TENAGA NUKLIR: PLTN Dinilai Ancam Kemandirian

NUCLEAR ENERGY: Nuclear Power Plants Threaten (Our) Independency

JAKARTA, KOMPAS – Rencana pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir dinilai mengancam kemandirian bangsa. Sebab, Indonesia masih belum memiliki industri berpengalaman dalam pemanfaatan tenaga nuklir, mulai dari desain hingga operasional rutin PLTN.

“Dengan PLTN, kita akan bergantung luar negeri karena belum ada industri nasional berpengalaman,” kata Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, di Jakarta, Senin (25/5).

Fabby menuturkan, karena berisiko tinggi, industri yang terlibat dalam pembanguna PLTN harus yang sudah berpengalaman, sedangkan di Indonesia belum ada perusahaan nasional yang pernah terlibat. Ia mencontohkan, untuk bejana reaktor saja, hanya 2-3 perusahaan di dunia yang mampu membuat, salah satunya Nippon Steel and Sumitomo Metal.

Kemampuan produksi bahan bakar nuklir berupa uranium pun hanya dikuasai 4-5 perusahaan di dunia. Bahkan, pengisian bahan bakar setiap 18 bulan, pengolahan limbah, dan transportasi bahan bakar sama taka da perusahaan nasional memilikim kualifikasi. “Dengan demikian, karena sepenuhnya bergantung asing, Nawacita Presiden Joko Widodo tentang kemandirian bangsa tidak tercapai jika membangun PLTN,” ujarnya.

Sonny Keraf, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Unsur Pemangku Kepentingan Bidang Lingkungan, menambahkan, berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, nuklir merupakan alternatif paling terakhir untuk pemenuhan kebutuhan energi. Jika pemerintah tetap mendorong pengembangan PLTN, sedangkan potensi sumber energi lain masih melimpah, pemerintah melanggar kesepakatan PP yang juga melibatkan DPR.

Menurut Sonny, yang seharusnya dapat prioritas pengembangan adalah sumber energi baru dan terbarukan karena potensinya masih sangat besar dan ramah lingkungan. Sumber energi itu antara lain air yang menyimpan potensi 75 gigawatt (GW), matahari (112 GW Peak), panas bumi (28,8 GM), angin (950 GW), biomassa (32 GW), bahan bakar nabati atau biofuel (32GW), dan energi arus laut (60 GW) (Kompas, 18/4). Di sisi lain, pengembangan energi baru dan terbarukan bisa membangkitkan kemandirian bangsa. Sebab, melipatkan lebih banyak masyarakat dalam produksi. “Jika membangun PLTN, orang yang terkibat sedikit dan sebagian besar asing, sedangkan biofuel dan biomassa misalnya, bisa melibatkan banyak petani untuk menanam tanaman sumber energi,” ujar Sonny. (JOG)

Sumber: Kompas, Selasa, 26 Mei 2015, hal. 14.

Tanggapan:

Pendapat senada tentang penolakan atas dasar risiko yang dapat terjadi, dapat dibaca pada:

https://atmonobudi.wordpress.com/2015/04/14/tenaga-nuklir-harus-menjadi-pilihan-haruskah-itu/#more-2820 .

Tinggalkan komentar

Filed under Bio-fuels, Energi Biomassa, Energy Sovereignty, Geothermal Energy, Natural Resources, Nuclear Power Plants, Nuclear Risks Issues, Renewable Energy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s