Tanggapan atas Rencana Penyusunan Roadmap Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia

Prof. Atmonobudi Soebagio MSEE, Ph.D.

Guru Besar Pascasarjana Teknik Elektro UKI

 

A. Pengantar

Dewan Energi Nasional (DEN) telah menyampaikan keputusan pembangkit listrik tenaga nuklir sebagai pilihan terakhir kepada Presiden Joko Widodo, yang dalam Peraturan Presiden Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) Pasal 11 Ayat (3) disebutkan sebagai “pilihan terakhir”.  Arahan Presiden Joko Widodo yang menekankan agar dibuat peta jalan (roadmap) pengembangan energi nuklir disampaikan pada Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) pada 22 Juni 2016.

Rapat pembahasan pembuatan peta jalan pengembangan nuklir diselenggarakan pada Jum’at 15 Juli 2016 di kantor Bappenas dipimpin oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil.  Turut hadir, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto, dan Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana.

Salah satu tema yang dibahas dalam rapat tersebut adalah program Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang merupakan bagian dari pembentukan peta jalan.  DEN meminta pemerintah  membuat peta jalan PLTN walaupun sebagai pilihan terakhir, karena pemerintah perlu mengkaji penyiapan teknologinya, bahan bakarnya, keselamatannya, keekonomiannya, SDMnya, agar Indonesia tidak bergantung pada negara lain. Dan itu berarti  bahwa sampai 2050 tidak akan dibangun PLTN.  Tampaknya pandangan DEN tentang tidak akan dibangunnya PLTN sampai 2050, ditanggapi secara berbeda oleh Menteri ESDM Sudirman Said.

B. Polemik di Seputar Istilah Energi Baru Terbarukan.

Polemik dalam penafsiran tentang istilah antara energi baru dan energi terbarukan tampaknya masih terjadi sampai saat ini.  Menurut Outlook Energi Indonesia (OEI) 2014, yang dimaksud dengan energi baru terbarukan (EBT) adalah energi yang meliputi energi terbarukan (panas bumi, tenaga air, bahan bakar nabati, biomassa, surya, dan angin) dan energi yang tergolong baru bagi Indonesia, diantaranya: nuklir, syngas, dan gas metan batubara.

Menurut penanggap, energi baru terbarukan adalah “energi baru yang terbarukan”. Anggapan bahwa nuklir sebagai energi yang tergolong baru bagi Indonesia tidaklah benar. Mengapa demikian?  “Pada 1965 Bung Karno meresmikan reaktor nuklir di Bandung, kapasitasnya 250 KVA,” kata Menristek Dikti Mohamad Nasir di Puspitek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (7/7/2015) (Perpustakaan Bapeten, http://perpustakaan.bapeten.go.id/?p=570 , diunduh 19 Juli 2016 jam 12:00 wib ).  Anggapan bahwa energi nuklir sebagai energi yang tergolong baru di Indonesia juga merupakan  “pengabaian” atas 41 tahun kegiatan riset maupun produksi radio isotop untuk mendukung riset pangan dan kesehatan yang diselenggarakan oleh Batan sejak 1965.

Jadi, ada dua penyimpangan dalam memaknai istilah EBT, yaitu “penyimpangan terhadap kaidah bahasa Indonesia yang benar” dan “energi nuklir yang dianggap sebagai energi yang tergolong baru di Indonesia.”    Lalu apa yang terlintas dalam pikiran para pejabat sekarang di lingkungan Batan dan ESDM sehingga telah menutup mata terhadap perjalanan jerih payah dan prestasi Batan sejak 1965?  Apakah ada maksud terselubung yang ingin dipaksakan agar dapat masuk ke dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN)?  Penanggap juga sependapat dengan pandangan sejumlah pakar di DEN yang menyatakan bahwa energi nuklir tidak mungkin dibangun sampai tahun 2050 karena tidak tergolong EBT dan merupakan pilihan terakhir.

Penyusunan peta jalan pengembangan nuklir di Indonesia selayaknya tidak memasukkan jalur kajian reaksi fisi (pemisahan inti atom), karena teknologi tersebut telah berumur lebih dari 70 tahun dan tetap berisiko.  Bencana PLTN Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima Daiichi sampai sekarang masih berbahaya karena kebocoran radiasi nuklirnya. Banyak negara maju yang tidak lagi membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) baru jenis fisi.  Negara-negara tersebut hanya mengoperasikan reaktor-reaktornya selama masih memiliki nilai keekonomian.  Data menunjukkan bahwa semakin tua umur reaktor, semakin besar biaya operasionalnya.

Sejumlah besar negara maju telah mengalihkan orientasinya ke pemanfaatan sumber energi-energi terbarukan sejak krisis energi global pertama pada tahun 1973 yang lalu. Tentu saja, tidak dilanjutkannya pembangunan PLTN baru di negara-negara tersebut telah membuat perusahaan pembuat reaktor fisi maupun pelletnya mulai mengalihkan perhatiannya ke negara-negara berkembang di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia.

Di PLTN Indian Point, tidak jauh dari kota New York, pernah dilakukan simulasi evakuasi penduduk yang tinggal di wilayah reaktor tersebut.  Hasil simulasi menunjukkan bahwa target jumlah manusia yang dapat evakuasi dalam target waktu yang ditetapkan tidak tercapai; padahal wilayah tersebut dikelilingi oleh sejumlah highway.  Ternyata kepanikanlah yang telah mengakibatkan banyak terjadi pelanggaran lalulintas sehingga menimbulkan kemacetan.

