Budaya Sebagai Penggerak Pembangunan Berkelanjutan

Culture as the Driver of Sustainable Development

Di tahun 1980-an, pembangunan berkelanjutan masih dikenal dengan 3 pilarnya, yaitu: pertumbuhan ekonomi, sosial, dan keseimbangan lingkungan. Ketiga dimensi ini dipakai sebagai pola strategi pembangunan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Konferensi Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992 mengkonsolidasikan tiga pilar tersebut sebagai paradigma pembangunan berkelanjutan.

Mulai dirasakan bahwa tiga pilar tadi tidak dapat merefleksikan kompleksitas masyarakat masa kini. Banyak pendapat, termasuk UNESCO, Pertemuan Puncak Pembangunan Berkelanjutan, serta para peneliti, yang mengusulkan dimasukkannya “budaya” ke dalam model pembangunan berkelanjutan, karena kebudayaan sangat menentukan apa yang kita pahami sebagai pembangunan dan bagaimana masyarakat melakukannya di dunia ini.

Pendekatan baru ini menunjuk pada hubungan antara kebudayaan dan pembangunan berkelanjutan melalui dua hal: yang pertama, pembangunan dari kebudayaan itu sendiri (d.h.i. warisan, kreatifitas, industri-industri budaya, barang-barang kerajinan, wisata budaya); yang kedua adalah kepastian bahwa kebudayaan bertumpu secara benar di seluruh kebijakan publik, khususnya yang berhubungan dengan pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan, komunikasi, lingkungan, kepaduan sosial serta kerja sama internasional.

Dunia tidak hanya menghadapi tantangan-tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kreatifitas, pengetahuan, keanekaragaman, dan keindahan adalah dasar yang tak terhindarkan bagi dialog untuk perdamaian, dan kemajuan dari nilai-nilai tersebut pada hakekatnya terhubung dengan pembangunan manusia dan kebebasan-kebebasannya.

Sementara kita mempunyai tugas mempromosikan kelestarian budaya asli, tradisi-tradisi lama bertemu dengan kreatifitas baru setiap harinya di kota-kota dunia, memelihara identitas dan keanekaragaman. Dialog antar budaya adalah salah satu tantangan terbesar umat manusia, dan kreatifitas dikenal sebagai sumber yang tidak pernah berhenti mengilhami masyarakat dan ekonomi. (UCLG, Culture: The Fourth Pillar of Sustainable Development)

Kebudayaan.

Bagaimana konsep kebudayaan didefinisikan? The International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) mendefinisikannya sebagai berikut:

Culture “can be defined as the whole complex of distinctive spiritual, material, intellectual and emotional features that characterize a community, society or social group. It includes not only arts and literature, but also modes of life, the fundamental rights of the human being, value systems, traditions and beliefs.
Culture encompasses the living or contemporary characteristics and values of a community as well as those that have survived from the past”
. (ICOMOS, ICT)

Warisan budaya adalah sebuah ekspresi dari cara hidup yang dibangun oleh suatu komunitas dari generasi ke generasi, termasuk di dalamnya kebiasaan, praktek, tempat-tempat, obyek-obyek, ekspresi artistik, dan sistem nilai yang dianut. Warisan budaya sering kali diekspresikan sebagai warisan budaya yang nyata dan tidak nyata.

Mitos memang ada, tetapi realitas itu beda. Dalam kenyataannya, tidak ada bukti yang menyebutkan bahwa keaneragaman budaya adalah akibat dari fragmentasi dan konflik, atau bahwa sejumlah kebudayaan tidak kompatibel dengan pembangunan berkelanjutan, hak azasi manusia, dan pemerintahan yang baik. UNESCO mempromosikan hak azasi manusia sebagai jaminan dari keanekaragaman budaya.

