Sistem Energi Transaktif

Transactive Energy Systems

Oleh: Prof. Atmonobudi Soebagio Ph.D.

Guru Besar pada Pascasarjana Teknik Elektro UKI.

 

Energi yang aman, bersih dan efisien adalah salah satu tantangan sosial yang besar pada masa kini.  Listrik sebagai pengusung energi secara berkelanjutan memainkan peran sentral di dalam skenario transisi yang sangat efektif menuju keberlanjutan.

Energi Transaktif yang sedang bangkit sebagai pesaing kuat dalam meng-orkestra-kan pengoperasian terkoordinasi dari begitu banyak peralatan, telah menjadi topik hangat di dunia industri daya listrik dalam 2 tahun terakhir.

Energi Transaktif (ET)

Asal-muasal munculnya ET datang dari meningkatnya keanekaragaman sumber-sumber dan komponen-komponen pada sistem daya listrik serta ketidakmampuan praktik-praktik yang ada dalam mengakomodasi perubahan-perubahan.

ET didefinisikan oleh The GridWise Architecture Council (GWAC) sebagai “suatu sistem dari mekanisme ekonomi dan control yang memberikan keseimbangan dinamik antara suplai dan permintaan di seluruh infrastruktur listrik yang menggunakan nilai (value) sebagai sebuah parameter operasional kunci”.  Integrasi grid memerlukan respon beban dinamik sepanjang 24 jam setiap harinya sehingga dapat ditetapkan dynamic pricing untuk menjadi acuan pelanggan.

Dynamic Pricing

Kata “transaktif” berasal dari pertimbangan bahwa keputusan-keputusan dibuat berdasarkan sebuah nilai.  Keputusan-keputusan tersebut serupa dengan transaksi-transaksi ekonomi.  Singkatnya, ET mengacu pada penggunaan sebuah kombinasi dari teknik ekonomi dan control untuk memperbaiki keandalan dan efisiensi grid.

 

evolution_transactive_energy

 

Mengapa ET menjadi begitu penting?

  • Pelanggan dapat memilih antara memproduksi, membeli, atau menjual energi saat menggunakan proses yang dinamis dan kontrak untuk memutuskan kapan untuk menjual, kapan harus membeli, dan kapan harus menyesuaikan penggunaan energi untuk kepentingan yang paling menguntungkan.
  • Sumber energi bersih di sini untuk tetap tinggal di lokasi pelanggan skala kecil maupun skala besar.
  • Pelanggan dapat memprioritaskan apa yang penting bagi mereka – baik itu biaya, kehandalan, profitabilitas, atau keberlanjutan – dengan menggunakan interaksi energi otomatis.
  • Mikrogrid yang tangguh dalam kecepatan pemulihan dari pemadaman dalam sistem tenaga listrik yang semakin kompleks dan dinamis.

Sedangkan manfaat yang diperoleh adalah:

  • Keandalan: Mengintegrasikan kontrol cerdas dan otomatisasi untuk mengatur energi secara seimbang dan terbarukan.
  • Keterjangkauan: Pelanggan dapat memilih untuk membeli atau menjual energi dengan menggunakan informasi harga demi biaya pengelolaan dan prioritas yang terbaik.
  • Keberlanjutan: mengijinkan modernisasi dengan aman, teknologi-teknologi yang interoperable di saat menggabungkan sumber-sumber energi terbarukan.
  • Efisiensi: Isyarat-isyarat ekonomi untuk energi konvensional dan tersebar mendorong produksi dan pengiriman energi listrik secara efisien dan andal.

Dalam hal privasi, skalabilitas, dan efisiensi, sistem ET memiliki manfaat yang jelas melampaui koordinasi smart grid yang umum. Peluncuran Bali Eco Smart Grid , Kompas Rabu, (1/6/2016), untuk mendukung Bali sebagai kawasan energi bersih, merupakan cikal bakal yang tepat dalam mengawali penerapan ET di Indonesia.  Seperti kita ketahui, smart grid adalah sistem jaringan cerdas yang dapat mengatur pasokan listrik ke pelanggan berdasarkan pemakaiannya dan juga memungkinkan pelanggan memasok listrik ke PLN, misalkan karena memiliki pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sendiri.