Di sisi lain, penelitian energi nuklir secara reaksi fusi (menggabungkan inti atom) yang lebih ramah terhadap lingkungan semakin mendekati kesiapannya secara komersial.

C. Prospek Pengembangan Nuklir di Indonesia

Perkembangan ilmu pengetahuan, secara umum dapat dipisahkan ke dalam 4 cabang, yaitu: natural sciences, formal sciences, social sciences, dan applied sciences.   Fisika nuklir adalah tergolong ke dalam applied sciences.

Ada dua jalur di kecabangan teknologi nuklir di dunia.  Energi nuklir yang dihasilkan dengan membelah inti atom atau disebut  fisi nuklir, dan energi nuklir yang dilepaskan melalui penggabungan dua inti ringan menjadi sebuah inti baru yang lebih berat, atau disebut fusi nuklir.

Nuclear-fission-vs-fusion

Fisi Nuklir 

Pemanfaatan energi yang berasal dari pembelahan inti atom, atau fisi, merupakan teknologi yang paling banyak digunakan di dunia saat ini, antara lain sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).  PLTN secara fisi memang tidak secara langsung menebar CO2 , tetapi meninggalkan limbah radioaktif yang berumur ratusan, bahkan ribuan tahun.  Proses pengelolaan limbah tersebut juga sangat mahal biayanya.  Itupun belum terhitung biaya decommissioning dan dismantlingnya setelah tidak beroperasi.  Jadi, dari sisi kepedulian publik terhadap keselamatan, PLTN fisi tidak lagi layak sebagai sumber energi dunia bagi masa depan.

Fusi Nuklir.

Kemajuan terbaru dalam energi tinggi fisika plasma menunjukkan bahwa fusi nuklir – sumber energi dari matahari dan bintang-bintang [1] – dapat memberikan andil besar dari sistem energi yang berkelanjutan di masa depan. Pembangkit listrik tenaga nuklir secara fusi tersebut akan aman dan ramah lingkungan. Lebih jauh,  reaktor fusi akan memiliki persediaan bahan bakar hampir tak terbatas dan terdapat di mana saja di dunia. Pertama, bahan bakar hidrogen isotop yang relatif melimpah. Salah satu isotop yang diperlukan, deuterium, dapat diekstraksi dari air laut.  Sedangkan bahan bakar lainnya, tritium, akan dibesarkan dari selimut lithium menggunakan neutron yang dihasilkan dalam reaksi fusi itu sendiri. Selain itu, reaktor fusi tidak menyebabkan emisi CO2 atau polusi atmosfer.  Kalaupun meninggalkan  limbah radioaktif lainnya, umur radioaktifnya sangat singkat bila dibandingkan dengan limbah radioaktif yang dihasilkan oleh reaktor nuklir fisi.

reacteur_gb

 

International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) sedang dibangun di Cadarache, Perancis.  Reaktor ini akan merupakan reaktor eksperimen fusi terbesar di dunia  ketika selesai dibangun.  Ini adalah hasil upaya kolaboratif dari 6 negara (AS, Jepang, India, Cina, EU, Korea, Rusia).  Sasarannya adalah mendemonstrasikan  kemampuannya membangkitkan daya sebesar 500 megawatt (MW ) dari daya input 50 MW [2].  Reaktor ini direncanakan akan menjadi reaktor fusi pertama sebagai pembangkit listrik.

Diperkirakan PLTN berbasis reaktor fusi ini akan siap secara komersial pada pertengahan abad ke-21, atau pada tahun 2050;  yang berarti hanya tinggal 35 tahun lagi.

D. Kesimpulan

Dari penjelasan tadi, energi nuklir jenis reaksi fisi sebagai pembangkit listrik tidak perlu dimasukkan ke dalam penyusunan peta jalan pengembangan energi nuklir di Indonesia.  Kalaupun tetap dikembangkan di Indonesia, cukup dalam kapasitas daya kecil untuk memproduksi radio isotop, yang banyak digunakan antara lain dalam penelitian benih di sektor pertanian, maupun sebagai nuclear scanner dan pengobatan di bidang kedokteran.

Sebaliknya, fusi nuklir yang pada dasarnya adalah antitesis dari reaksi fisi, selayaknya menjadi poros pengembangan penelitian fusi nuklir di Indonesia karena negara kita dikelilingi laut yang merupakan bahan baku pembuatan isotop deuterium bagi reaktor fusi. Paralel dengan pengembangan penelitianitu, Indonesia perlu mengembangkan penelitian tentang cara memproduksi isotop deuterium yang merupakan hasil ekstraksi air laut.

Dengan ditetapkannya peta jalan pengembangan “energi nuklir secara fusi”, PLTN Fusi dapat menjadi pilihan energi terakhir yang lebih aman serta terjaganya tingkat ketahanan energi nasional Indonesia.  Semoga.

Daftar Referensi:

  1. Bethe H.A.: “Energy production in stars” Phys. Rev. 55 (1939) 434 an references therein.
  2. Reactor Status Updates from FPA Fusion Conference 2015, https://www.21stcenturysciencetech.com/Articles_2016/FusionUpdate.pdf .

Tinggalkan komentar

Filed under Deuterium, Energy Security, Fission Power Plant, Fusion Power Plant, hydrogen, Radioactive waste, Renewable Energy, Tritium

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s