Stop Ekspor Batubara Indonesia!

Prof. Atmonobudi Soebagio MSEE, Ph.D.

Guru Besar Pascasarjana Teknik Elektro Universitas Kristen Indonesia

Pendahuluan.

Berdasarkan data statistik ketenagalistrikan 2014 yang dikeluarkan oleh Ditjen Ketenagalistrikan Kem. ESDM, kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia adalah sebesar 53.065,50 megawatt (MW), yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar  37.379,53 MW dan yang non-PLN sebesar 15.685,97 MW.

Total daya  tersebut dipasok dari berbagai pembangkit listrik, sebagaimana ditampilkan pada tabel berikut ini.

Tabel 1.  Pembangkit listrik yang dikelola oleh PLN.

 

Jenis Pembangkit Diskripsi

Daya [MW]

1. PLTU Steam PP 14.457,00
2. PLTG Gas Turbine PP 3.591,47
3. PLTGU Combined Cycle PP 8.894,11
4. PLTM-G Machine-Gas PP 484,54
5. PLTD Diesel PP 5.822,08
6. PLTA Hydro PP 3.491,49
7. PLTM Minihydro PP 36,59
8. PLTMH Microhydro PP 11,87
9. PLTP Geothermal PP 575,00
10. PLT Bayu Wind Power PP 0,43
11. PLTS Solar PP 8,96
12. PLTGB Coal Gasification PP 6,00

Total

37.379,53

Dari 12 jenis pembangkit PLN, PLTU menempati urutan teratas dengan daya sebesar  14.457,00 MW. Bila digabungkan dengan PLTU non-PLN yang sebesar 10.647,23  MW, maka seluruh PLTU di Indonesia dapat memasok daya listrik 25.104,23 MW, atau  52,27% dari total pasokan daya listrik .

Bila ditinjau dari aspek keanekaragaman pembangkit listrik di Indonesia, jumlah jenis pembangkit yang dioperasikan oleh pemerintah c.q. PLN telah memadai.  Namun, bagaimana dengan tingkat keandalan (reliability) dan keamanan (security) energi listrik bila cadangan batubara kita habis?  Artinya, keanekaragaman jenis pembangkit tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus diimbangi dengan kesamarataan (evenness).

Batubara Indonesia

Sumber daya batubara Indonesia cukup melimpah, yaitu 61,3 miliar ton, dengan cadangan 6,7 miliar ton serta tersebar di 19 provinsi.  (Pusat Sumber Daya Geologi, 2005).  Sedangkan menurut Indoanalisis, konsumsi batubara untuk PLTU diprediksi akan terus meningkat, sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 2 berikut ini.

Table 2. Kebutuhan PLTU akan batubara (juta ton).

Tahun

Konsumsi [juta ton]

2015

74,00

2016

86,00

2017

103,00

2018

106,00

2019

119,00

PLTU memang merupakan pemakai batubara tertinggi dan jumlahnya mencapai 80% dari total pemakaian batubara di dalam negeri.  Di sisi lain,  bila kita bandingkan antara batubara yang diekspor dan total produksi dalam negeri, sampai saat ini kuota ekspor masih bertahan di sekitar 80% dari total produksi dalam negeri, yang berarti 4 kali lebih besar dari penggunaan di dalam negeri.  Sedangkan dari trend ekspor batubara yang peningkatannya sangat signifikan, sekitar 16 % pertahun, maka pada tahun 2025 diproyeksikan akan mencapai 438 juta ton.  Proyeksi tersebut akan menghabiskan cadangan batubara dalam waktu kurang dari 100 tahun  sejak saat ini.

Ada baiknya kita pahami definisi dari pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan PBB, yaitu: “pembangunan untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa membahayakan generasi-generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhannya“.

Kebutuhan batubara dunia saat ini (2005) ternyata meningkat sangat cepat, antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU di luar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara, serta kran ekspor China ditutup. Hal ini yang mengantarkan Indonesia sebagai pemasok (eksportir) terbesar pada tahun ini menyaingi Australia dan Afrika Selatan. Jika Tiongkok dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dengan daratannya yang luas sanggup menyetop kran ekspor batubaranya, mengapa Indonesia yang jumlah penduduknya 250 juta dan tinggal di daratan yang hanya 35% dari luas total wilayahnya, tidak sanggup menyetop ekspor batubaranya.  Kita seharusnya pada kondisi yang lebih kritis dalam masalah batubara dari pada Tiongkok.

Tarif listrik PLTU akan semakin mahal

Pernahkah kita membayangkan bahwa PLTU, yang merupakan jenis pembangkit listrik yang terbesar di Indonesia, suatu saat akan mengalami krisis batubara dan harus mengimpornya?  Tiongkok telah menutup kran ekspornya demi melindungi kebutuhan industri dan energi listrik dalam negerinya.  Ironisnya, Indonesia justru menjadi pengekspor batubara terbesar ke Tiongkok?

Sebagai negara penghasil batubara, dimana PLTU merupakan merupakan pemasok listrik dalam negeri sebesar 52,27%, pemerintah seharusnya menyetop ekspor batubaranya dan hanya digunakan untuk mendukung kebutuhan PLTU selaku pemasok listrik terbesar dan industri-industri dalam negeri seperti: semen, pupuk, logam, tekstil dan kertas.

energi-mix-2050-5598e123da9373fb13ebb305

Dewan Energi Nasional (DEN) memprediksi bahwa cadangan bahan bakar fosil (batubara, minyak bumi, dan gas alam) akan habis pada tahun 2050; yang berarti tinggal 33 tahun lagi.  Oleh karena itu, target penggunaan energi-energi terbarukan harus diakselerasi.  Tanpa akselerasi, maka target energi terbarukan di tahun 2025 saja tidak akan menjadi solusi atas dugaan krisis energi listrik pada tahun tersebut.

