Sumba Timur Selalu Gelap 12 Jam Per Hari

Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sejak satu pekan lalu mengalami pemadaman listrik selama 12 jam berturut-turut setiap sore hari sampai malam.  Padahal, sejak 2014, PLN mendeklarasikan sebagai ikon pulau energi baru terbarukan.  Aktivitas warga terganggu, terutama usaha kecil dan menengah serta kegiatan belajar siswa.

Wakil Ketua Fraksi Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumba Timur Josua Katanga Maujawa di Waingapu, Sabtu (16/9), mengatakan, dua tahun lalu PT PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mendeklarasikan Sumba sebagai ikon pulau energi baru dan terbarukan.  Tahun 2016, PLN mengklaim telah melistriki pulau itu sampai 56 persen.

“Laporan itu asal bapak senang.  Kami memantau di lapangan, listrik belum masuk desa di luar kota Waingapu.  Sebagian besar desa masih gelap.  Waingapu sebagai ibukota kabupaten saja hanya Kecamatan Matalapau dan Karera yang terlayani listrik, sedangkan enam kecamatan lain belum terlayani sama sekali.  Dua kecamatan yang terlistriki ini pun tidak menyeluruh,” kata Maujawa.

Pemadaman bergilir selama satu pekan terakhir, mulai pukul 12.00 hingga pukul 24.00 Wita, meresahkan warga. Pemadaman dilakukan tanpa pemberitahuan.  Usaha kecil dan menengah yang mengandalkan listrik menjadi terbengkalai.

Yohanes Napuwole (54), warga kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kota Waingapu, selaku peternak ayam potong mengatakan, sekitar 300 bibit ayam (day old chick/DOC) mati karena kurang penerangan listrik. Ayam itu didatangkan dari Surabaya dengan pesawat melalui Kupang.  Ia pun merugi sekitar Rp 50 juta.

“Saya mau lapor ke mana.  Kasus kematian DOC tahun 2015 akibat pemadaman listrik seperti ini pun tidak mendapat ganti rugi.  PLN selalu memiliki alasan yang kuat untuk menghindar dari klaim penggantian kematian bibit ayam itu,” ujar Napuwole.

Ia mengatakan, anak-anak sekolah pun sulit belajar malam hari.  Mereka hanya mengandalkan penerangan lilin.  Namun, penerangan lilin ini sering berdampak pada kebakaran rumah karena tuan rumah lalai sehingga banyak orang tua tidak mengizinkan anak-anak belajar dengan menggunakan lilin.

Direktur Rumah Sakit Imanuel Waingapu dr Dany Kristian mengatakan, tiga jadwal operasi pasien di rumah sakit itu tertunda karena pemadaman listrik.  Dengan kondisi pemadaman seperti itu, manajemen rumah sakit membatalkan jadwal operasi pasien katarak, usus buntu, dan kista yang tidak diinginkan.  Rumah sakit memiliki genset, tetapi tidak mungkin beroperasi setiap sore sampai malam hari.

Menurut Piter Ariana (54), warga desa Anakalang, Kabupaten Sumba Tengah, pemadaman listrik juga terjadi di Sumba tengah hamper setiap malam.  Pemadaman biasa terjadi pukul 18.00-22.00 Wita.

Kepala PLN Area Sumba Faisal Risal menjelaskan, pemadaman listrik hanya dialami di Kabupaten Sumba Timur.  Pemadaman terpaksa dilakukan karena salah satu unit mesin di Waingapu mengalami gangguan teknis.  Pihak PLN sedang memperbaiki dan diharapkan segera normal kembali.  (KOR)

Sumber:  Kompas, Senin 19 September 2016, hal. 21.

Tanggapan:

Sangat disayangkan bahwa masih ada di antara rakyat Indonesia, yang walaupun  tidak tinggal di daerah yang tergolong terisolir atau terpencil, ternyata masih mengalami pemadaman listrik 12 jam setiap harinya sejak awal kemerdekaan negara ini.  Padahal wilayah Sumba Timur sangat potensial dalam energi surya dan energi anginnya.  Pulaunya yang diapit oleh Samudera Hindia dan Selat Sumba tentunya juga sangat potensial energi gelombang maupun arus lautnya, sebagaimana yang ada Selat Larantuka di Flores Timur.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2015-2024 (baca di bagian C17.3. tentang Pengembangan Sarana Kelistrikan), khususnya tentang Potensi Energi Terbarukan, disebutkan bahwa potensi PLTM di pulau Sumba berkisar 12,40 MW; suatu daya listrik yang dapat dinikmati oleh 9.500 keluarga di Sumba dengan sebaran 1,30o watt per keluarga.

