Mari Kita Bangun dan Pertahankan Kedaulatan Energi Indonesia Secara Konsisten dan Berkelanjutan

Let Us Build and Maintain a Consistent and Sustainable Indonesian Energy Sovereignty

Dalam kampanye Pilpres tahun 2014 ini, kita sering mendengar pidato dan ceramah tentang perlunya ditegakkan kedaulatan energi di negara kita, selain kedaulatan atau kemandirian kita di sektor pangan. Kedua sektor tadi memang harus ditegakkan kembali karena kenyataan di lapangan menunjukkan akan lemahnya kedaulatan negara kita atas kedua sektor tersebut.

Lalu, mengapa kedaulatan energi sebuah negara begitu penting, sehingga perlu dipahami dan disadari sepenuhnya oleh seluruh warga negaranya, terlebih oleh para pemimpinnya?

Sungguh menarik tulisan Pak Joko Widodo, yang populer dengan sebutan Jokowi, di Kompas 10 Mei 2014 yang lalu, tentang perlunya Revolusi Mental di tengah bangsa kita.

Penulis sempat berjumpa dengan Prof. Paulus Wirutomo Ph.D., seorang sosiolog UI, di suatu resepsi pernikahan beberapa hari yang lalu. Ketika obrolan beralih ke topik artikel Pak Jokowi tersebut, beliau berpendapat bahwa itu bukan menjadi tugas Kementerian Pendidikan Nasional semata, melainkan tugas sebuah lembaga negara yang langsung berada di bawah Presiden. Lembaga tersebut bertugas mengkaji seluruh aspek penyebab degradasi mental dan spiritual yang sedang melanda sebagian dari bangsa ini, dan diharapkan akan menghasilkan sejumlah rekomendasi dan solusi nyata yang wajib diterapkan di semua lembaga negara, lembaga pemerintahan, perusahaan BUMN dan swasta, dan tentunya di masyarakat. Inilah salah satu alasan Mas Paulus, mengapa tugas tersebut tidak cukup di bawah Kemendiknas yang hanya menangani bidang pendidikan saja. Hasilnya, adalah suatu perubahan sikap mental positif yang secara gradual akan mengembalikan bangsa ini menjadi bangsa yang tidak hanya bermartabat dan menjadi pelopor di tengah pergaulan dunia, melainkan juga mengembalikan perilaku yang jujur, terbuka, keteladanan, etos kerja, budaya malu, serta semangat gotong-royong yang sempat hilang dari tengah kehidupan sehari-hari yang mewarnai bangsa ini.

Apa sih kedaulatan energi itu? Sebuah negara dikatakan berdaulat di bidang energi apabila negara tersebut mampu memenuhi seluruh kebutuhan energinya — yaitu energi listrik dan bahan bakar untuk transportasinya — tanpa tergantung (impor) dari negara lain. Lalu, bagaimana cara melakukannya?

Energi listrik merupakan energi yang dapat diperoleh dari energi alternatif lainnya dengan cara konversi energi. Misalnya, energi matahari — dalam wujud cahaya — yang diterima oleh sebuah fotosel akan dikonversikan oleh perangkat tersebut menjadi energi listrik. Hal yang serupa dengan itu adalah energi angin, air terjun, energi gelombang dan arus laut yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik. Sebaliknya, energi listrik dapat dikonversikan kembali menjadi cahaya, penggerak mekanis, penyejuk udara secara mudah. Energi panas bumi (geothermal energy), yang potensinya di Indonesia sebesar 29.000 megawatt, dapat juga dikonversikan menjadi energi listrik.

Berbeda dengan energi listrik yang begitu mudah dihasilkan lewat berbagai konversi energi, energi primer dalam wujud bahan bakar fosil (d.h.i. minyak bumi, batubara, dan gas alam) yang juga terdapat di Indonesia, tidak tergolong energi terbarukan karena suatu saat akan habis. Pada energi primer jenis ini, kita harus memanfaatkannya dengan sangat hemat; di samping pertimbangan dalam memilih mesin yang hemat bahan bakar. Ekspor batubara yang belakangan ini telah mencapai empat kali lipat lebih besar dari pada kebutuhan domestik, jelas bertentangan dengan tekad membangun kedaulatan energi.