Pernahkah kita bayangkan, bahwa karena menipisnya cadangan batubara, lalu dikeluarkan kebijakan untuk mengalihkan bahan bakar PLTU ke minyak atau gas alam yang harganya lebih mahal dari batubara?  Bila kebijakan tersebut terjadi, katakanlah 20 tahun lagi kita mengalaminya, maka tarif listrik akan melonjak sebesar 2 kali  lipat.  Alasannya karena biaya pembangkitan PLTU batubara yang sebesar 823,- Rp/kWh akan digantikan PLTU minyak/gas  yang 1.714,50 Rp/kWh.

Pembahasan di atas baru mengenai kenaikan tarif listrik saja.  Umumnya, pelanggan listrik akan menuntut kualitas pelayanan yang semakin andal a.l. berupa semakin jarangnya  pemadaman listrik.  Demikian juga dengan jaminan keamanan pasokan energi berupa ketersediaan bahan bakar untuk pembangkit secara berkelanjutan.  Adalah sangat wajar apabila pelanggan menuntuk semakin baiknya kualitas pelayanan listrik, sekiranya terjadi kenaikan tarif listrik karena penggantian bahan bakar dari batubara ke minyak/gas.

Sebaliknya, tingkat kepercayaan pelanggan akan semakin meningkat apabila kenaikan tarif listrik adalah demi meningkatkan kualitas pelayanan; bukan karena naiknya biaya produksi akibat  peralihan dari batubara ke minyak atau gas.

Rekomendasi solusi

Ada tiga langkah solusi yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam  menjaga agar tarif listrik tetap stabil, namun tetap mampu meningkatkan pasokan listrik secara berkelanjutan.

Pertama, keanekaragaman jenis pembangkit harus disertai  dengan kesamarataan  daya yang dibangkitkan oleh setiap jenis pembangkit.  Derajat keanekaragaman pembangkit dapat diukur dengan metode Shannon-Wiener Index (SWI).  Implementasinya adalah: karena ada 12 jenis pembangkit, maka setiap jenis pembangkit ditargetkan untuk menghasilkan 3.100 MW; bukan seperti kondisi saat ini di mana jenis PLTU batubara memasok daya sebesar 25.104,23 MW.  Bila terjadi kelangkaan pasokan batubara, maka akan terjadi mati listrik (blackout) di sebagian besar wilayah jaringan Jawa-Bali-Madura sebesar 25.000-an MW.

Keanekaragaman jenis pembangkit yang diperlihatkan dalam Tabel 1 sesungguhnya masih mengandung kelemahan, karena 5 dari 12 jenis pembangkitnya tergolong bahan bakar fosil; atau masih serumpun.  Walaupun PLTU batubara (52,27%) merupakan pemasok listrik terbesar dan cadangan batubara merupakan yang terbesar di antara bahan bakar fosil lainnya, sangat besar kemungkinan bahwa cadangan bahan bakar minyak dan gas akan habis lebih dulu, karena juga menjadi kebutuhan dari sektor transportasi.

Kedua, stop ekspor batubara, dan produksinya hanya boleh digunakan untuk pembangkitan daya listrik dan kebutuhan sektor industri di dalam negeri saja.

Ketiga, tingkatkan kapasitas pasokan listrik yang berbasis energi terbarukan —  a.l. PLTA, surya, angin, arus dan gelombang laut — demi tercapainya kesamarataan daya di antara 12 jenis pembangkit tersebut.  Pembangkit-pembangkit ini sangat cocok ditempatkan di wilayah pedesaan yang terisolir secara geografis, serta di pulau-pulau kecil. Di samping itu waktu pemasangannya pun jauh lebih singkat dari pada pembangunan pembangkit konvensional yang kapasitas dayanya mencapai ratusan hingga ribuan MW per unit.

Seperti diketahui, bahwa total energi matahari yang sampai ke permukaan bumi adalah 700 juta terawatthour (TWh) per tahun.  Padahal, kebutuhan seluruh manusia di bumi hanya 50.000 TWh setiap tahunnya.  Jadi, energi matahari yang masuk ke bumi 14.000 kali lebih besar dari kebutuhan manusia [Breeze P, 2005].  Dan hampir semua energi terbarukan merupakan turunan (derivative) dari energi matahari.  Dengan demikian, PLTN fisi tidak perlu dibangun di Indonesia karena energi terbarukan kita sangat besar potensinya.

Ingatlah!  Kita dan ribuan tahun generasi-generasi keturunan kita sedang dan akan tinggal di tanah air yang sama. Jangan habiskan sumber-sumber energi non-terbarukan, a.l. batubara, dan gas hanya untuk diekspor demi keuntungan  bisnis generasi sekarang saja.

Semoga pemerintah, d.h.i. Kementerian ESDM di bawah pimpinan Bapak Ignasius Yonan, sanggup mengambil keputusan secara cepat dan tegas, serta tidak terpengaruh oleh lobby para pebisnis yang ingin tetap terbukanya ijin ekspor batubara.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Coal Fired Power Plants, Crisis of Electricity, Renewable Energy, Shannon-Wiener Index, Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s