Generasi Y: Apa dan Siapa Mereka?

Generation Y:   What and Who Are They?

Oleh: ATMONOBUDI SOEBAGIO

Belakangan ini semakin kuat percakapan di masyarakat dan dunia kerja tentang “Generasi Y” yang sering juga disebut generasi millennial? Mengapa demikian?  Sebelum membahas tentang generasi tersebut, ada baiknya kita mengenal sebutan dari generasi-generasi sebelumnya.

large-genz20

 

Sekurang-kurangnya ada 4 kelompok generasi sejak awal abad 20 hingga ke tahun 2016 ini. Mereka adalah:

Generasi Tahun Kelahiran
1. Tradisionalis/Senior 1900 – 1945
2. Baby Boomers 1946 – 1964
3. Generasi X 1965 – 1980
4. Generasi Y 1981 – 2000

 

Masing-masing generasi memiliki karakteristiknya sendiri, yang sedikit banyak dipengaruhi oleh kondisi dan situasi dunia pada masa itu.

3d4e08e

Generasi Tradisionalis/Senior:

Generasi ini mengalami sejumlah kondisi yang cukup berat, antara lain: Perang Dunia II, Perang Korea, depresi berat, kebangkitan korporasi, abad ruang angkasa.  Generasi ini dibesarkan oleh orangtua yang baru lepas dari depresi berat.  Mereka mengalami waktu-waktu yang sulit dan disusul dengan dimulainya masa-masa yang menyejahterakan mereka.  Generasi ini juga memperoleh sebutan generasi yang terlupakan.

Generasi Baby Boomers:

Generasi ini mengalami masa perjuangan atas hak-hak sipil, Perang Vietnam, revolusi sex, perang dingin dengan Rusia, dan penerbangan ruang angkasa.  Mengalami rekor tertinggi dalam perceraian dan menjalani pernikahan kedua.  Generasi ini juga tumbuh menjadi generasi yang radikal.

Generasi X:

Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi ini, antara lain: Skandal Watergate, krisis energi, keluarga dengan dua penghasilan, orang tua tunggal, akhir dari perang dingin, serta ibu yang bekerja. Generasi ini tidak dapat bekerja dengan tingkat pendapatan yang setara orang tua mereka.

Generasi-Generasi di Indonesia:

Gambaran yang disampaikan tadi lebih menceritakan kondisi dari generasi-generasi di Amerika Serikat dan negara-negara maju pada umumnya.  Generasi tradisionalis di Indonesia tidak sepenuhnya serupa dengan mereka selama Perang Dunia II, karena pada waktu itu bangsa kita mengalami peralihan dari penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang.  Ketika itu,  generasi tradisionalis Indonesia berusaha keras untuk memerdekakan diri ketika penjajah Jepang sedang terlibat perang dengan penjajah Belanda yang didukung oleh tentara sekutu.

Pasca kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, bangsa ini masih terlibat perang dengan pihak Belanda karena mereka ingin kembali menguasai Indonesia.  Perang gerilya terjadi sebagai  perlawanan terhadap kembalinya penjajahan Belanda.  Begitu juga dengan “perang kota” di Surabaya yang sangat heroik namun menimbulkan korban jiwa yang ribuan jumlahnya.

Tahun-tahun di awal kemerdekaan pun tidak berlangsung lancar dan belum menyejahterakan rakyat.  Konflik yang dipicu oleh perbedaan politik telah menyebabkan terjadinya perang saudara antara sesama anak bangsa.  Konflik politik pun sempat mereda karena pergantian orde kepemimpinan nasional di tahun 1965.  Proses pergantian ini ternyata memakan korban ratusan ribu jiwa berupa pembantaian terhadap masyarakat yang tidak berdosa di sejumlah daerah. Korban-korban tersebut dituduh sebagai antek PKI.  Walaupun reformasi menuju alam demokrasi di tahun 1998 telah mengakhirinya, kasus yang traumatik tersebut tidak  pernah diungkap secara terbuka hingga sekarang; apalagi yang berupa  pernyataan permintaan maaf atas jatuhnya korban jiwa yang tidak bersalah.

 

500_F_41477660_ZsUgL6XeR54vxwVNUbUawqoqfWCYLXmk

Generasi Y:

Generasi yang dilahirkan antara tahun 1981 hingga 2000, tampaknya merupakan generasi yang juga dialami oleh generasi Indonesia.  Generasi ini juga disebut sebagai generasi “millennium” dan “generasi jempolan”.  Generasi ini lahir dan berkembang di saat pesatnya perkembangan media elektronik, digital, serta teknologi pendukungnya.  Namun generasi ini juga mengalami kejadian-kejadian yang mencemaskan, berupa serangan teroris, bom bunuh diri, penembakan di sekolah-sekolah di AS, AIDS, serangan teroris 9/11.  Generasi ini tumbuh dalam suasana yang relatif teduh karena proteksi para orang tua yang sangat mengkhawatirkan keselamatan putra-putrinya terhadap kejahatan kelompok teroris.