Perilaku/ kesadaran tentang perlunya hemat energi saja tidak cukup. Kita harus dapat mengembangkan bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan bahan bakar fosil tersebut. Bahan bakar alternatif tersebut dapat berupa bahan bakar yang dihasilkan dari tanaman. Puluhan ribu hektar lahan baru untuk kelapa sawit telah dibuka di tanah air untuk memproduksi bahan bakar tersebut. Tetapi apakah lahan seluas itu cukup untuk menggantikan seluruh bahan bakar fosil tersebut? Luas daratan Indonesia yang hanya 15 persen (atau 1,9 juta kilometer persegi) dari luas total wilayahnya, tidak dapat menggantikan seluruh kebutuhan kita pada bahan bakar fosil tersebut. Jumlah penduduk Indonesia yang diprediksi pada tahun 2050 akan mencapai 427 juta jiwa, tentunya akan meningkatkan kebutuhan bahan bakar dalam jumlah yang sangat besar, di samping meningkatnya kebutuhan akan pangan dan rumah tinggal bagi mereka. Peningkatan kebutuhan bahan bakar tersebut belum terhitung untuk membangun Indonesia demi meningkatkan statusnya dari developing country ke newly developed country melalui pembangunan nasionalnya yang teratur dan berkelanjutan.

Untuk meningkatkan produksi bahan bakar nabati secara signifikan, kita harus mengubah orientasi kita tentang pertanian/ budi daya yang selama ini hanya tertuju ke daratan saja. Sebagai negara kepulauan dengan luas daratannya yang hanya 15 persen, pemanfaatan potensi laut dangkal yang sangat bagus untuk budi daya sumber bahan bakar nabati tersebut harus mengarah ke sana. Berbagai hasil penelitian internasional di bidang biofuel (a.l. NREL) memperlihatkan bahwa panen kelapa sawit hanya menghasilkan minyak solar nabati (biodiesel) sebesar 5.950 liter/hektar/tahun, sedangkan bahan bakar yang sama dari hasil panen ganggang laut (algae) mampu mencapai 45.000 – 137.000 liter/hektar/tahun.

Untuk itu, kita perlu mengubah mindset kita ke budi daya ganggang laut. Total panjang pantai Indonesia yang sebesar 81.000 kilometer sangat potensial untuk pengembangan budi daya ganggang laut. Di samping itu, kegiatan tersebut dapat menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat pesisir, yang juga berarti terbukanya lapangan kerja baru. Sebaliknya, perkebunan kelapa sawit memerlukan modal yang sangat besar dalam investasinya, namun hanya memberikan keuntungan besar bagi segelintir orang saja.

Jika tadi kita membahas minyak solar nabati, maka bahan bakar nabati pengganti bensin pun dapat kita peroleh lewat pengembangan bioethanol yang berasal dari singkong, tebu, dan tanaman umbi berserat lain yang kandungan karbohidratnya cukup banyak. Negara Brasil merupakan penghasil bioethanol terbesar di dunia.

Kedua jenis bahan bakar nabati tersebut harus kita pacu produksi dan pengembangannya di Indonesia, apabila kita bertekad penuh untuk membangun kedaulatan energi negara kita. Sementara itu bahan bakar bagi sejumlah moda transportasi massa — seperti KA, bus kota dan angkutan umum lainnya — perlu dialihkan ke penggunaan energi listrik dan bahan bakar gas nabati (BBG Nabati).

Membangun pemahaman dan meningkatkan kesadaran, bahwa suatu saat bahan bakar fosil akan habis, merupakan bagian penting dari Revolusi Mental di dalam membangun Kedaulatan Energi negara kita. Dan itu berlaku, mulai dari pimpinan tertinggi – yang menetapkan Kebijakan Energi Nasional — sampai ke masyarakat penggunanya.

Revolusi Mental dalam Kedaulatan Energi juga berarti membangun kesadaran dan tekad bersama, bahwa pengembangan pertanian dan budi daya bahan bakar nabati — baik di darat (bahan baku bioethanol) maupun di laut (bahan baku biodiesel) — harus dilaksanakan secepatnya, karena kita harus mengakhiri ketergantungan kita pada ketiga bahan bakar fosil tadi. Sementara itu, BBM Fosil harus segera digantikan oleh bahan bakar gas fosil (BBG Fosil) demi penghapusan beban subsidi Pemerintah terhadap BBM Fosil. Hal ini karena biaya produksi BBG Fosil lebih murah dari pada BBM Fosil. Namun, kita wajib untuk terus mengakselerasi produksi BBM Nabati dan BBG Nabati di Indonesia agar, secara kuota, ketergantungan kita terhadap BBM Fosil dan BBG Fosil semakin kecil dan Kedaulatan Energi Indonesia dapat ditegakkan secara kokoh dan nyata.

