Reductio ad Absurdum dalam Kontroversi PLTN

Reductio ad Absurdum within Nuclear Power Plant Controversy

Oleh: LIEK WILARDJO

Mario Teguh dalam acara “Golden Ways“-nya me-rekacipta istilah “laki-laki kursi goyang”, yakni lelaki yang memberikan pesan dan kesan seakan-akan serius dalam hubungan percintaannya dengan pacarnya, tetapi tidak kunjung memastikan kesungguhannya itu dengan melamarnya secara resmi di hadapan orang tua sang pacar.  Saya juga punya istilah yang serupa tapi tak sama, yakni “kadi kursi goyang”. Kadi kursi goyang ialah orang yang mengangkat dirinya sendiri menjadi hakim, lalu membuat keputusan atas suatu hal atau perkara dari kejauhan, dari posisi yang nyaman dan aman. Keputusannya itu, kalau tidak dapat dipaksakannya lewat kekuasaan dan wewenang formalnya, ya dilontarkannya, ke ranah publik.  Biasanya disertai argumentasi a la pokrul bambu yang mengarah ke debat kusir.

Yang termasuk dalam kategori kadi kursi goyang ialah orang yang bilang bahwa SUTET (saluran udara tegangan ekstra tinggi) tidak berbahaya karena tidak ada risikonya terhadap kesehatan, tetapi ia emoh tinggal di rumah yang di atas atapnya dilintasi rentangan SUTET.  Kadi kursi goyang (kakurgoy) juga adalah pejabat tinggi di bidang kependudukan dan lingkungan hidup (KLH) yang menyatakan bahwa tidak ada cemaran air raksa (Hg) di perairan teluk Buyat di dekat tmbang emas Newmont, tetapi ketika meninjau kawasan itu dan disuguhi goreng ikan tangkapan dari teluk itu, ia tidak berani menyantapnya. Kilahnya berupa reduksi dan simplifikasi yang ekstrem, sampai kebablasan menjadi reduksionisme atau reductio ad absurdum.  Ini juga disebut “reductio ad impossibile“. Perkara yang berat dan gawat dianggap enteng dan bahkan ditampilkan sebagai hal yang remeh-temeh, sehingga ¾ kalau dicermati secara logis ¾ menjadi mustahil. Masuk akal saja tidak, apalagi benar secara empiris-faktual. 

Momok Radiasi

Misalnya ada pernyataan ahli nuklir pro PLTN bahwa mereka yang anti PLTN, baru mendengar kata “radioaktif” saja sudah ketakutan bukan buatan. Padahal merasa takut itu manusiawi. Takut terhadap risiko musibah pelelehan teras dan sindroma China dari PLTN beserta “maut”-nya radiasinya justru rasional dan realistik!

Ada pula ahli nuklir yang mengatakan : “Kenapa takut kepada radiasi, wong setiap hari kita mendapat paparan radiasi cahaya matahari?” Reduksi dan simplifikasinya ialah menyamakan sinar radioaktif dengan sinar matahari. Memang kedua-duanya diradiasikan dari sumbernya. Tetapi sinar radioaktif dari PLTN bersumber pada sibir-sibir belahan (fission fragments) bahan-bakar nuklir (BBNu) bekas, sedang sinar matahari bersumber di Matahari.  BBNu-bekas itu terestrial, ada di lingkungan kita, sedang Matahari ekstra-terestrial, berada jauh dari Bumi.

Kedua radiasi itu memang juga sama-sama nuklir, artinya berasal dari inti (nucleus) atom. Tetapi radiasi dari PLTN terjadi sebagai akibat proses pembelahan inti (nuclear fission), sedangkan radiasi Matahari akibat proses pemaduan inti (nuclear fusion).

Sudah jutaan tahun radiasi Matahari terbukti merupakan berkat yang menghidupi makhluk di Bumi, sedangkan radiasi dari PLTN, meskipun ada manfaatnya (misalnya penggunaan radioisotop dalam radioterapi tumor ganas), banyak mudaratnya. Tanyakan saja kepada kurban-kurban yang masih sintas (tetapi sangat sengsara) di Chernobyl dan di Fukushima.

