Tenaga Nuklir Harus Menjadi Pilihan; Haruskah itu?

Nuclear Energy Should Be a Choice; Should It be?

Oleh: ATMONOBUDI

Pemberitaan Kompas, Senin 13 April 2015 hal. 18, dengan judul ‘Tenaga Nuklir Harus Menjadi Pilihan’ menyebutkan bahwa tenaga nuklir harus menjadi pilihan bagi Pemerintah sebagai salah satu sumber energi listrik selain energi fosil.

Betulkah itu merupakan keharusan, padahal Peraturan Pemerintah  No.79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional secara jelas dan tegas menempatkannya sebagai pilihan terakhir?

Tulisan ini merupakan tanggapan atas pemberitaan di atas, mengingat masalah krisis energi telah mendunia sejak tahun 1970-an, dan sangat dirasakan oleh negara-negara yang tidak memiliki sumber energi fosil sendiri.  Sementara itu, kewajiban bagi setiap negara untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup telah menjadi komitmen bersama di bawah koordinasi PBB.

Tragedi Yang Dialami Sejumlah PLTN.

Sejak terjadinya tragedi PLTN Three Mile Island pada tahun 1979,  pemerintah AS memutuskan tidak lagi membangun PLTN baru.  Jumlah PLTN di AS ketika itu 112 buah. Setelah terjadinya tragedi PLTN Fukushima pada bulan Maret 2011, pemerintah Jepang memutuskan untuk menghentikan semua PLTN-nya, dan baru mengijinkan kembali beroperasi setelah setiap PLTN lolos uji kelayakan yang semakin ketat regulasinya. Pasca bencana PLTN Fukushima, pemerintah Jerman langsung  menghentikan operasi 8 dari 17 reaktornya secara permanen dan akan dihentikan seluruhnya  sebelum tahun 2022.

Dampak Sebaran Radioaktiv PLTN Chernobyl

Meledaknya PLTN Chernobyl pada tanggal 25 April 1986 yl, telah melepaskan sejumlah besar unsur radioaktiv hingga ke daratan Eropa Barat. Dampak  sebaran radiasi bocor dari PLTN Chernobyl antara lain adalah:

  • Dari 650.000 orang, yang disebut “liquidators” karena ikut serta dalam pembersihan secara dadakan, kira-kira 5.000 hingga 10.000 di antara mereka meninggal secara dini karena terkena radiasi (Medvedev G., The Truth about Chernobyl, New York, Basic Books,1991).
  • Ladang gandum seluas 100.000 mil persegi di Ukraina dan Belarus telah terkontaminasi dan masih akan berlangsung ribuan tahun karena setengah umur isotop Plutonium Pu-239 yang lamanya 24.000 tahun.
  • Partikel radioaktif telah jatuh ke wilayah Austria, Bulgaria, Cheko dan Slovak, Finlandia, Perancis dan Jerman. Juga telah menyebar ke Kanada, Amerika Serikat, serta hampir seluruh negara di belahan utara.  Karena Cesium-137 dan beberapa isotop lainnya, seperti Strontium-90 dan Plutonium-239, memiliki setengah umur yang panjang maka beberapa bahan pangan di Eropa  diperkirakan akan terkontaminasi selama ratusan tahun ke depan.
  • Inggris, yang jaraknya sekitar 2.400 kilometer dari lokasi PLTN Chernobyl, ditemukan 226.500 ekor domba pada  382 peternakan yang telah terkontaminasi Cesium-137 . Keadaan ini diketahui dari daging potong yang berasal dari peternakan tersebut.
  • Rusa besar (reindeer) di wilayah Scandinavia juga terkontaminasi Cesium-137 setelah terjadi ledakan di Chernobyl.

Akan tetapi, baru di tahun 2005 (19 tahun kemudian)  International Atomic Energy Agency (IAEA) membuat laporan tentang PLTN Chernobyl kepada PBB yang menyebutkan bahwa kecelakaan tersebut hanya mengakibatkan kematian  56 orang saja. Jelas bahwa laporan tersebut telah mengabaikan jumlah korban radiasi yang meninggal pada tahun-tahun berikutnya.  Selisih waktu antara saat ledakan reaktor dengan saat mereka  meninggal sangat berkaitan dengan perbedaan tingkat radiasi yang dialami korban  dan  ketahanan fisik mereka.

