Methanol sebagai Bahan Bakar dan Pengaruhnya terhadap Organ Tubuh Kita

Methanol as a Fuel and Its Effects on Human Body Organs

Beberapa hari terakhir ini berita tentang korban keracunan minuman keras oplosan yang mengandung methanol (hingga 80%) mencuat di media cetak, radio, dan TV. Hebohnya pemberitaan tentang minuman yang di Jawa Timur memperoleh sebutan “Cukrik” itu, bukan sekadar karena “minuman” itu berkadar alkohol tinggi, melainkan karena sebagian besar peminumnya mengalami keracunan dan tidak tertolong, alias meninggal dunia. Kalaupun tertolong, ada yang mengalami kebutaan karena menyerang saraf mata dan organ-organ tubuh lainnya.

Tergerak oleh pemberitaan tersebut, penulis ingin membahas perbedaan antara methanol dan ethanol dalam konteks sebagai bahan bakar. Tulisan ini tentunya juga tetap mengangkat kedua jenis bahan bakar tersebut karena memiliki sifat beracun, sehingga sangat membahayakan peminumnya.

Methanol

Methanol, yang juga disebut “alkohol kayu” (untuk membedakannya dari alkohol nabati lainnya, sudah dikenal sejak tahun 1920-an. Pyroligneous liquer, yang diperoleh dari memanaskan kayu tanpa adanya udara, mengandung 4 persen methanol dan 7 persen asam asetat. Jadi, kayu sebagai bahan pembuat utama methanol ( di samping arang sebagai produk sampingan) telah dikenal hingga pertengahan tahun 1920-an.

Sintesa methanol langsung dari H2 dan CO muncul di tahun 1920-an (dalam beberapa kasus methanol merupakan sebuah tahapan dalam pemurnian campuran H2 atau N2 untuk menghasilkan sintesa ammonia). Methanol masih tetap dibuat dari H2 dan CO, yang diperoleh dari setiap sumber hidrokarbon. Saat ini, gas alam adalah sumber utama, meskipun batubara, minyak bumi, dan kayu masih tetap dimanfaatkan sebagai bahan pembuat methanol.

Walaupun methanol dapat dihasilkan dari berbagai bahan baku, hingga saat ini gas alam masih merupakan bahan baku utama pembuatan methanol.

Ethanol

Dikenal sebagai “grain alcohol” sejak ribuan tahun yang lalu, ethanol dikenal sebagai bahan dasar minuman. Ethanol dapat dibuat dari buah-buahan, atau gula yang mengandung antara lain molasse. Sebagai bahan bakar di AS, dia terbuat dari bahan-bahan tepung seperti jagung, barley (pembuat bir), dan gandum. Semua itu merupakan sumber-sumber terbarukan dan memerlukan, sebagai contoh, kurang lebih 0.38 gantang jagung untuk menghasilkan satu gallon 100% ethanol. Ada berbagai produk sampingan dari pembuatan ethanol, dan itu tergantung dari sistem mana (penggilingan basah atau kering) ethanol tersebut diproduksi.

Ethanol juga dapat dibuat dari sumber-sumber petroleum secara reaksi dari ethylene ke ethyl sulfate dan selanjutnya hidrolisa ke ethyl alcohol mentah dan mencairkan asam sulfuric (tang selanjutnya dikonsentrasikan untuk penggunaan ulang). Proses lainnya menghasilkan ethanol langsung dari ethylene lewat hidrasi lebih katalis.

Methanol vs Ethanol

Biaya produksi methanol berkisar sepertiga biaya produksi ethanol per gallon. Juga, jikan ditinjau dari bahan baku yang tersedia, methanol juga 3 kali lebih banyak bisa diproduksi. Pemberian subsidi maupun garansi pinjaman lunak untuk memproduksi kurang menguntungkan, kecuali apabila sektor yang memanfaatkan ethanol sebagai bahan bakar cukup besar.

Pemanfaatan jagung sebagai bahan pembuat bahan bakar merupakan hal yang sia-sia, karena jagung merupakan makanan kita. Di samping sebagai bahan makanan pokok pada sebagian penduduk Indonesia, jagung dapat disimpan lama untuk cadangan pangan apabila terjadi krisis pangan.

MTBE dan ETBE

Kita sering jumpai di SPBU ada petugas yang menawarkan campuran bensin dalam kemasan botol plastik kecil. Campuran yang mengandung methanol atau ethanol tersebut adalah Methyl Tertiary Butyl Ether (MTBE) dan Ethyl Tertiary Butyl Ether (ETBE).

Methanol “bukan” Bahan Pembuat Minuman Keras!

Sering kita baca berita tentang akibat dari minum minuman keras yang dibuat dari methanol. Entah mengapa, jatuhnya korban yang sudah cukup banyak jumlahnya, seakan tidak berpengaruh bagi para pecandu minuman keras untuk meminumnya. Kalaupun karena pertimbangan lebih murah, tampaknya bukan bukan alasan utama. Kondisi orang yang sudah tergolong pecandu minuman keras (addict) itulah yang membuat mereka tidak peduli, walaupun harus menegak minuman oplosan tersebut.

Melalui tulisan ini, penulis mencoba menjelaskan methanol maupun ethanol sebagai bahan bakar pengganti bensin, dan juga bahayanya apabila menegak bahan bakar tersebut sebagai minuman keras oplosan.

Methanol adalah racun yang dapat masuk ke tubuh manusia dengan cara ditelan/diminum atau lewat pernafasan. Koma, bahkan kematian, dapat dialami oleh si korban apabila tidak segera memperoleh pertolongan medis. Efeknya secara jangka panjang dapat menyebabkan kebutaan, kondisi mirip penderita Parkinson, dan kanker. Bahkan, meskipun dalam jumlah sedikit sekali, sudah dapat membahayakan keselamatan janin (fetus) dalam kandungan.

Untuk itu, marilah kita kampanyekan kepada seluruh masyarakat peminum agar mereka mengakhiri ketergantungan mereka pada minuman beralkohol, karena ketika mengalami ketagihan dalam kondisi tidak punya uang, kemungkinan besar mereka akan beralih ke minuman keras oplosan tersebut .

Bacaan:

1. G.R. James, Paul T. Richards, W.R. Schaefers, Steven Wilmes, Metanol vs Etanol – 96, James Chemical Engineering Inc., Connecticut.
2. Pritchard J.D., Methanol Toxicological Overview, Health Protection Agency, 2007.

2 Komentar

Filed under Bio Technology, Ethanol, Methanol, Toxic

2 responses to “Methanol sebagai Bahan Bakar dan Pengaruhnya terhadap Organ Tubuh Kita

  1. imam hadi saputra

    Terima kasih infonya Pakde….salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s