hal kelestarian lingkungan.

      Sekian dulu kabar dari Jakarta.

      Salam hormat,
      Atmonobudi S.

  6. Dear Pak Prof

    saya tertarik membaca tulisan Prof.,
    Apa Prof ada naskah energi yang belum dipublikasikan bertema energi?
    jika ada silahkan dikirimkan via email saya di tabloid.inspirasi@gmail.com ya
    tema bulan ini ttg Membaca nasib energi baru dan Terbarukan di Indonesia.

    mohon responnya.

    Salam

    Dhieta

    • Dear Mbak Dhieta.

      Saya upayakan untuk memenuhinya Mbak. Berapa batas jumlah kata nya? Sekiranya mendesak, saya dapat kirimkan paper saya yang pernah saya kirimkan pada sebuah seminar nasional, dan Mbak Dhieta dapat mengutip bagian yang relevan dengan tema tabloid.

      Salam,

      Atmonobudi S.

  7. rt

    Malam pak,
    Baru masuk ke blog, interesting, bisa blajar banyak yang non accounting
    robert tobing

  8. Selamat pagi selamat hari Sabtu.

    Salam kenal Mas Atomono – setelah bertukar pikiran di milist alumnas-OOT, saya sengaja mencari profile Kangmas. Menarik – ternyata kita sealiran dalam masalah adaptasi. Mari kita lanjut untuk berdiskusi dan mencerahkan komunitas dan masyarakat akan arti penting adaptasi terhadap perubahan iklim. Saatnya negera2 maju nanti akan ‘mengemis’ kepada kita kalau mereka tidak mau berubah. Namun tentu ini perlu didahului siapa yang mau terlebih dahulu berubah – lifestyle maupun pendekatan pembangunannya.

    Senang dapat menemukan blog yang terlihat sangat produktif! I will visit more frequently.

    Salam lestari;

    Petrus Gunarso
    Tropenbos International Indonesia Programme

    • Mas Petrus Gunarso yg baik.

      Terima kasih banyak atas perhatian dan kesamaan visi dan misi kita dalam kepedulian kita terhadap keutuhan alam ciptaan-Nya.

      Semoga semakin banyak anak-anak bangsa ini yang sangat peduli dan berusaha mengubah gaya hidupnya secara lebih adaptif terhadap dampak perubahan iklim, hemat energi, dan menghijaukan kembali bumi kita.

      Sekali lagi matur nuwun atas dukungan Mas Gunarso

  9. Matur nuwun dan selamat berakhir pekan bersama keluarga.

  10. Pagi pak… saya terkesan dengan pendapat bapak mengenai membangun kemandirian energi listrik… mau bertanya pak… apakah bapak memiliki paper mengenai kemandirian energi yang berhubungan dengan lingkungan pak? terima kasih

    Adha Nur Achmad mahasiswa UNAIR

  11. zainal abidin

    selamat sore pa Atmono,sya pernah pernah jadi mahasiswa bapak sebelum pa Atmono meneruskan studi di Amerika, sya Uki angkatan tahun tahuh 78, apa program S2 dibidang energi terbarukan sudah dibuka di UKI pa,
    terima kasih

  12. Selamat siang Prof. Atmono,

    Saya Elfa mahasiswa IPB yang sedang melakukan penelitian mengenai geothermal. Saya tertarik dengan tulisan Bapak mengenai “Mengelola Energi Listrik Nasional Secara Efisien dan Berkelanjutan”. Jika Bapak berkenan, saya mohon ijin paper tersebut bisa dijadikan referensi penelitian saya.

    Terima Kasih.

    Salam,

  13. asep maulana

    Dear Prof Atmonobudi
    Tertarik dengan program pengembangan energi baru terbarukan , saya pengusaha SPBU yg sedang mengembangkan bisnis Converter kit LGV , apakah berkenan untuk diskusi penerapan DME dengan Converter.

    Bilamana ada kontak no dan bisa membuat janji temu

    terima kasih perhatian serta perkenan

    Asep Maulana
    082284315658

    • Dear Pak Asep.

      Kita bicarakan lewat email atau telpon ya Pak.
      Terima kasih.

      Salam,
      Atmonobudi S.

      • asep maulana

        Dear Bpk Atmonobudi Soebagio

        Sehubungan dengan pembahasan serta penelitian Bapak mengenai DME di Indonesia, bersama ini mohon perkenan Bapak dapat kiranya kami menyampaikan beberapa hal yang dapat dijadikan Bahan Awal Dasar Pengetahuan mengenai DME, sebagai berikut :

        1. Permasalahan Bahan Bakar Minyak Subsidi yang begitu besar dan mengalami kenaikan setiap kurun waktu telah mengakibatkan beban pada APBN negara semakin berat sehingga mau tidak mau Pemerintah akan menaikan harga BBM Subsidi dimasa mendatang, HAl tersebut sudah barang tentu akan menambah beban Biaya sebagian masyarakat kurang mampu untuk dapat memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Subsidi dimasa mendatang.