“Apakah bahan bakar fosil, yang proses pembentukannya memerlukan waktu 500 juta tahun, akan kita habiskan dengan cara mengekspornya secara besar-besaran dan hanya dinikmati oleh beberapa generasi dari bangsa ini saja?”

Jayalah Indonesiaku, dan berdaulatlah Energi dan Panganmu !

 

 

4 Komentar

Filed under Energy Sovereignty, Revolusi Mental, Sustainable Development

4 responses to “Mari Kita Bangun dan Pertahankan Kedaulatan Energi Indonesia Secara Konsisten dan Berkelanjutan

  1. Paulus Wirutomo

    Excellent mas Atmono!

    Tulisan seperti ini penting karena mencoba mengkaitkan masalah budaya dengan bidang yang sangat basic bagi kehidupan kita berbangsa (yaitu energi), tetapi yang selama ini selalu dilepaskan dari analisis budaya.

    Bila pak Jokowi menang mari kita usung bersama ide beliau untuk mendirikan suatu Lembaga Kebudayaan yang bertugas membangun Budaya bangsa yang sedang terdegradasi ini. Tugas Lembaga ini adalah mulai dari: (1) memetakan kondisi dan situasi budaya nasional kita (dari segala aspek kehidupan), (2) bersama dengan tokoh masyarakat semua daerah dan para pakar merumuskan strategi budaya yang akan kita ambil sebagai suatu bangsa ditengah arus globalisas, (3) menentukan pilihan nilai-nilai strategis yang perlu dikembangkan dalam lima tahun sehingga benar-benar konkrit,(4) menyusun rencana nasional pengembangan sistem nilai untuk seluruh sektor kehidupan (bukan hanya sektor pendidikan), (5) membuat tolok ukur pencapaian setiap sektor dalam pengembangan sikap mental masyarakat (indeks pembangunan sosial-budaya), (6) merekomendasi Presiden tentang menteri mana yang berprestasi atau tidak dalam pengembangan budaya bangsa.

    Lembaga ini sebaiknya langsung dibawah presiden sehingga tidak tersandera oleh egoisme sektoral. Hanya dengan cara ini Revolusi Mental bangsa dapat direalisasikan secara nyata, bukan lagi sekedar retorika seperti masa lalu.

    Salam, Paulus Wirutomo

    • Dear Mas Paulus.

      Terima kasih banyak atas responnya yang penuh antusias ini.

      Saya sangat mendukung pemikiran Anda tentang perlunya sebuah “Lembaga Kebudayaan” dengan tugas membangun kembali karakter dan budaya bangsa kita yang sedang terdegradasi ini.

      Pemikiran Pak Jokowi tentang “Revolusi Mental” tersebut sungguh merupakan pemikiran yang sangat mendasar dan harus memperoleh dukungan penuh apabila beliau terpilih kelak sebagai Presiden RI. Dikatakan mendasar karena keberhasilan pembangunan yang kita ingin raih, akan sulit dicapai tanpa adanya perubahan sikap mental penyelenggara dan pelaksananya. Semoga beliau juga dapat menempatkan putra-putri bangsa yang “terbaik dan tepat” untuk mendukung kepemimpinannya di Kabinet kelak, serta tercapainya visi-misi beliau yang terkait erat dengan hasrat dan harapan dari mayoritas penduduk Indonesia.

      Kiranya Tuhan berkenan menyertai bangsa dan negara kita tercinta ini di dalam proses memilih seorang putra bangsa terbaik untuk “memimpin negara”, dan sekaligus “melayani” kita semua.

      Salam hormat,
      Atmonobudi.

  2. Saya serahkan masalah potensi ganggang laut kepada para ahlinya. Dengan perbedaan yang begitu menyolok mengenai produktivitas ganggang laut dibandingkan dengan yang lain, seharusnya sudah menjadi perhatian para ahli kita. Bagaimana pendapat Bp. Dr. Tatang Hernas di ITB?