Ketika itu, Indonesia juga tidak luput dari serangan teroris berupa bom bunuh diri, seringnya ujuk rasa yang menyebabkan ketakutan dan ketidaknyamanan di luar rumah, maupun sebagai korban penggunaan narkoba yang 5 jutaan jumlahnya.

Walaupun demikian, sejumlah karakter yang positif pun dimiliki oleh generasi ini, antara lain: peduli dengan masalah global, bersikap terbuka dan menerima keanekaragaman, cerdas dan mudah memahami, “knowledge worker”, multi-karir yang menuntut fleksiblitas, peduli akan keselamatan, kolaboratif.  Sayangnya, generasi ini juga berkarakter kurang sabar.

Ada sejumlah situasi yang bisa menyebabkan generasi Y mengalami “turns off”, yaitu: kekakuannya, kekhawatiran akan teknologi, kerja 60 jam per minggu, merasa “kering” bila lingkungannya membosankan, berada di lingkungan kerja yang homogen.  Generasi ini lebih mendahulukan hidup enak, kerja kemudian; sebuah karakter yang berbeda dengan generasi lain yang umumnya mendahulukan kerja, barulah kemudian menikmati  hidup.

 

AAEAAQAAAAAAAAKWAAAAJDc4NzczMjAzLTE2NjEtNGI0Zi04YjZmLTdhM2UxYzBiZmQzNA

Bagaimana Cara Merekrut Tenaga Kerja dari Generasi Y?

Menurut Sujansky dan Ferry-Reed (2009), perusahaan-perusahaan akan terus kehilangan miliaran dollar jika tidak memahami proses rekrutmen yang menarik, mempekerjakan, dan mempertahankan generasi baru yang dinamik ini.  Generasi Y tumbuh bersama teknologi sejak kelahiran mereka.  Mereka hidup dalam dunia virtual yang serentak dengan dunia nyata.  Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi perusahaan-perusahaan untuk berkomunikasi dengan mereka melalui kedua dunia mereka. Iklan sederhana tentang lowongan kerja yang dimuat di website tidak cukup bagi generasi ini.  Rekrutmen perlu digerakkan oleh suatu strategi pemasaran dan kebutuhan teknologi yang menjadi salah satu alat yang harus dimiliki pemberi kerja.

Beberapa perusahaan menyebarkan cerita tentang perusahaan mereka lewat “blogosphere” dan jaringan media sosial, atau mengiming-imingi generasi Y ini  dengan berbagai permainan di internet yang menarik agar pelamar yang potensial masuk ke dalam website perusahaan (Tulgan, 2009).  Generasi Y adalah kelompok yang mengerti teknologi dan suka melamar kerja secara langsung dan mengharapkan jawaban secepatnya.  Oleh karena itu, adalah penting untuk melakukan proses rekrutmen secara online.  Website perusahaan pun harus menarik, ringkas, dan tidak bertele-tele.

Ada delapan faktor, menurut Tulgan, yang dicari generasi Y untuk bekerja:

  1. Kompensasi berdasarkan prestasi.
  2. Jadwal yang fleksibel.
  3. Lokasi yang fleksibel.
  4. Keterampilan yang dapat dijual.
  5. Akses ke pengambil keputusan.
  6. Penghargaan atas hasil yang dicapai.
  7. Lingkup tanggung jawab yang jelas.
  8. Peluang untuk mengekspresikan kreatifitas.

Dengan menawarkan delapan butir di dalam proses rekrutmen, pemberi kerja akan memiliki peluang yang lebih baik dalam menarik pencari kerja dari generasi Y. Karena generasi Y juga tertarik pada etika, Dolcey (2010)  menganjurkan agar pemberi kerja mencantumkan etika, tata nilai, dan misi perusahaannya secara online.

Sumber Bacaan:

  1. Sujansky J., Ferry-Reed J. (2009), Keeping the millennials: Why companies are losing billionsin turnover to this generation-and what to do about it, New Jersey, John Wiley & Sons, Inc.
  2. Tulgan B. (2009), Not everyone gets a trophy: How to manage generation Y, California, Jossey-Bass.
  3. Dolcey J.R. (2010), Y-size your business: How gen Yemployees can save you money and grow your business, New Jersey, John Wiley & Sons, Inc.

 

2 Komentar

Filed under Generation Y

2 responses to “Generasi Y: Apa dan Siapa Mereka?

  1. I’m proud to be one of them.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s