        2.Atas dasar hal tersebut diatas serta usaha mencari Bahan Bakar alternatif setara BBM Subsidi Premium maupun Solar dan sehubungan dengan penelitian yang Bapak telah lakukan selama ini, khususnya mengenai potensi penggunaan DME (Dimethyl Ether), kami sangat tertarik untuk kiranya berkesempatan mendapat informasi sehingga tata cara implementasinya dan bisa menjadi pilihan terhadap kebutuhan Bahan bakar secara umum maupun peluang usaha secara khusus dimasa mendatang.

        3. Beberapa hal yang kami ingin perdalam mengenai penggunaan DME tersebut, adalah ;

        a. Penggunaan beberapa Bahan dasar sehingga Proses Produksi dan ketentuan investasi terhadap Sarana Prasarana maupun fasilitas sehingga DME tersebut dapat digunakan oleh masyarakat umum khususnya pengguna kendaraan baik premium maupun Solar.

        b. Mengingat Pulau Batam saat ini dilalui oleh jaringan Pipa Gas CNG dari PGN (Perusahaan Gas Negara), apakah penggunaan bahan dasar CNG tersebut sudah cukup atau masih diperlukan penambahan Bahan Dasar lainnya.

        c. Legalitas maupun payung hukum terhadap pengembangan Produksi DME apabila dilakukan oleh Pihak Swasta serta pengawasan terhadap standarisasi baik segi keamanan maupun nilai ekonomi.

        d. Dari Hasil serta Kesimpulan dan pengalaman Bapak terhadap Kendaraan yang sudah menggunakan Bahan Bakar Alternatif DME tersebut , apakah peralatan tambahan tersebut pada mesin penggerak sudah mencukupi, al : Tanki bahan bakar LPG/DME khusus, Reducer / Converter LPG / Vigas, Sistem Tune Up mesin dll.

        e. Kelayakan Jenis Kendaraan yang menggunakan Bahan Bakar awal Premium dan Solar, apakah memang bisa menggunakan 100% DME tsb ?

        f. Mengingat Kepulauan Riau / Kota Batam yang telah beberapa kali dijadikan Pilot Project kebijakan Pengawasan BBM Subsidi dimana saat ini sudah berhasil menjalankan Pembatasan Penjualan Solar Subsidi maupun penggunaan Cashless BRIZI Card, maka dengan pengembangan DME sebagai bahan bakar alternatif yang memang dapat dipertanggung jawabkan maka sejujurnya selain hal tersebut bisa menjadi percontohan namun dari sisi bisnis pun bisa merupakan peluang yang perlu dipertimbangkan secara matang.

        g. Tentunya kami berharap mendapatkan Informasi dari Bapak yang selanjutnya bisa kami jadikan dasar sosialisasi kepada Management maupun Pemerintah Daerah Kota Batam dengan harapan dapat dilanjutkan didalam pembahasan lebih mendalam bersama Bapak dalam waktu yang tidak terlalu lama.

        Kami berharap kesempatan dan tanggapan Bapak mengenai hal tersebut dimana dapat menjadi langkah awal untuk pengembangan prospek selanjutnya dimasa mendatang.

        Atas segala perhatian kami ucapkan terima kasih.

        Best regards,

        PT ASIA NUSANTARA MAS – Batam

        ASEP MAULANA DJAKI

        08127011699

  14. Dear Bapak Asep Maulana di Batam.

    Terima kasih banyak atas ketertarikan Bapak pada ulasan tentang Dimethyl Ether (DME) di blog yang saya asuh.

    Tulisan saya memang merupakan ajakan kepada kita semua, termasuk kepada pemerintah, untuk tidak menggantungkan hanya pada BBM fosil (premium, solar, gas alam) saja, melainkan harus mulai memberanikan diri untuk lepas dari ketergantungan tersebut. Bahwasanya pemerintah periode yang lalu menjadi sangat panik dan ragu untuk mencabut subsidi yang sangat besar, itu karena telah menunda pengurangan subsidi yang seharusnya dilakukan secara bertahap sejak sepuluh tahun yang lalu. Sementara itu, pemerintah sendiri agaknya tidak mempunyai solusi alternatif, atau kurang cermat dalam mencari BBG alternatif atau BBG yang berasal dari biomassa, sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan BBM. Karena biaya produksi DME 20% lebih murah daripada Elpiji (LPG), ke depan, DME akan mampu menggantikan peran LPG, atau sama-sama eksis secara fair di pasar domestik, sehingga terbentuk diversifikasi bahan bakar di tengah masyarakat kita.

