Stop Konversi Lahan Pertanian dan Hutan untuk Memproduksi BB Nabati

Stop the Conversion of Agricultural Lands and Forests to Produce Biofuels

Judul tulisan ini mungkin akan terkesan bombastis karena seakan-akan menentang rencana pengembangan bahan bakar nabati di Indonesia. Dan penulis memilih judul tersebut karena ada sejumlah alasan yang akan dikemukakan dalam tulisan ini.

Kita seringkali merasa bangga bahwa luas wilayah Indonesia kira-kira sebesar wilayah daratan Amerika Serikat. Demikian juga dengan jumlah penduduknya yang menempati urutan keempat di dunia. Belum lagi adanya kebanggaan karena kita memiliki keanekaragaman suku bangsa dengan beraneka budayanya yang adiluhung. Kebanggaan yang tidak dilandasi oleh pemahaman yang benar tentang kondisi geografis dari negara inilah yang dapat membuat kita menjadi tidak cermat ketika harus mengambil sikap atau kebijakan yang bersifat nasional. Lalu apa akibatnya?

Geografi Indonesia

Indonesia, adalah sebuah negara kepulauan (archipelagic country) yang membujur (dari barat ke timur) sepanjang 5.120 kilometer, dan melintang (dari utara ke selatan) sepanjang 1.760 kilometer. Luas wilayah negara Indonesia, termasuk selat dan laut-laut (inland water), serta luas wilayah laut yang mengelilinginya adalah sebesar 5.193.250 kilometer persegi (km2). Sedangkan luas daratannya hanya sebesar 1.826.440 km2. Dengan demikian, luas daratan Indonesia hanya 35,2 persen dari luas total wilayahnya.

Dengan jumlah penduduknya yang sekitar 237 juta orang, dan lahan subur untuk pertanian yang hanya 10,1 persen, telah terjadi “tarik menarik kepentingan” dalam peruntukan tanah (land use) antara untuk perluasan pemukiman dan untuk tanah pertanian. Lebih dari 60 persen penduduk Indonesia tinggal di pulau Jawa. Ini berarti bahwa sebagian besar daerah subur di luar Jawa harus mampu mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya makanan pokok dan ternak potong. Laju pertumbuhan penduduk yang sebesar 1,04 persen per tahun merupakan pertimbangan yang sangat esensial untuk memperluas lahan pertanian secara nasional setiap tahunnya.

Pemberitaan media massa tentang surplus beras nasional yang dinyatakan dalam ton per tahun, dapat menyesatkan kita ketika kita mengukur ketahanan nasional negara kita dalam makanan pokok. Sebagai contoh, surplus beras sebesar 10 juta ton per tahun dari sebuah negara yang berpenduduk 60 juta jiwa tentu berbeda dengan surplus yang sama pada negara berpenduduk 200 juta jiwa. Surplus yang sama besarnya namun menunjukkan tingkat ketahanan nasional di bidang makanan pokok yang berbeda bagi kedua negara tersebut. Penjelasan lebih lengkap mengapa surplus beras yang dinyatakan dalam ton, harus disempurnakan, dapat dibaca di blog:

https://atmonobudi.wordpress.com/2011/06/13/ukuran-surplus-pada-hasil-panen-bahan-makanan-pokok-perlu-ditingkatkan-maknanya/ .

Ketahanan pangan nasional kita masih tergolong lemah, karena hanya mengandalkan pada beras. Sebagian penduduk kita yang dulunya bergantung pada jagung dan sagu sebagai makanan pokoknya, kini mulai beralih ke beras. Padahal, solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional, antara lain melalui diversifikasi makanan pokoknya, bukan hanya pada beras saja. Hal inilah yang terjadi ketika kebijakan dan arahan pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan hanya berorientasi pada peningkatan produksi beras saja. Alih-alih meningkatkan swasembada pangan, kebijakan impor beraslah yang ternyata lebih dipilih.

Ancaman berupa perluasan perkebunan

Indonesia merupakan penghasil minyak kelapa sawit yang terbesar dunia, yang berasal dari 8 juta hektar perkebunannya, di mana pada tahun 2015 akan bertambah 4 juta hektar, sehingga akan menjadi 12 juta hektar. Ini berarti Indonesia akan menyuplai lebih dari separo kebutuhan dunia akan minyak nabati tersebut.