    Namun saya ingin berkomentar mengenai revolusi mental yang sepertinya segera akan diwujudkan. Di bidang energi memang diperlukan revolusi mental mengenai harga energi yang layak bagi para konsumen. Selama ini masalah harga energi ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR. Memang seharusnya demikian menurut UUD dan perundangan yang berlaku. Perlu dipahami bahwa seharusnya istilah “Pemerintah” mencakup pihak Eksekutif bersama-sama pihak Legislatif.

    Sayangnya Pemerintah kita (Eksekutif dan Legislatif) selama ini menganut pandangan bahwa energi harus tersedia dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, sehingga harga energi ditetapkan lebih rendah daripada seharusnya/selayaknya. Maka APBN terpaksa harus memuat dana subsidi energi yang luarbiasa besar. Hal ini sudah berlangsung lama, selama masa jabatan Kabinet Indonesia Bersatu I dan II, dan bahkan sejak awal Repelita. Selama zaman Orde Baru produksi migas kita cukup tinggi, sehingga APBN masih dapat menyediakan dana investasi yang lumayan. Tetapi selama 10 tahun terakhir produksi minyak kita turun terus dan harga minyak internasional masih bertengger di atas $100/bbl. Dengan nilai tukar Rp. 11500/$, harga ini berarti bahwa harga minyak mentah Rp. 7233/liter. Harga BBM seharusnya jauh di atas ini, karena ada biaya angkutan, penyimpanan, pengilangan, distribusi dll. Ditambah lagi perusahaan energi harus memperoleh keuntungan, supaya dapat menyisihkan dana untuk investasi demi masa depan.

    Di sinilah revolusi mental bidang energi yang saya maksud: seluruh lapisan masyarakat harus dapat menerima kenyataan bahwa energi itu mahal karena biaya perolehannya dan biaya penyediaannya tinggi. Semoga hal ini dapat ditanamkan mulai sekarang, jangan sampai terjadi gejolak apabila subsidi akan dihapus.

    Selanjutnya semoga Pemerintah Jokowi-JK tidak mengambil kebijakan untuk menghapus subsidi energi dengan satu atau dua pukulan atau kejutan. Karena hal ini akan menyengsarakan masyarakat bawah. Sebaiknya dianut kebijakan menghapus subsidi secara berangsur dan bertahap, misalnya harga bensin premium dan solar bersubsidi naik Rp 400-500/liter setiap triwulan ke depan dan semua tarif listrik naik Rp. 50/kWh setiap triwulan, sampai tingkat keekonomian tercapai atau hampir tercapai. Bagusnya kebijakan seperti ini, disamping tidak menimbulkan gejolak, ialah apabila harga minyak internasional naik lagi maka kebijakan dapat dilanjutkan terus dan bila harga turun kenaikan dapat dihentikan. Tidak perlu lagi berwacana macam-macam. Suda tentu tidak tertutup Pemerintah menyediakan bantuan khusus kepada golongan masyarakat yang kurang mampu.

    Salam

    • Terima kasih Pak Budi Sudarsono.

      Kita, selaku orang-orang yang bergerak di bidang energi, khususnya energi baru dan terbarukan, perlu untuk secara penuh kesabaran dan terus menerus membantu pemerintah baru kita dalam menyosialisasikan konversi energi/BB alternatif kpd masyarakat dan bangsa tercinta kita.

      Saya sangat mendukung bahwa bidang energi juga menjadi komponen penting dalam Revolusi Mental, di samping hal-hal pokok lainnya.

      Ada cerita menarik yang disampaikan sopir saya. Dia dan beberapa orang tetangganya, sejak 3 bulan yang lalu, telah mengalihkan ketergantungan motornya dari premium bersubsidi ke pertamax. Dia menceritakan bahwa penggunaan BB dengan oktan lebih tinggi ternyata lebih irit dan getaran mesin motor terasa lebih halus. Dia sendiri lebih memilih menggunakan BBM merk lain dengan nilai oktannya yang lebih tinggi dari Pertamax.

      Kita memang masih harus mengkalkulasi cerita sopir saya tadi secara lebih teliti. Kalau memang lebih irit, maka tentunya nilai keekonomiannya akan lebih tinggi dari pada hanya sekadar melihat perbedaan harga per liternya.

      Sekali lagi terima kasih atas tanggapan Pak Budi Sudarsono.

      Salam,
      Atmononudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s