World Health Organization (WHO) memilih ‘diam’ karena pada tanggal 28 Mei 1959 telah menandatangani perjanjian dengan IAEA, yang implikasinya membuat WHO tidak melakukan kajian ilmiah tentang kesehatan masyarakat  di sekitar PLTN tersebut. Tampaknya  masalah kesehatan akibat “radiasi nuklir” pasca ditandatanganinya perjanjian tersebut adalah menjadi urusan IAEA. Conflict of interest IAEA juga tampak pada saat IAEA mengeluarkan pernyataannya tentang kecelakaan PLTN Fukushima I yang radiasi bocornya dikatakan “tidak berbahaya”. (Suara Pembaruan, Sabtu 19 Maret 2011, hal. 1) Dua puluh lima tahun (2011) setelah kecelakaan nuklir yang terburuk dalam sejarah ini, ada sekitar 6 juta penduduk yang tinggal di daerah yang terkontaminasi radiasi nuklir.  Kegiatan ekonomi daerah setempat menjadi stagnan, dan 3 negara (Ukraina, Belarus, dan Russia) telah mengeluarkan dana milyaran dollar untuk mengatasi efek radiasi di daerah tersebut.  Masalah kesehatan yang bersifat kronik, khususnya di kalangan anak-anak, telah merajalela. Cacat genetika yang dialami bayi-bayi yang lahir di daerah ini pada tahun-tahun setelah kecelakaan ternyata terbukti. (Caldicott, 2006) Saat ini, ratusan juta euro diperlukan untuk membungkus PLTN Chernobyl di tengah kekhawatiran akan kebocoran radiasi lain yang berpotensi menimbulkan bencana.

Pada sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan di Kiev , 19 April 2011, telah terkumpul dana sebesar US$ 788,- juta, dari US$ 1,- milyar yang diperlukan untuk mendanai proyek  pembangunan kubah baja untuk “membungkus situs” reaktor PLTN Chernobyl, agar dapat kedap tanpa kebocoran selama puluhan tahun.   Menurut Presiden Ukraina, Victor Yanukovich,  sumbangan tersebut adalah upaya yang bisa dilakukan bersama dan masih bersifat awal (Suara Pembaruan, 21 April 2011, hal. 15).

Potensi Uranium Indonesia 70.000 ton?

Menurut Kepala BATAN, Djarot Sulistyo  Wisnubroto, Indonesia mempunyai potensi uranium sebanyak 70.000 ton untuk bahan baku nuklir sebagai energi listrik.  Juga disebutkan bahwa untuk PLTN berukuran 1.000 megawatt diperlukan uranium yang telah diperkaya sebanyak 22 ton dalam setahun. Dari sejumlah literatur, uranium biasanya terdapat di antara deposit logam tanah jarang (LTD).  Konsentrasinya sangat rendah, bahkan ada yang konsentrasinya hanya 0.04% di batuan granit.  Ini berarti bahwa dari 1,0 ton batu granit hanya akan diperoleh sekitar 400 gram uranium.  Jika memang betul potensi uranium di tanah air adalah 70.000 ton, tentunya akan sangat luas kerusakan di  lingkungan penambangannya. Kalau memang betul potensi uranium Indonesia sangat besar dan akurat datanya, tentunya AREVA sudah sejak puluhan tahun yang lalu mengincar Indonesia, sebagaimana PT. Freeport di Papua. Di samping itu, semakin tua umur PLTN, semakin besar overhead cost-nya.

Biaya decommissioning dan dismantling yang dilakukan pada saat PLTN telah mengakhiri pengoperasiannya, maupun karena mengalami bencana, adalah sangat mahal.   Demikian juga dalam hal luas lahan yang digunakan oleh sebuah PLTN. Atas pertimbangan sekuriti, luas lahan PLTN akan jauh lebih besar dari pada lahan yang digunakan pembangkit listrik jenis lain yang sama dayanya. Dan seluruh biaya tersebut  merupakan komponen yang dimasukkan ke dalam tarif listrik dan menjadi beban pelanggan.

“Mengapa proses merebus air yang hanya untuk menghasilkan uap penggerak turbin, kita harus menggunakan teknologi yang sophisticated dan bersifat radioaktiv?”

Jadi, selama kemampuan masyarakat utk membayar tagihan listrik masih rendah, maka pemilihan jenis pembangkit listrik yang sophisticated, antara lain PLTN, merupakan pilihan terakhir; disamping risiko kebocoran radioaktivnya yang menimbulkan ribuan korban karena telah mengonsumsi produk pertanian dan daging hewan ternak yang terkontaminasi.

Munculnya teknologi battery pack kapasitas daya besar.

Pada tanggal 30 April 2015, perusahaan Tesla Powerwall telah meluncurkan paket battery kapasitas 10 KWh seharga US$ 3.500,- /paket.  Teknologi ini menjadi sangat menarik bagi kalangan rumah tangga di AS yang konsumsi listriknya secara rerata sebesar 909 KWh/bulan.  Semakin besar peluang bahwa teknologi battery ini akan semakin murah biaya produksinya.

Industri mobil-mobil listrik akan berkembang pesat dengan lahirnya kemasan battery yang semakin ramping, namun mampu menyimpan energi listrik yang semakin besar Dalam peluncuran produk home battery tersebut, juga disebutkan bahwa kini terbuka peluang perkembangan paket teknologi sel matahari yang menggunakan battery tersebut dalam skala yang lebih besar, sehingga dapat dibangun secara off-grid, dan menyusul kemudian secara on-grid.

Tampaknya peluncuran teknologi battery  tersebut merupakan ancaman serius terhadap eksistensi  PLTN sebagai pembangkit listrik dalam waktu dekat ini.

Tinggalkan komentar

Filed under Nuclear Risks Issues

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s