18 Hasil Kesepakatan Bisnis antara Indonesia dan AS

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat, Oktober 2015, telah menghasilkan kesepakatan bisnis senilai US$ 20 Miliar di AS.

https://t.co/4u5Y9wXSvb  .

Berikut ini 18 kesepakatan bisnis tersebut dan nilai investasinya:

  1. Perjanjian jual beli gas alam cair (LNG) antara Pertamina dengan Corpus Christie Liquefaction senilai US$ 13 miliar.
  2. Phillip Morris berkomitmen ekspansi hingga 2020 dengan rencana investasi mencapai US$ 1,9 miliar.
  3. Coca Cola investasi US$ 500 juta untuk perluasan dan penambahan produksi, pergudangan, distribusi, dan infrastruktur minuman ringan (2015-2018).
  4. Pengembangan lahan “shale gas” Eagle Ford, Fasken antara Saka Energi dengan Swift Energy di Webb County, Texas seniai US$ 175 juta.
  5. PT PLN (Persero) Gorontalo dengan General Electric bersepakat membangun turbin gas dan cydepower berkapasitas 100 MW di Gorontalo senilai US$ 100 juta.
  6. Kerjasama Universitas Udayana dengan Skychaser Energy untuk konservasi air dan reduce power consumption senilai US$ 30 juta.
  7. BNI Syariah dengan Master Card meluncurkan kartu debit haji dan umroh.
  8. PT PLN (Persero) dengan UPC Renewables sepakat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (angin) berkapasitas 350 MW (2015-2018).
  9. Cikarang Listrindo dengan General Electric sepakat memperluas pembangunan pembangkit listrik (IPP) senilai US$ 600 juta.
  10. PT Indonesia Power dengan General Electric sepakat membangun pembangkit listrik di Jawa Tengah berkapasitas 700 MW senilai US$ 400 juta.
  11. PT PLN (Persero) dengan General Electric sepakat investasi US$ 525 juta untuk membangun pembangkit bergerak (mobile) berkapasitas 500 MW di Mataram, Bangka, Tanjung Jabung, Pontianak, Lampung dan Sei Rotan.
  12. PT Kereta Api Indonesia dengan General Electric sepakat investasi US$ 60 juta untuk perawatan 50 lokomotif selama 8 tahun.
  13. PT PLN (Persero) dengan Caterpillar sepakat investasi US$ 500 juta untuk proyek pembangkit tenaga hybrid dan Proyek Solar PV energy storage untuk microgrid di 500 pulau terpencil dengan kapasitas total 2 Giga Watt (GW).
  14. Cargill berkomitmen memperluas investasinya di Indonesia hingga 2019 dengan nilai sebesar US$ 750 juta.
  15. Perum PERURI dengan Crane Currency sepakat untuk membangun pabrik pengaman uang kertas di Karawang senilai US$ 10 juta.
  16. Perum PERURI dengan Jarden Zinc sepakat membangun pabrik di Karawang senilai US$ 30 juta.
  17. PT Pertamina (Persero) dengan Bechtel Corporation sepakat membangun dan mengembangkam kilang selama lima tahun dengan nilai transaksi US$ 800 juta.
  18. Kilat Wahana Jenggala dengan Hubbell Power Systems sepakat berekspansi pada pabrik insulator transmisi polymer untuk distribusi listrik, dengan kisaran investasi US$ 5 – US$ 10 juta.

Berita terkait  18 butir kesepakatan bisnis yang berhasil Presiden Joko Widodo dapatkan bisa dilirik di website Gedung Putih:

Joint Statement by the United States of America and the Republic of Indonesia can be read in:

https://www.whitehouse.gov/the-press-office/2015/1026/joint-statement-united-states-america-and-republic-indonesia  .

TANGGAPAN:

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke AS, yang sempat dikritik karena negara sedang mengalami bencana asap yang semakin meluas, telah dipersingkat dan segera kembali ke tanah air.  Walaupun demikian, kunjungannya yang relatif singkat tersebut membuahkan hasil berupa sejumlah kesepakatan kerjasama, dan beberapa diantaranya memang untuk proyek-proyek yang sangat penting dan bersifat mendesak untuk dibangun.

Tekad Kabinet Kerja untuk mencapai target energi listrik 35.000 MW tampak dari sejumlah kesepakatan kerjasama membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.  Dan pilihan energi tersebut konsisten dengan tekad beliau untuk secepatnya mengakhiri ketergantungan negara ini pada energi fosil.  Di samping itu, hanya dengan energi-energi tersebut dapat dibangun pembangkit listrik dari skala daya kecil hingga ke daya besar, sesuai dengan luas pulau dan jumlah penduduknya. Juga energi-energi terbarukan ini cocok untuk desa-desa terpencil, maupun yang terisolir secara geografis, sehingga jauh dari jangkauan jaringan listrik.

Semoga kesepakatan tersebut segera ditindaklanjuti dengan langkah kongkrit pembangunannya.

Atmonobudi S.

Tinggalkan komentar

Filed under Independent Power Producers (IPPs), Liquefied Natural Gas, Mobile Power Plants, Photovoltaics, Shale Gas, Wind Generators

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s