Baik radiasi dari PLTN, maupun dari Matahari, juga sama-sama berpotensi menyebabkan kanker. Tetapi bandingkan intensitas dan dosis paparan radiasi. Matahari yang menyebabkan kanker dan kuantitas cemaran radioaktif yang juga “menjamin” terjadinya kanker.  Radioaktivitas dan radiotoksisitas radioisotop plutonium-239, misalnya, sedemikian “ndrawasi“-nya, sehingga cukup 10 mikrogram saja untuk memicu kanker. Padahal Pu-239 terdapat dalam BBNu-bekas dari PLTN, dan sedemikian “bandel“-nya, sehingga berbahaya sampai puluhan (bahkan ratusan) ribu tahun.

Mengolah Itu Mudah?

Kaum pro-PLTN Indonesia dengan entengnya bilang bahwa kita punya BBNu, berupa bahan-bakar terbelahkan (fissile) dan bahan-bakar  subur (fertile), yakni uranium dan torium, yang cadangannya cukup untuk memenuhi kebutuhan energi  nasional sampai beratus-ratus tahun.  Simplifikasi lagi! Seolah-olah mengeksploitasi cadangan BBNu itu, mengekstrasinya dari bijihnya, dan mengolahnya sampai siap-pakai di situas PLTN, semudah membalikkan telapak tangan.

Juga ada ahli nuklir, pro PLTN yang menafikan sebutan “limbah nuklir”. Katanya, yang lebih tepat ialah istilah “bahan-bakar masa depan.” Memang, sih, secara teoretis BBNu-bekas dapat diolah (diproses) atau didaur-ulang menjadi BBNu yang “sudah terbarukan”.   Simplifikasi ekstrim! Tanyakan saja kepada PM Abe dari Jepang, yang ahli-ahli nuklirnya sudah bekerja keras melakukan penelitian untuk mengolah ulang BBNu bekas dan PLTN-nya, selama puluhan tahun, dan belum kunjung berhasil. Pengolahan-ulang tidak gampang!

Ada klasifikasi yang menjadikan sumber daya energi  nuklir “seombyok” dengan air, BBN(abati), cahaya Matahari, dsb di bawah nomenklatur EBT (Energi  Baru/Terbarukan). Sebutan ini (celakanya ada dalam KEN, ¾ PP No. 79 Th. 2014 tentang Kebijakan Energi  Nasional) rancu, atau setidak-tidaknya ambigu (ambiguous). Pengolahan-ulang limbah PLTN TIDAK memulihkan sibir-sibir belahan uranium-235 menjadi inti U-235 lagi.  Jadi, sebutan “terbarukan” (renewable) itu tidak “pas”.  Yang benar ialah bahwa pengolahan-ulang (reprocessing) itu mengekstrasi BBNu fisil yang terbiakkan di dalam reaktor.

Yang Rusak dan Pensiun

Juga dihembus-hembuskan kesan seolah-olah pengelolaan limbah dan “decommissioning” tapak PLTN yang sudah pensiun adalah perkara yang mudah dan murah. “Decommissioning” ialah membersihkan dan memulihkan tapakPLTN itu sampai sama dengan sedia-kala.  Ini pekerjaan yang sulit, makan waktu dan biaya yang besar, dan berisiko. Sudah lebih dari 4 tahun “decommissioning” dilakukan di tapak PLTN Fukushima yang mengalami musibah parah, tokh belum baris juga.  Padahal ahli-ahli nuklir Jepang jauh lebih jagoan dan lebih berpengalaman daripada ahli-ahli nuklir kita. Lagi pula mereka memiliki jiwa samurai dengan semangat bushido, sehingga rela dan tulus-ikhlas berjibaku demi kepentingan publik!  Sedangkan kita???

___________________

Prof. Dr. Liek Wilardjo adalah Fisikawan, dan Guru Besar Emeritus di UKSW.

Tinggalkan komentar

Filed under Fukushima Nuclear Power Plant, Nuclear Power Plants, Nuclear Risks Issues

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s