Menghadapi Kegagalan Panen Padi, BULOG Harus Menambah Kapasitas Gudangnya

Facing Crop Failure on March 2014, BULOG Should Add Its Warehouse Capacity

Banjir yang melanda wilayah utara pulau Jawa selama bulan Januari hingga Pebruari 2014 diperkirakan akan menggagalkan padi yang akan dipanen pada bulan Maret 2014. Menurut Menteri Pertanian, Suswono, masa panen pada bulan Maret 2014 yang akan datang akan mencapai 18 juta ton.

Menurut Indonesia Finance Today (4/2/14), luas lahan pertanian tahun ini adalah sebesar 13 juta hektar, dan luas baku pertanian 8,14 juta hektar.

Bagaimana dengan prediksi tersebut sekiranya terjadi kegagalan panen karena banjir yang terjadi akhir-akhir ini?

Kapasitas Gudang BULOG

Hingga saat ini Badan Urusan Logistik Indonesia (BULOG) hanya memiliki 480 unit gudang dengan kapasitas sekitar 1.000 hingga 3.500 ton per unit. Gudang-gudang tersebut mampu menyimpan beras hingga 4 juta ton. Sementara itu sedang dibangun gudang-gudang baru di daerah pelabuhan Jakarta, Makassar, dan Surabaya, yang diperkirakan akan menambah kapasitas simpanan beras BULOG sebesar 13.000 ton. Dengan demikian kapasitas gudang BULOG akan menjadi 4,013 juta ton.

Menurut M. Ismeth, staf ahli BULOG, sampai akhir Maret serapan beras BULOG adalah sebesar 350 ribu ton, untuk menampung produksi dari Jawa Tengah, NTB, dan Sulawesi Selatan.

Ketahanan Pangan Nasional

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2013 adalah sebesar 248 juta jiwa. Bila kita asumsikan konsumsi beras per kapita per tahun adalah 132,98 kg, maka total konsumsi beras pada tahun 2013 akan sebesar 32,98 juta ton. Dengan sasaran poduksi beras tahun 2013 sebesar 72,064 juta ton, berarti akan terjadi surplus beras sebesar 39,09 juta ton.

Surplus tersebut adalah sebesar 54,2% dari konsumsi penduduk Indonesia per tahun. Ini juga memberikan arti bahwa surplus tersebut hanya dapat dikonsumsi oleh seluruh penduduk Indonesia selama 198 hari dari satu tahun yang sebesar 365 hari.

Bila kita asumsikan bahwa BULOG tidak memiliki simpanan stok beras dan kita tidak mengimpornya, maka angka persentase tadi juga mengisyaratkan bahwa hanya 54,2% penduduk Indonesia yang selamat, dan 45,8% penduduk lainnya akan mengalami kelaparan.

Bila banjir di bulan Januari-Pebruari menyebabkan kegagalan panen padi pada bulan Maret 2014, dan padi yang ditanam pada awal April baru dapat dipanen pada awal Juli, maka seluruh gudang beras BULOG “harus” mampu menyimpan cadangan padi/beras untuk konsumsi penduduk Indonesia selama 7 bulan atau 213 hari, yang berarti harus mampu menyimpan beras cadangan sekurang-kurangnya 19,3 juta ton. Kapasitas gudang BULOG yang saat ini masih sebesar 4,013 juta ton, mengartikan bahwa daya tampung gudang tersebut hanya untuk konsumsi penduduk Indonesia selama “11 hari” saja.  Perlu diingat pula, bahwa kegagalan panen juga dapat disebabkan oleh kemarau panjang.

Minimal, surplus beras yang disimpan sebagai cadangan setiap tahunnya di atas 70% dari total konsumsi seluruh penduduk Indonesia selama setahun.

BULOG Perlu Menambah 4371 Gudang Baru

Kebijakan BULOG yang hanya menyimpan 5-9% dari total kelebihan produksi dalam negeri sudah tidak cocok, apabila dikaitkan dengan target mengantisipasi kebutuhan beras di era perubahan iklim. Mengapa demikian?

