Bioetanol Singkong Diminati Asing

Cassava Bioethanol Demand Foreign Countries.

Bogor (Harian Nasional, 27/9/14) —  Masyarakat Singkong Indonesia mengatakan, permintaan singkong sebagai bioetanol oleh negara asing cukup tinggi.  Namun petani belum mampu memenuhi permintaan tersebut.

“China sudah minta 50 ribu ton per bulan, tetapi kita belum bisa menyanggupi karena untuk menyediakan 10 ribu ton per bulan kita susah mengumpulkannya,” kata Ketua Masyarakat Singkong Indonesia Suharyo Husen di Bogor, Jawa Barat, Jum’at (26/9).

Selain China, kata Husen, India juga mengajukan permintaan 150 ribu ton per bulan dan rencananya pembeli dari negara tersebut akan datang ke Indonesia Oktober mendatang.

Husen mengatakan, produksi singkong Indonesia rata-rata 22 ton per hektare dengan luas lahan yang tersedia 1,1 juta hektare (BPS 2013).  Jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun permintaan luar.

Menurut dia, petani singkong di Indonesia masih didominasi petani kecil dan tersebar di sejumlah wilayah dengan ukuran lahan yang tidak terlalu besar.  Selain itu, serangan hama dan alih fungsi kebun singkong menjadi perumahan merupakan faktor penghambat produktivitas singkong dalam negeri.

“Solusi agar permintaan luar negeri untuk bioetanol singkong terpenuhi dengan menerapkan pola klaster,” kata Husen.

Masyarakat Singkong Indonesia saat ini menyiapkan lahan untuk memenuhi permintaan dari Indiia, terutama di wilayah Timur Indonesia seperti di Luwu Timur, Sulawesi Selatan seluas 150 hektare, banggai, Sulawesi Tengah seluas 50 ribu hektare, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur seluas 30 ribu hektare, dan Lampung 20 ribu hektare.  [ANTARA]

Komentar:

Berita tentang permintaan singkong (cassava) oleh negara lain sebagai bahan baku bioetanol merupakan berita yang menggembirakan bagi para petani singkong.  Seharusnya, berita ini juga menjadi berita yang akan men-trigger Pemerintah.  Mengapa demikian?

Indonesia telah mengalami krisis bahan bakar fosil, d.h.i. BBM dan BBG (LPG) sejak tahun 1980-an, disamping karena subsidi BBM yang semakin membebani Pemerintah juga karena terkait dengan stock yang menipis, mengingat meningkatnya kebutuhan akan bahan bakar tersebut.  Sejauh ini bio-premium maupun bio-solar yang dijual di sejumlah SPBU hanya mengandung bio-fuel 2% saja.  Jadi 95% masih berupa premium dan minyak solar yang berasal dari fosil.  Dengan kata lain, bio-fuel selama ini hanya sebagai additive saja.  Seharusnya persentase bio-fuel lebih besar dari pada fossil-fuel dalam campuran tersebut, sehingga SPBU layak menyebutnya sebagai bio-premium maupun bio-solar.

Alangkah baiknya apabila Pemerintah  mendorong BUMN maupun sektor swasta untuk segera memproduksi bio-etanol, agar ketergantungan kita terhadap fossil-fuel dapat dihindari.  Bukankah kerjasama antara Masyarakat Singkong Indonesia dengan industri bioetanol di dalam negeri akan memberikan added value yang lebih besar dari pada hanya mengekspornya sebagai bahan mentah?  Tentunya harga beli dari para petani singkong cukup menarik agar industri bioetanol dalam energi tidak mengalami krisis bahan baku karena bisnis pertanian singkong selalu menarik bagi para perani.