    Dengan keterbatasan yang saya miliki, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan Bapak:

    1. Sebagaimana kita ketahui bersama, cara terbaik dan termudah untuk mengurangi ketergantungan kita hanya pada satu bahan bakar saja, kita harus berani melakukan diversifikasi bahan bakar. Hal yang sama pernah kita alami ketika harus mengalihkan ketergantungan kita pada minyak tanah ke LPG. Dalam hal seperti itu, pemerintah perlu menambah jumlah tabung berukuran 3 kg. Dan program konversi tersebut berhasil.

    yang perlu kita yakini adalah bahwa apa yang bisa kita lakukan lewat penggunaan premium atau solar, pasti juga bisa kita lakukan lewat penggunaan LPG/DME.

    2. Untuk kendaraan bermotor, kita perlu memasang “converter kit”, yaitu sebuah alat yang dapat mengalihkan penggunaan bahan bakar dari premium/solar ke LPG/DME. Dengan alat ini kita bisa tetap mempertahankan tanki mobil/motor kita, namun siap untuk beralih ke bahan bakar alternatif apabila harga premium/solar naik. Ini berarti setiap mobil/motor akan memiliki dua jenis tanki bahan bakar. Untuk tanki DME atau LPG, kita tidak perlu membuat tanki baru. Cukup dengan meletakkan tabung DME/LPG di bagasi mobil. Tidak ada salahnya apabila masyarakat ada yang lebih memilih memasang tabung gas khusus di mobil/motornya.

    Pemerintah diharapkan dapat bersikap lebih “terbuka” agar masyarakat percaya akan keseriusan pemerintah untuk mengajak masyarakat melakukan diversifikasi bahan bakar. Keterbukaan tersebut antara lain, bahwa kalau harga minyak yg diimpor di pasar dunia sedang turun, maka harga jual di SPBU juga harus turun; atau sebaliknya.

    Demi lancarnya proses diversifikasi bahan bakar, pemerintah wajib memberi “insentif” untuk mereka yang ingin membuka bisnis bahan bakar alternatif. Monopoli perdagangan BBM di dalam negeri selama ini telah membuat perusahaan pemegang monopoli tsb lebih menyukai mempertahankan harga jualnya, walaupun harga minyak yang diimpor di pasar internasional sedang murah.

    3. Bila DME telah ada di Batam, maka penyiapan SPBU untuk DME adalah serupa dengan SPBG yang untuk BBG. Karena pipa gas CNG telah tersedia di Batam, maka SPBU/SPBG di Batam dapat dikembangkan lewat pipanisasi dari pipa gas utama ke lokasi SPBU/SPBG.

    Yang diperlukan adalah adanya bengkel-bengkel yang sanggup memasang converter kit dan tabung gas di bagasi mobil. Motor jenis “bebek” mempunyai tempat cukup untuk kedudukan tabung LPG ukuran 3 kg. Namun akan lebih sulit kalau tabung tersebut harus dipasang di motor jenis “laki-laki”. Tidak menjadi masalah apabila estetika kita abaikan demi agar mobil/motor kita dapat tetap dikendarai. Saya percaya bahwa masyarakat kita sangat kreatif, sehingga mampu memodifikasi mobil/motornya dengan sangat baik demi menjaga estetika. Kreatifitas juga bisa membuat orang tidak tahu apa bahan bakar mobil/motor kita, karena terpasang dengan rapih.

    Kendaran bermotor dapat langsung menggunakan 100% DME, sebagaimana juga LPG. Kemungkinan memang perlu tune-up karena ada sedikit perbedaan antara cetan number DME yang sebesar 55-60, bila dibandingkan dengan solar yang hanya 45-55. Demikian juga tune-up untuk mobil/motor yang menggunakan premium. Bagi mobil/motor yang menggunakan premium sebaiknya dikonversikan ke LPG atau BBG jenis Methane.

    Tentang legalitas atau payung hukumnya, saya kurang tahu. Namun Bapak dapat menanyakannya pada PT Arrtu Mega Energie (AME) yang memiliki pabrik DME di Peranap – Riau.

    Sejauh yang saya ketahui, di Jakarta belum ada kendaraan bermotor yang menggunakan DME.

    Demikianlah yang dapat saya jawab, karena saya bukan pelaku pasar secara langsung. Mohon maaf bila ada penjelasan saya yang kurang berkenan bagi Bapak. Terima kasih.

    Salam,
    Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s