Sejarah ET

Sistem ET merepresentasikan sebuah contoh dari kalimat “Yang lama kembali baru”.  Walaupun di banyak industri, konsep-konsep tampak baru dan bahkan radikal, akar-akarnya adalah konsep-konsep yang diusulkan pada tahun 1970-an hingga awal 1980-an oleh Fred Schweppe dan kawan-kawan di MIT di area asal mereka dengan sebutan “homeostatic control”.

Homeostatic Control Mechanism

Di artikel tahun 1978 dengan judul “Power Systems 2000,” Schweppe mendiskusikan strategi control bertingkat untuk sistem daya listrik.  Pada artikel ini, tiga level didefinisikan engan masalah control yang ditujukan pada terminologi-terminologi abstrak sebagai sesuatu yang pergi dari level terendah ke level tertinggi.  Dalam pendekatan ini, peran ekonomi pada control dimasukkan.  Sebagai contoh,  pada pernyataan “Variations in spot price will provide ‘soft ‘ load control.”  Hal ini ada dalam konteks memecahkan ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan.  Schweppe mengantisipasinya  dengan menggunakan dynamic pricing yang dimasukkan sebagai sebuah element dari pendekatan-pendekatan ET sekarang ini.

Pada makalah lanjutannya yang dipublikasikan pada 1980, tim MIT mendefinisikan homeostatic control sebagai “konsep menyeluruh yang mencoba untuk mempertahankan sebuah equilibrium antara suplai dan permintaan,”  sebagaimana pada gambar di atas.

Penutup

Jika Sistem Energi Transaktif diterapkan pada jaringan Bali Eco Smart Grid, pelanggan listrik akan terdorong untuk membangun sendiri pembangkit-pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, walaupun tetap sebagai pelanggan PLN.  Dengan sistem tersebut, para pelanggan dapat menentukan kapan waktu yang baik untuk membeli listrik dari PLN dan kapan  menjual kelebihan listriknya ke PLN. Manfaat keekonomian sistem ini akan semakin terasa, baik oleh PLN maupun pelanggan, bila dilakukan di jaringan listrik Jawa-Bali-Madura secara keseluruhan.

Tentunya, semua itu harus diawali dari keinginan PLN untuk menggunakannya di jaringan Bali Eco Smart Grid.   Semoga.

Daftar Bacaan:

  1. Forfia D., M. Knight, and R. Melton, “The View from the Top of the Mountain,” IEEE Power & Energy, vol. 14, no. 3, May/June 2016, pp. 25-33.
  2. Apostopoulou D., S. Bahramirad, and A. Khodaei, “The Face of Power”, IEEE Power & Energy, vol. 14, no. 3, May/June 2016, pp. 46-51.
  3. GWAC – Knight M., T. Sloan, C. Zichella, “ Tipping Point for Transactive Energy: A Discussion of the Evolving Electric Industry’s Policy and Technical Challenges,” http://www.gridwiseac.org/pdfs/workshop_051215/tipping_point_transactive_energy_gwac.pdf  .
  4. GWAC, “GridWise Transactive Energy Framework Version 1.0,” January 2015.
  5. Kok K., and S. Widergren, “A Society of Devices,” IEEE Power & Energy, vol. 14, no. 3, May/June 2016, pp. 34-45.
  6. KOMPAS, “Kelistrikan: PLN Pastikan Rencana Pembangunan Jawa-Bali Crossing’, Kamis 2 Juni 2016, hal. 24.
  7. Schweppe F.C., “Homeostatic control – Power Systems 2000,” IEEE Spectrum, vol. 15,no. 7, pp. 42-47, July 1978.
  8. Schweppe F.C., R.D. Tabors, J.L. Kirtley, Jr., R. Outhred, F.H. Pickel, and A.J. Cox, “Homeostatic  utility control,” IEEE Trans. Power App.Syst., vol. PAS-99, no.3, pp. 1151-1163, May/June 1980.

 

1 Komentar

Filed under Bali Eco Smart Grid, Homeostatic Control, Smart Grid, Transactive Energy Systems

One response to “Sistem Energi Transaktif

  1. cadangan listrik kita bisa lebih hemat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s