ENERGI : Pembangkit Listrik Tenaga Angin Segera Dibangun

KOPENHAGEN – Perusahaan pembangkit listrik tenaga angin asal Denmark, Vestas, bersama investor di bidang energi asal Singapura, Equis, segera membangun pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 60 megawatt di Jeneponto, Sulawesi Selatan.  Pembangunan pembangkit  itu segera dilakukan setelah PT PLN (Persero) dan Equis menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik.

Penandatanganan perjanjian jual beli listrik dilakukan oleh Director at Equis Funds Groups Ltd Tim Russel serta Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PLN Machnizon Masri dengan disaksikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno serta Menteri Energi, Utilitas, dan IKlim Denmark Lars Christian Lilleholt, di Kopenhagen, Denmark, Senin (19/9), seperti dilaporkan wartawan Kompas, Ferry Santoso.

Tim Russel mengungkapkan nilai investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga angin mencapai 130 juta dollar AS dengan sistem kerja sama built, operate, and transfer (BOT) selama 30 tahun.

Setelah membuat desain rekayasa detail dan berbagai perizinan, lanjut Russel, pembangkit listrik tenaga angin dapat diselesaikan akhir 2017.  Equis dan Vestas juga melakukan kajian pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di beberapa daerah lain di Indonesia.

Energi terbarukan

Direktur Perencanaan Korporat PT PLN Nicke Widyawati mengungkapkan, dalam perjanjian jual beli listrik pada pembangunan pembangkit listrik tenaga angin 60 MW di Jeneponto, PLN membeli listrik dari Equis sebesar 10,89 sen dollar per kWh.

Rini Soemarno mengungkapkan, pemerintahan Presiden Joko Widodo menekankan pembangunan pembangkit listrik yang berasal dari energi baru dan terbarukan.  Pemerintah memiliki target pemakaian energi baru dan terbarukan mencapai 23 persen pada 2025.

Selain itu, lanjut Rini, dalam pembangunan pembangkit listrik, pemerintah, terutama Kementerian BUMN, selalu menekankan pentingnya penggunaan produk dalam negeri.  Ia mencontohkan, tiang-tiang dari kincir angin untuk pembangkit harus bisa diproduksi di dalam negeri, terutama oleh perusahaan milik negara.

Sumber: Kompas, Selasa, 20 September 2016, hal. 17.

Tanggapan:

Rencana pembangunan 60 MW pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) di Jeneponto (Sulawesi Selatan) merupakan langkah tepat dan patut memperoleh acungan jempol.

Beberapa bulan yang lalu, Pemda Sulawesi Selatan telah membuat terobosan baru dengan tekadnya untuk membangun jaringan rel KA di wilayahnya dengan ukuran rel yang lebih lebar agar KA-nya mampu melaju dengan kecepatan sampai 140 km/jam.   Kedua jenis infrastruktur tersebut sangat besar pengaruhnya untuk meningkatkan perekonomian daerah yang sudah ada sebelumnya, serta dalam menarik minat investor baru.  Kebijakan yang progresif dan strategis ini patut ditiru oleh pemda-pemda di Sumatra, Kalimantan dan Papua.

Ke depan, pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan di seluruh provinsi di Sulawesi perlu terus dikembangkan dalam wujud energi air (PLTA, PLT Minihidro dan Mikrohidro), energi angin (PLTB), dan energi surya (PLTS).

Swadaya masyarakat dengan membangun sendiri PLTMH, PLTS dan PLTB akan memperkuat ketahanan/keamanan energi setempat. Dengan semakin banyaknya masyarakat pelanggan listrik PLN di sana yang memiliki pembangkit  PLTS sendiri dan dapat terhubung ke sistem jaringan tenaga listrik Sulawesi, sistem jaringan tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi smart grid. 

Smart grid adalah “suatu sistem dari mekanisme ekonomi dan control yang memberikan keseimbangan dinamik antara suplai dan permintaan di seluruh infrastruktur listrik yang menggunakan nilai (value) sebagai sebuah parameter operasional kunci”.  Pelanggan listrik di dalam sistem ini akan menerima informasi secara real time dan dapat  berkontribusi lewat penghematan beban mereka, atau menyumbang energi listrik apabila memiliki pembangkit sendiri.

Dengan sistem ini, pelanggan listrik pemilik PLTS dapat menjual listriknya ke PLN; terutama pada kondisi beban puncak. Melalui kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua pihak tersebut, kapasitas daya listrik yang tersedia di jaringan akan meningkat sehingga mampu memenuhi kebutuhan listrik pada kondisi beban puncak. Sebaliknya, lewat kerja sama ini pelanggan pun dapat berkurang tagihan listriknya. Semoga.

Atmonobudi Soebagio.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Crisis of Electricity, Energy, Energy Security, Photovoltaics, Renewable Energy, Smart Grid, Wind Generators

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s