ETNOBOTANI: Monokultur Mengancam Aktivitas Riset

ETHNOBOTANY: Monocultures Threat Research Activites

JAKARTA, KOMPAS – Penelusuran etnobotani menyangkut sistem pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sumber daya hayati dan lingkungannya hingga saat ini masih belum lengkap. Namun, kini banyak hutan alam yang dibabat dan menjadi perkebunan monokultur sehingga otomatis mengancam studi etnobotani tersebut.

“Pengetahuan tradisional memanfaatkan keanekaragaman hayati belum banyak kita ketahui. Namun, monokultur telah banyak menghilangkan kultivar tumbuhan,” kata peneliti di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Y Purwanto, dalam seminar terbatas etnobotani yang diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Rabu (11/12), di Jakarta.

Purwanto mengutarakan salah satu penelitiannya di Papua mengenai kebun komunal ubi jalar. Di lahan sekitar 5 hektar, ia menemukan ada sekitar 60 kultivar ubi jalar yang ditanam. Jenis ubi jalar juga mengacu pada fungsi masing-masing, seperti untuk makanan bayi, makanan keluarga, dan untuk ritual.

Pengetahuan tradisional mengenai pengelolaan tanaman pangan ubi jalar di Papua ini masih jarang dikomunikasikan. Ilmuwan Universitas Cenderawasih Papua, Samuel J Renyaan, mengemukakan, tanaman pangan sagu di Papua dengan 23 genotip belum memperoleh perhatian sebagai potensi tanaman pangan.

“Tanaman sagu memiliki kaitan erat dengan sumber daya air. Ada tanaman sagu, selalu ada air,” kata Samuel.

Jenis tanaman nipah, menurut Samuel, juga penting untuk konservasi air. Nipah dapat menahan lumpur sehingga baik digunakan untuk menahan laju sedimentasi sungai.

“Ciliwung tidak perlu dikeruk, tetapi bisa ditanami nipah untuk menahan lumpur tidak masuk ke sungai,” kata Samuel.

Eko Baroto Waluyo, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI, memaparkan, penelitian etnobotani seharusnya menjadi studi multidisiplin yang memperhatikan pula masalah perbanyakan, budidaya, pemanenan, pengolahan, ekonomi produksi, dan pasar. Penelitian etnobotani menganalisis ketergantungan manusia dengan lingkungannya.

Ketua Komisi Ilmu Pengetahuan Indonesia AIPI Mien A Rifai mengatakan, pada perkembangannya sekarang memang muncul kekhawatiran studi etnobotani ini makin menghilang.

“Kebijakan monokultur seharusnya diarahkan untuk tetap menjaga keanekaragaman hayati sehingga penelitian dan studi etnobotani dapat terus berlangsung,” kata Rifai. (NAW)

Sumber: Kompas, 12/12 2013, hal. 13.

Komentar:

Kita perlu peduli dan menggarisbawahi peringatan dari para pakar di bidang “Etnobotani” yang semakin terdesak peranannya terkait dengan bertambah luasnya hutan alami di Riau dan Kalimantan yang “dialihfungsikan” menjadi perkebunan monokultur.

Tanaman monokultur secara luas akan memiskinkan kandungan nutrient dari tanah di mana mereka tumbuh. Atau dengan kata lain, telah membuatnya menjadi tanah yang tidak subur. Ini juga berarti akan menghilangkan mikroorganisme yang semula hidup subur di dalam tanah. Di samping akan mengurangi keanekaragaman spesies, juga akan membuat tanah mudah mengalami erosi dan menurunkan kualitas tanah karena terkontaminasi.

Sebaliknya, bercocok tanam secara polyculture akan membawa manfaat, antara lain: akan meningkatkan kualitas tanah, mengeliminasi pupuk-pupuk anorganik dan pestisida, mengurangi erosi, meningkatkan keanekaragaman hayati maupun variasi produknya.

Para petani perlu memperoleh pencerahan tentang risiko dari membuka perkebunan secara monokultur. Harian Kompas (12/1) 2013, hal. 18, memuat berita berjudul “Lahan Sawit Ancam Padi: Mentan Minta Petani Berhati-Hati”. Untuk membacanya, silakan mengklik ke

https://atmonobudi.wordpress.com/2013/01/12/lahan-sawit-ancam-padi-mentan-minta-petani-berhati-hati/ .

Semoga masyarakat, khususnya mereka yang berkecimpung dalam bidang pertanian dan perkebunan, memahami risiko tersebut dan tidak memperparah kondisi bumi Ibu Pertiwi kita yang sudah semakin kritis.

3 Komentar

Filed under Biodiversity, Biology, Ethnobotany, Floods, National Food Security

3 responses to “ETNOBOTANI: Monokultur Mengancam Aktivitas Riset

  1. Pertanian / Perkebunan Monokultur juga lebih rentan terhadap serangan Serangga Hama bila dibanding dengan Pertanian / Perkebunan Polikultur. Daya tahan Pertanian / Perkebunan dengan beberapa jenis tanaman (Polikultur) lebih baik bila dibanding dengan pertanian satu jenis tanaman (Monokultur). Pertanian Monokultur apabila diserang oleh Serangga Hama dan ternyata jenis tanaman tsb. rentan terhadap Hama, maka semua (sebagian besar) vegetasi tanaman akan rusak. Tetapi pada Pertanian Polikultur hanya jenis tanaman yang rentan saja yang akan Rusak apabila ada serangan Serangga Hama. Dari sudut pandang Entomology (khususnya Ilmu Serangga Hama) sangat dianjurkan untuk memilih Pertanian / Perkebunan dengan sistem Polikultur. Pertanian Polikultur akan lebih baik untuk memutus Siklus dan Perkembangan Serangga Hama. Jangan lupa selalu Memantau / Inspeksi berkala Situasi dan Kondisi Tanaman dari gangguan Hama atau Selalu Memantau Keberadaan Serangga Hama dan Penyakit Tanaman pada vegetasi Tanaman……..

    • Dear Bapak Bahang Luhulima.

      Terima kasih banyak atas komentar Bapak dari sudut pandang “Ilmu Serangga”, khususnya serangga hama. Semoga melalui tanggapan Bapak, pemahaman para pembaca tentang kelemahan dari membuka perkebunan atau pertanian secara monokultur akan semakin lengkap.

      Sekali lagi terima kasih banyak atas kepedulian bapak Luhulima.

      Salam,
      Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s