Ijin pembukaan lahan baru bagi perkebunan kelapa sawit untuk memproduksi bio-solar sebaiknya tidak dilanjutkan, karena minyak kelapa sawit tidak akan mampu menggantikan seluruh kebutuhan minyak solar dalam negeri; apalagi bila sebagian dari produksinya diekspor. Sebaliknya, berdasarkan data NREL, budi daya ganggang laut (algae) lebih mencerahkan untuk pengembangan bisnis bio-diesel (atau bio-solar) karena mampu dipanen sebenyak 130.000 – 143.000 liter/hektare/tahun, sedangkan minyak kelapa sawit hanya 5.900 liter/hektar/tahun. Dengan luas laut Indonesia yang sebesar 85% dari luas total Indonesia, serta panjang pantai yang 81.000 km, minyak bio-diesel dari ganggang laut sanggup menggantikan seluruh kebutuhan minyak solar yang berasal dari fosil.

Untuk mengubah mindset yang selama ini hanya berorientasi ke daratan saja, kita memerlukan Revolusi Mental. Perlu disadari, bahwa prediksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2050 akan mencapai 427 juta jiwa. Ketika itu, tarik menarik kepentingan dalam penggunaan wilayah daratan (yang hanya 15%) antara pertanian dengan perumahan akan sangat kuat.

4 Komentar

Filed under Bio-ethanol, Bio-fuels, Cassava, Ethanol, Renewable Energy, Revolusi Mental

4 responses to “Bioetanol Singkong Diminati Asing

  1. apakah bioetanol singkong ini sudah banyak yang menggunakanya di indonesia?

    • Dear Pak Ahmad.

      Saya tidak memiliki data produksi bioetanol dari singkong secara nasional. Sejauh yang saya ketahui, bioetanol lebih banyak dihasilkan dari molase (tetes tebu), yang merupakan produk sampingan dari pabrik gula tebu. Di samping itu molase masih mengandung gula dalam kadar yang cukup tinggi (walaupun tidak dapat diproduksi menjadi gula) sehingga dapat diproses menjadi bioetanol secara langsung.

      Bioetanol yang diproduksi dari singkong, atau tanaman umbi pati2an lainnya, perlu dihidrolisis lebih dahul sebelum diproses menjadi bioetanol.

      Kebutuhan nasional akan bioetanol berkisar 30.833.000 liter/bln. Yang diproduksi secara nasional hanya mampu menyuplai 137.000 liter/bulan, atau 0.4%. Dan itu dilakukan oleh PT Molindo Raya Industrial.

      Bioetanol banyak digunakan sebagai campuran bensin dalam fungsinya untuk menaikkan bilangan octane bensin tersebut. semakin tinggi bilangan octanenya, semakin sempurna pembakarannya di mesin kendaraan/motor.

      Demikian informasi yang dapat saya sampaikan.

      Salam,
      Atmonobudi S.

  2. Suroto

    Saya tertarik membudidayakan singkong skala kecil, untuk luasan area pedesaan yang tidak produktif, dengan mengajak masyarakat menggerakan perekonomian di sektor ini. apakah tidak memungkinkan pembudidayaan mikroalga didaratan? Saya harap para aktivis teknologi dalam negeri bersedia menelitinya lebih jauh. kenapa ya mas negara kita selalu ketinggalan terus di banyak bidang dibandingkan negara lain. Ironisnya justru memiliki ketergantungan dengan negara yang nota bene sama2 negara berkembang.

    • Dear Bapak Suroto.

      Mohon maaf karena baru sekarang sempat membalas Bapak.

      Mikroalga, walaupun ada jenis yang bisa dibudidayakan di air tawar, memang dapat dilakukan di daratan. Saya lebih menyarankan dgn budidaya di pantai dalam bentuk tambak. Problem pembudidayaan di daratan adalah perlunya air bersih dan karena kebutuhan air tawar cukup banyak, maka bisa mengganggu cadangan air tawar di sumur2 penduduk.

      Untuk lebih jelasnya, dalam blog ini saya pernah membahas tentang manfaat mikroalga sebagai bahan baku pembuatan minyak solar nabati, serta sebagai penyerap CO2 yang dikeluarkan oleh PLTU batubara.

      Terima kasih banyak Pak Suroto atas perhatiannya pada pengembangan budidaya mikroalga maupun singkong untuk menghasilkan bio-etanol.

      Salam,
      Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s