Dari data kapasitas gudang BULOG yang hanya sebesar 4,013 juta ton, maka BULOG harus mampu membangun gudang-gudang baru untuk menampung kekurangannya yang sebesar 15,3 juta ton, atau sebanyak “4371 gudang baru” yang berkapasitas 3.500 ton per unitnya. Perhitungan ini didasarkan pada anggapan bahwa penambahan gudang tersebut hanya untuk mengatasi kekurangan beras hingga Juli 2014. Tentunya, cadangan tersebut dikumpulkan dari stok beras yang saat ini sudah disimpan BULOG, produksi padi yang masih bisa dipanen pada bulan Maret, serta rencana impor beras untuk menutup kekurangannya.

Kapasitas gudang yang harus dimiliki BULOG tentunya akan lebih besar lagi bila BULOG juga ditunjuk sebagai penjaga stok kedelai yang menjadi bahan baku pembuatan tempe, tahu, dan kecap.

Dalam mengantisipasi akibat banjir besar di bulan Januari hingga Pebruari 2014, serta musim tanam padi yang baru akan dipanen pada awal Juli, kebijakan Menteri Perdagangan, Gita Wiryawan, tentang rencana impor beras dari Vietnam perlu dipertimbangkan untuk menutup kekurangan cadangan beras tersebut.

Riset untuk menghasilkan padi varietas baru yang menghasilkan panen yang lebih besar perlu terus dikembangkan. Sebagai contoh, padi jenis INPARI-13 dapat dipanen sebanyak 6,5-10 ton per hektar, sedangkan padi IR-64 sebesar 5 ton per hektar. Di samping itu keanekaragaman hayati, khususnya makanan pokok pengganti beras, harus kembali dikampanyekan secara nasional. Bumi Indonesia sangat subur dan dapat ditanami jagung, singkong, ubi jalar, kentang, buah sukun (bread fruit), gandum (NTT), dan sagu (Papua). Melalui diversifikasi makanan pokok, serangan hama terhadap pertanian “monokultur” tersebut dapat dihindari.

Dengan dipenuhinya tambahan gudang-gudang baru, penanaman varietas unggul, dan diversifikasi makanan pokok pengganti beras, tingkat ketahanan nasional di bidang pangan akan semakin kuat dan bebas dari ketergantungan impor.

Kiranya perhitungan sederhana tentang cadangan beras yang harus diantisipasi oleh pemerintah, d.h.i. BULOG, dapat dipertimbangkan oleh Kementerian Pertanian, Perdagangan, di samping BULOG, karena masalah banjir dan kekeringan akan terus berulang kembali setiap tahunnya sebagai akibat dari ketidakteraturan iklim.

2 Komentar

Filed under Adaptations and Mitigations, Climate Change, Food Productivity, Global Warming, National Food Security, National Security

2 responses to “Menghadapi Kegagalan Panen Padi, BULOG Harus Menambah Kapasitas Gudangnya

  1. Dear Prof,
    Pendapat dan saran Anda cukup baik, tetapi apakah Pejabat Pemerintah terkait mau mengikuti saran Anda. Saya cukup pesimis terhadap para perilaku Pemimpin / Pejabat Pemerintah penentu kebijakan karena umumnya mereka membuat kebijakan yang menguntungkan diri dan kelompoknya, bukan membuat kebijakan yang menguntungkan Rakyat dan Bangsa ini. Semoga Indonesia dimasa mendatang akan mempunyai pemimpin dan Pejabat yang berperilaku JUJUR, BERANI DAN PINTAR untuk memperjuangkan Kesejahteraan Rakyat. SELAMAT BERJUANG………….

  2. Selamat berjumpa lagi Pak Bahang.

    Artikel ini ditulis untuk mengajak para pembaca dan pemerhati masalah ketahanan pangan nasional semakin memahami akan tantangan yang kita hadapi di era perubahan iklim ini.

    Kita tentunya sangat berharap agar para pengambil keputusan dan penentu kebijakan tidak melihat permasalahan banjir hanya dalam aspek infrastruktur jalan dan jembatannya saja. Sektor pertanian, khususnya tanaman jenis makanan pokok rakyat, juga sama pentingnya untuk disikapi dengan penuh kearifan.

    Mari kita doakan agar di Pemilu 2014 yad, akan terpilih pemimpin negara yang tepat dan peka terhadap berbagai permasalahan yang sempat terabaikan selama ini. Semoga.

    Salam,
    Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s