Indonesia Sedang Mengalami Sejumlah Bencana Alam Secara Serentak

Indonesia Is Facing Natural Disasters Simultaneously

Dalam setengah tahun terakhir, bencana demi bencana terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Bencana yang bersifat alami itu, antara lain adalah erupsi gunung Sinabung, banjir di beberapa daerah dan kota, serta lahar dingin yang meluncur ke kaki gunung Merapi akibat hujan lebat. Banjir bandang juga menerjang Sumatra Selatan, Jambi, Cirebon, Lampung, Karawang, dan Jember.

Tidak kurang dari 25.000 penduduk di sekitar gunung Sinabung terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman sejak 4 bulan yang lalu, akibat erupsi dan awan panas yang keluar dari gunung tersebut sambil membawa debu/pasir. Rumah-rumah banyak yang roboh karena atapnya tidak kuat menahan beban debu yang menumpuk di atasnya. Ribuan hektar sawah dan kebun sayur serta buah-buahan hancur olehnya. Para pengungsi menjadi bingung oleh bencana yang tidak kunjung berhenti. Mereka kehilangan mata pencarian, sekolah-sekolah pun ditutup tanpa mengetahui kapan beraktifitas kembali. Tidak sedikit para petani yang meminjam uang atau membeli pupuk secara kredit dan kini tidak tahu bagaimana cara melunasinya karena gagal panen. Gunung yang sudah 200 tahun lebih tidak aktif ini dikelilingi oleh tanah yang subur bagi pertanian. Siapa yang tidak kenal sayur mayur dan buah-buahan yang dihasilkan di dataran tinggi Karo ini? Kesuburannya telah membuat kehidupan masyarakat di sana cukup sejahtera. Dan hal ini membuat Pemda setempat terlena sehingga terpaku karena tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana tersebut terjadi secara mendadak. Di samping gunung Sinabung, ada sejumlah gunung di Jawa (a.l. Mt. Tangkuban Perahu, Mt. Merapi, dan Mt. Raung) yang juga memperlihatkan aktifitasnya.

Sangat disayangkan, ketika mengikuti wawancara Metro TV dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif. Beliau mengatakan bahwa masalah bencana gunung Sinabung masih bisa diatasi oleh Pemda setempat, dan cukup tersedia dana Pemda di sana. Pernyataan tersebut sungguh mengejutkan karena keluar dari seorang pimpinan sebuah badan negara yang tugasnya menanggulangi bencana secara nasional. Apakah memang demikian cara kerja lembaga/badan ini, alias menunggu sampai dinyatakan secara resmi sebagai bencana nasional? Jangan-jangan kedatangan Bapak Presiden yang direncanakan baru akan meninjau lokasi pada tanggal 23 Januari 2014 adalah akibat laporan kepada beliau yang menyebutkan bahwa kondisi bencana Sinabung belum tergolong “siaga satu”.

Dua hari yang lalu, sungai Sario dan sungai Tondano membludak akibat hujan lebat dan menimbulkan banjir bandang yang menerjang kota Manado dan 11 kecamatannya. Banjir yang tidak mengenal korbannya, baik itu penghuni perumahan mewah maupun rumah-rumah sederhana, telah membabat habis tempat hunian tersebut. Ratusan kendaraan bermotor, bahkan kendaraan roda empat, hanyut terbawa banjir bandang tersebut. Evakuasi dilakukan, namun baru mampu menyelamatkan 60 persen korbannya pada saat tulisan ini dimuat. Kompas (16/1) bahkan memilih judul “Banjir Nyaris Tenggelamkan Kota Manado”, untuk menggambarkan dahsyatnya bencana yang terjadi di kota tersebut.

Jakarta, Ibu Kota Negara Indonesia tercinta, juga tidak luput dari banjir akibat luapan air sungai Ciliwung serta sungai-sungai lain yang melintasi kota ini. Menurut laporan petugas maupun pengakuan sejumlah korban, bencana tersebut belum separah bencana tahun lalu. Meskipun pemerintah DKI Jaya dibawah pimpinan Bapak Jokowi dan Bapak Ahok, telah melakukan langkah-langkah penanggulangan banjir berupa pengaktifan kembali sejumlah waduk di Jakarta Utara, namun masih saja belum mampu mengatasi banjir di semua wilayah Jakarta. Ada 13 sungai besar dan 884 sungai kecil yang mengalir ke laut lewat Jakarta. Tidak kurang dari 25.000 kepala keluarga (KK) yang mendiami bantaran sungai Ciliwung, dan mereka harus direlokasi ke rumah-rumah susun jika sungai Ciliwung akan dibenahi. Relokasi penghuni bantaran sebuah sungai saja akan memerlukan waktu tidak kurang dari 8 tahun, karena Pemda DKI Jaya harus menyediakan lahan untuk pembangunan sejumlah besar rumah susun yang letaknya tidak jauh dari hunian lama mereka. Permintaan Gubernur atau Wagub DKI Jaya kepada Walikota Depok, ternyata ditanggapi oleh seorang kepala dinas pemerintah kota Depok dengan sinis. Permintaan tersebut adalah berupa permohonan agar diijinkan membangun sungai atau kanal buatan (sudetan) di wilayah Depok untuk mengalihkan sebagian aliran sungai Ciliwung ke sungai Cisadane. Pemda DKI Jaya bahkan menyatakan siap menanggung seluruh biaya proyek tersebut.

Hilangnya Sense of Disaster Crisis.