PT PLN selayaknya sudah berorientasi pada pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan yang terdapat di pulau Sumba; jangan hanya mengandalkan bahan bakar fosil yang polutif dan semakin tipis cadangannya, yaitu batubara,  minyak solar dan gas.  Selaku BUMN yang menangani perlistrikan di Indonesia, PLN sepatutnya menempatkan posisinya sebagai pionir dalam menyediakan energi listrik di seluruh pelosok tanah air.

Semoga tekad Presiden Joko Widodo dalam program 35.000 MW dengan mendahulukan pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan dapat segera terealisir di Pulau Sumba dan pulau-pulau lainnya.

Atmonobudi S.

 

4 Komentar

Filed under Crisis of Electricity, Energy, Ocean Wave Energy, Photovoltaics

4 responses to “Sumba Timur Selalu Gelap 12 Jam Per Hari

  1. Prof Atmobudi yth, saya Sugondo Sudradjat sebagai partner dari Sinaki GmbH Germany, ingin memberikan masukkan cara melistrikkan desa yang mengalami mati listrik hingga 12 jam / hari, dengan menggunakan tenaga matahari dan biogas energy, sehingga desa tersebut dapat listrik, seperti daerah lainnya di Indonesia dapat menggunakan listrik 24 jam / hari.
    Terima kasih atas kesempatan yang Prof berikan kepada kami.
    Sugondo Sudradjat

    • Dear Bapak Sugondo Sudradjat.

      Saya mendukung sepenuhnya keinginan Bapak dalam memberikan solusi atas masalah listrik yang sedang dihadapi oleh masyarakat Sumba Timur.

      Konsern Bapak selaku warga diaspora Indonesia yang berdomisili di Jerman sangatlah positif, dan dapat menjadi contoh yang sangat baik bagi rekan-rekan lain di luar negeri.

      Sekiranya solar PV produksi Sinaki Gmbh (Jerman) memang memiliki kualitas yang tangguh terhadap kondisi Indonesia yang humid dan panas, maupun terhadap curah hujan yang tinggi, maka saya akan mendukung penuh apabila produk tersebut diujicobakan di Indonesia. Mengapa demikian?

      Masyarakat kita yang tinggal di pulau-pulau kecil maupun di daerah terpencil (terisolir) kurang mampu untuk merawatnya, sehingga hanya produk berkualitas saja yang cocok bagi mereka.

      Demikian tanggapan saya atas komentar Bapak Sudradjat. Terima kasih atas komentar Bapak di pemberitaan ini.

      Salam hormat,
      Atmonobudi Soebagio.

      • Sugondo Sudradjat

        Prof Atmobudi Soebagio yth

        Terima kasih atas respon yang cepat dari Prof Budi, Sinaki dan Prof Budi memilik visi yang sama yaitu memberikan solusi listrik dari produsen dan material yang terbaik, made in Germany, sehingga PV dan Biogas power cukup dengan maintenance yang minim, terutama PV, dan saya percaya dana untuk desa cukup besar untuk membuat desa menjadi terang, dan membuat desa lebih menarik untuk anak muda berkarya di desanya, menghindari urbanisasi ke kota-kota besar.

        Saya percaya dengan kerjasama yang baik dari Prof Budi dan Sinaki dapat merealisasikan segera kelistrikan di desa yang tidak sempurna kelistrikannya menjadi 24 jam/hr, dari mati 12 jam/hr, dan ini harus kita perjuangkan segera, untuk mengurangi penderitaan masyarakat. Dengan adanya fasiltas listrik yang sempurna, dapat meningkatkan produktifitas masyarakat yang lebih signifikan dalam hidup mereka.

        Mohon masukkan dari Prof Budi cara kita merelialisasikan maksud baik kta, agar desa tersebut segera mempunyai listrik yang andal.

        Noted: Prof Budi mohon email segera ke demmis.sie@sinaki.de, Dennis Sie akan segera meresponnya.

        Salam dan terima kasih

        Sugondo Sudradjat Partner Indonesia Sinaki GmbH s.sudradjat@sinaki.de Mobile: +62 816 837860 Phone: +62 21 7544959 http://www.sinaki.de info@sinaki.de

      • Terima kasih Pak Sudradjat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s