Adalah kebenaran bahwa pembangunan yang berakar pada budaya dan sensitif terhadap konteks lokal sebenarnya satu-satunya yang mungkin akan berkelanjutan. Pemenang penghargaan Nobel, Amertya Sen, menjelaskan: “masalah kebudayaan merupakan bagian integral dari kehidupan yang memimpin kita. Jika pembangunan dapat dilihat sebagai peningkatan standar hidup kita, maka usaha-usaha yang diarahkan untuk pembangunan hampir tidak dapat mengabaikan dunia budaya.”

Kini, pembangunan berarti kebebasan, melebarnya pilihan, menempatkan manusia – anak-anak, laki-laki dan perempuan – pada pusat dari masa depan.

• Budaya akan mendorong dimensi ekonomi: ia menyebabkan penghasilan dan lapangan kerja, ia adalah mesin penggerak dari banyak proses pembangunan dan ia memiliki dampak pada kewirausahaan, teknologi baru, dan pariwisata. Budaya akan membawa kreatifitas dan inovasi bagi ekonomi.

• Budaya adalah terkait dengan dimensi sosial: ia adalah pengakselerasi ketahanan dan pengakaran, ia memberikan kelengkapan untuk memerangi kemiskinan, ia memfasilitasi partisipasi warganegara, dialog lintas budaya, dan peramaan hak.

• Budaya akan merangkul dimensi lingkungan karena ia menjelaskan identitas dan membangkitkan kepedulian pada tanggung jawab terhadap lingkungan.

• Nilai-nilai penting untuk pembangunan, seperti kreatifitas, pewarisan, pengetahuan dan keberagaman, harus membentuk budaya sebagai pilar keempat dari pembangunan. Pendekatan yang terpadi dan holistik pada pembangunan hanya dapat dicapai bila nilai-nilai ini eksplisit dan dioperasionalkan.

Budaya Indonesia.

Indonesia sebagai negara dengan lebih dari 300 suku bangsa dan berpenduduk 237 juta jiwa, sudah barang tentu memiliki kekayaan budaya yang hampir sama banyaknya dengan jumlah suku tersebut. Sebagai contoh, suku Jawa yang merupakan 41% dari populasi total Indonesia memiliki kesenian tradisional, yaitu pertunjukan wayang kulit (shadow puppets show), yang umumnya digelar pada malam hari. Di samping membawakan sebuah tema cerita, pagelaran yang bersifat hiburan ini dapat digunakan untuk menyampaikan pesan, petuah, bahkan kritik sosial kepada penonton secara jenaka. Pesan yang mengajak penonton untuk membangun desa atau menjaga kelestarian alam, juga dapat disampaikan melalui pementasan ini. Dan pesan pun tersampaikan, tanpa menyinggung perasaan para penonton atau pejabat yang menontonnya. Bentuk penyampaian pesan atau komunikasi secara seni budaya yang seperti ini juga dapat kita jumpai pada budaya suku-suku lainnya, walaupun dalam bentuk kesenian yang berbeda, misalnya lewat berpantun, monolog, berdendang, maupun pentas drama musikal.

Dari pembahasan di atas, maka jelaslah bahwa budaya merupakan penggerak pembangunan secara berkelanjutan.

Daftar Bacaan:

1. Cody Fithian, Ashleigh Powell, Cultural Aspects of Sustainable Development, Center for Sustainable Development.
2. UCLG, Culture: Fourth Pillar of Sustainable Development.
3. UCLG, ECOSOC 2013: The Role of Culture in Sustainable Development to be explicitly recognised.

4 Komentar

Filed under Cultural Aspects, Sustainable Development

4 responses to “Budaya Sebagai Penggerak Pembangunan Berkelanjutan

  1. imam hadi saputra

    makasih pakde…bahan bacaan ini bisa nak imam jadikan sumber inspirasi membangun budaya lokal untuk pembangunan yg berkelanjutan

  2. Ulya

    tulisannya bagus Pak🙂

    • Terima kasih Mbak Ulya.

      Saya berharap bahwa Mbak dapat membantu mengangkat aspek budaya dari berbagai etnis di Indonesia di dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

      Salam,
      Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s