Semua bencana tadi, menjadi lambat diatasi karena masih lemahnya sense of disaster crisis dari sejumlah pejabat negara, maupun sebagian masyarakat negara ini. Meskipun dua waduk di wilayah DKI Jaya sudah dikembalikan ke fungsinya semula, penolakan masyarakat yang menghuni di 40-an waduk dan bantaran sungai untuk dipindahkan, telah menghambat pelaksanaan proyek penanggulangan banjir tersebut. Masyarakat masih tetap dengan kebiasaannya, yaitu membuang sampah ke sungai-sungai di sekitar tempat tinggal mereka. Hutan-hutan resapan air di kawasan Puncak telah beralih menjadi villa-villa mewah sehingga menghilangkan fungsinya sebagai penyerap air hujan. Sejumlah villa yang tidak memiliki ijin mendirikan bangunan (IMB) memang telah dirobohkan, tetapi masih banyak villa di daerah resapan yang sudah terlanjur memperoleh IMB sehingga tidak dapat dibongkar.

Dalam situasi yang menimbulkan kesedihan para korban bencana, seharusnya bukan ucapan-ucapan arogansi yang keluar dari mulut para pejabat, apalagi dari seorang pimpinan badan nasional yang bertugas menanggulangi bencana tersebut. Ucapan tersebut menyiratkan ucapan seorang pejabat yang mengelak, seakan otonomi daerahlah sebagai penyebab adanya hirarkhi dalam melakukan pertolongan pertama. Perlu diingat, bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara Kesatuan, bukan negara federal.

Sejumlah Saran Untuk Mengatasinya.

1. Bencana alam gunung Sinabung agar secepatnya ditetapkan sebagai Bencana Nasional, agar penanggulangannya bisa dilakukan oleh Pusat dan Daerah; termasuk dalam hal alokasi anggarannya. Salut kepada PMI (Indonesian Red Cross Org.) yang dengan sigap telah turun tangan dalam melayani korban Sinabung.

2. Bila dilihat dalam peta, aliran sungai Ciliwung berliak-liuk bentuknya sehingga dapat menghambat kecepatan aliran air ke laut. Khusus di bagian yang berliak-liuk, perlu di buat dinding-dinding beton bertulang yang kokoh di sepanjang bagian tersebut. Untuk jangka menengah perlu dipertimbangkan untuk membuat kanal/terowongan air sudetan untuk mem-bypass (khusus di bagian yang berliak-liuk) aliran sungai tersebut ke laut.

3. Sebagai negara yang rawan bencana (banjir, erupsi gunung berapi maupun gempa tektonik), badan nasional penanggulangan bencana seyogyanya dipimpin oleh sosok pemimpin yang tegas, sigap, intuitif, namun juga berjiwa melayani dengan penuh empati.

4. Negara harus menganggarkan dana yang cukup besar untuk menanggulangi bencana alam tersebut, yang kini semakin sering terjadi di era perubahan iklim, baik yang terjadi secara bergantian maupun serentak.

5. Tingkatkan kesadaran nasional akan krisis perubahan iklim yang dampaknya bermacam-macam, dan sangat berpengaruh terhadap sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Kesadaran ini harus dibangun dan dimulai dari atas dan terintegrasi dengan baik antara pusat dan daerah. Hingga kini masih ditemui sejumlah kebijakan yang saling bertentangan antara yang ditetapkan Presiden dengan implementasinya di tingkat kementerian.

6. Otonomi Daerah seharusnya bersifat sangat terbatas, karena ada sejumlah besar kebijakan yang harus tetap merupakan urusan dan tanggung jawab pusat. Bila diabaikan, maka rakyatlah yang akan dirugikan; bukan pejabat-pejabatnya.

7. Bangun infrastruktur jalan dan jembatan yang berkualitas tinggi, dengan memperhatikan karakteristik tanah dan sungai-sungainya. Infrastruktur-infrastruktur yang kurang berkualitas mutunya akan membebani anggaran perawatan tahunannya dengan sangat besar.

8. Pemberitaan di media, khususnya TV dan Media Cetak, agar menjunjung tinggi balance of information, sehingga masyarakat luas juga mengetahui apa saja yang sedang/telah dilakukan oleh para relawan, maupun instansi daerah dan pusat, dalam menanggulangi bencana alam maupun dalam memberikan pertolongan pertama dan bantuan kepada para korbannya.

9. Ajakan untuk membangkitkan kembali semangat kepada para korban, maupun pendampingan yang bersifat kejiwaan lainnya, harus dilakukan. Sekolah-sekolah darurat di lokasi pengungsian harus dibuka karena bencana dapat berlangsung cukup lama.

Kini, banjir nyaris melanda seluruh wilayah pesisir utara pulau Jawa, Palembang, Manado, serta gelombang besar laut di Kupang. Ini berarti bahwa jumlah korban sangat banyak dan lokasi mereka tersebar. Saudara-saudara kita, para korban, memerlukan uluran tangan kita yang tidak mengalaminya. Kesedihan mereka adalah juga kesedihan kita semua. Bantulah mereka. Jika diperlukan, jadikan anak-anak mereka sebagai anak-anak asuh kita agar anak-anak tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikannya.

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua, sehingga dapat membantu meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan kita di dalam membantu menanggulangi bencana yang terjadi, serta menolong para korbannya.

Marilah kita serahkan semua keprihatian bangsa ini kepada Tuhan yang Maha Kuasa, agar oleh rahmat-Nya, negara dan bangsa ini dapat mengatasi semua bencana tersebut dengan aman, lancar dan baik. Amin.

Tinggalkan komentar

Filed under Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations, Floods, Infrastructures, Leadership, Natural Disaster

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s