Anjuran Menteri Perhubungan, E.E. Mangindaan (Harian Pelita,Sabtu 28/12 tahun 2013), yang mendorong agar menggunakan bahan bakar nabati di sektor transportasi, tentunya akan berdampak pada semakin luasnya lahan perkebunan tersebut. Anjuran tersebut dapat mendorong terjadinya konversi hutan menjadi perkebunan. Penulis tidak menentang anjuran tersebut, sejauh diikuti dengan sejumlah kebijakan yang strategis dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

Mari berkebun di laut

Mengapa kita tidak segera membuka “perkebunan” di laut?

Minyak kelapa sawit (CPO) bukanlah satu-satunya bahan bakar (BB) nabati yang dapat diproduksi di Indonesia. Ada dua jenis sumber BB nabati yang dapat dikembangkan di Indonesia, yaitu algae (d.h.i. ganggang laut, microalgae) dan seaweed (rumput laut, macroalgae). Walaupun wujudnya seperti tumbuh-tumbuhan dan tumbuh melalui proses fotosintesa, tidak tergolong tumbuh-tumbuhan.

Serupa dengan CPO yang dapat diproduksi menjadi bio-solar (atau bio-diesel), ganggang laut pun dapat diproduksi menjadi bio-solar, sedangkan tebu atau singkong dapat digantikan oleh rumput laut dalam memproduksi bio-ethanol atau bio-gazoline. Kandungan karbohidrat pada alga juga dapat dibuat menjadi bio-ethanol. Kedua jenis “mirip tanaman” ini juga berpotensi untuk menghasilkan “kimia nabati” dan “plastik nabati”. Alga dan rumput laut tergolong bahan bakar nabati generasi ketiga.

Alga dapat dibudidayakan di kawasan pantai dengan cara membuka kolam-kolam, seperti tambak ikan, sedangkan rumput laut dapat tumbuh dengan subur di dasar laut dangkal (pesisir) secara rapih dan teratur seperti layaknya kita menanam padi.

Departemen Energi Amerika Serikat memperkirakan minyak dari alga akan mampu menggantikan seluruh kebutuhan BBM di AS, bila dibudidayakan di lahan seluas 39.000 km2 (atau 0,42 persen luas daratan AS). Produktifitas alga jauh lebih besar dari pada kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit hanya dapat menghasilkan 5.000 liter per hektar (atau 2.025 liter per acre), sedangkan produksi minyak alga dapat mencapai 225.247 liter per hektar; suatu kelipatan 45 kali lebih besar. Karena itulah maka minyak alga diprediksi akan menggantikan seluruh BBM fosil, bukan sekadar sebagai campuran solar (BBM fosil) yang selama ini hanya sebesar 2-5% saja.

Potensi laut Indonesia, khususnya laut dangkal, dapat dimanfaatkan untuk “berkebun” rumput laut. Rumput laut merupakan bahan baku pembuatan bio-ethanol. Bercocok tanam di dasar laut dangkal jelas tidak akan mengganggu eksistensi hutan dan lahan pertanian darat yang telah lebih dahulu dikembangkan. Oleh sebab itu, penulis ingin mengajak para pembaca untuk mencermati peluang bisnis alga, maupun rumput laut di Indonesia dan mengembangkannya. Dan ajakan ini juga berlaku bagi bagi para pengusaha perkebunan kelapa sawit untuk mengembangkan jenis bisnis baru tersebut, dari pada berlomba “menggunduli hutan” demi memperluas perkebunan kelapa sawitnya.

Penulis menyarankan kepada pemerintah agar segera “menyetop” pengeluaran ijin baru dalam pembukaan perkebunan maupun pertambangan, a.l. batubara, minyak bumi, dan gas. Ekspor energi-energi fosil tersebut akan menurunkan tingkat keamanan energi nasional, yang berarti juga melemahkan ketahanan nasional di bidang ekonomi dan sosial. Sebagai alternatifnya, perlu dipertimbangkan tentang konsep “Peraturan Tata Guna Laut Dangkal untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut dan Ganggang”.

Bagi pembaca yang tertarik untuk lebih memahami tulisan ini, silakan mengklik:

1. https://atmonobudi.wordpress.com/2012/09/29/mari-kita-kembangkan-bbm-nabati-dari-alga-di-indonesia/ .

2. https://atmonobudi.wordpress.com/2012/11/19/alga-sebagai-penangkap-karbon-dioksida-dari-pembangkit-listrik-berbahan-bakar-fosil/ .

3. https://atmonobudi.wordpress.com/2013/01/12/lahan-sawit-ancam-padi-mentan-minta-petani-berhati-hati/ .

Tinggalkan komentar

Filed under Algae Cultivation, Bio Technology, Bio-foels from Algae, Biodiversity, National Food Security, Renewable Energy, Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s