PENANGANAN BENCANA: Perempuan dan Anak belum jadi Prioritas

DISASTER MANAGEMENT: Women and Children Haven’t Been Priorities Yet

JAKARTA, KOMPAS – Perempuan dan anak perempuan belum menjadi prioritas dalam penanganan kebencanaan. Bukan hanya dalam soal kebutuhan khusus perempuan, melainkan juga dalam distribusinya.

“Kenyataannya, saat ini masih banyak perempuan dan anak perempuan belum mendapat kesetaraan dengan laki-laki. Apalagi pada situasi kritis, misalnya saat bencana. Mereka rentan didiskriminasikan, termasuk dalam pendidikan,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar saat sambutan “Perayaan Hari Internasional Anak Perempuan”, Jumat (11/10), di Gedung RRI, Jakarta Pusat.

Linda menuturkan pula, Indonesia merupakan daerah yang rawan bencana. Dalam kondisi bencana, perempuan dan anak perempuan sangat rentan menjadi korban sebab mereka tidak bisa menyelamatkan diri sendiri.

Dalam kondisi bencana, anak perempuan tak jarang harus membantu keluarga mengurus dapur, misalnya mencari air dan memasak, sehingga tak sempat ikut belajar di tenda pengungsian. “Dalam kondisi biasa saja mereka terdiskriminasi, apalagi dalam kondisi bencana,” ujar Corporate Affairs Director Intel Indonesia Deva Rachman.

Dania Utami (14), siswa SMP 03 Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah – korban bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010 – punya pengalaman buruk di pengungsian. Saat itu, ia masih kelas VI SD dan akan menghadapi ujian nasional.
Saat belajar di sekolah tenda, ia diejek teman-temannya. Bahkan, uang sakunya diambil. “Awalnya saya berpikir akan baik, ternyata tak seperti yang saya pikirkan,” katanya.

Kelompok rentan

Berdasarkan data Plan Asia di seluruh dunia 150 juta anak perempuan di bawah usia 18 tahun menjadi korban kekerasan seksual, pelecehan, dan penelantaran, baik di rumah maupun sekolah, bahkan saat terjadi bencana.

“Sudah terlalu sering anak perempuan tidak memperoleh bantuan yang mereka perlukan saat terjadi bencana. Padahal, mereka salah satu kelompok yang rentan dalam situasi tidak kondusif,” kata Regional Director Plan Asia Mark Pierce.

Sebagai salah satu negara paling rentan bencana, perhatian terhadap anak perempuan dan perempuan dewasa Indonesia sangat penting.

Salah seorang ibu rumah tangga yang menjadi pengungsi gempa Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada 2009, Fatmieti Kahar (48), menuturkan, bantuan di pengungsian tak menyediakan keperluan perempuan dan anak perempuan. Kalaupun ada, distribusinya tidak diprioritaskan.

Suatu ketika, saat bantuan tiba di pengungsian, Fatmieti memberanikan diri menerobos kerumunan laki-laki untuk meminta petugas memprioritaskan distribusi bantuan kepada perempuan dan anak perempuan terlebih dahulu. “Kalau tidak seperti itu, tidak akan pernah diperhatikan,” ujarnya. (K13)

Sumber: Kompas, Sabtu 12/10, hal. 14.

Komentar:

Sebagai bangsa besar yang mendiami belasan ribu pulau dan terdiri dari puluhan suku bangsa, kita seringkali disanjung sebagai bangsa besar dengan budayanya yang adiluhung. Sanjungan itu dapat membuat kita lupa diri bahwa kita sebenarnya tinggal di kawasan “cincin api” dengan gunung-gunung berapinya yang indah namun masih aktif, serta sumber air panasnya yang yang sering dikunjungi wisatawan domestik maupun internasional. Itulah kebanggaan kita selama ini, tanpa menyadari bahwa kita berada di negeri yang juga sangat rentan terhadap bencana alam yang sering terjadi di sekitar kita.

Bencana-bencana yang terjadi di setiap saat dan tempat di dunia ini, termasuk di Indonesia, seringkali muncul tanpa peringatan. Gempa bumi, letusan gunung berapi, dan jebolnya tanggul sungai di negara kita dapat terjadi tanpa terduga.

Tahukah Anda bahwa korban terbesar dari bencana alam tersebut adalah dari kalangan miskin, yang tinggal di rumah sederhana yang konstruksinya tidak kokoh? Bahkan sebagian ada yang rumahnya hanya sekadar tempat berteduh dari sengatan matahari dan hujan.

Masyarakat di lereng gunung Merapi adalah masyarakat yang umumnya hidup dari berkebun, bertani, dan beternak, di mana mereka bertempat tinggal tidak jauh dari sumber kehidupannya. Mereka umumnya masih mempunyai tradisi atau kultur yang mengabaikan posisi dan peranan perempuan dan anak perempuan di dalam keluarga, bila dibandingkan dengan posisi laki-laki.

Respon menolong yang cepat dari masyarakat yang tinggal berdekatan dengan titik-titik bencana mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap besar kecilnya dampak dari bencana. Tetangga dan sanak keluarga dari para korban selalu menjadi yang pertama dalam menolong mereka.

Dengan menyadari sepenuhnya bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah — namun juga sangat rentan terhadap bencana alam — pemerintah diharapkan berinisiatif membentuk sebuah organisasi yang menangani masalah bencana alam, agar risiko bencana dapat diperkecil. Organisasi ini tidak bersifat adhoc. Oleh karenanya, anggaran negara yang dialokasikan untuk program tersebut harus selalu tersedia secara berkelanjutan.

Model-model organisasi disaster risks reduction (DRR) dan cara kerjanya, banyak dijumpai di negara-negara maju yang rentan bencana. Pemerintah hanya tinggal mengadopsi model yang dianggap cocok, dan melengkapi aktifitasnya dengan memperhatikan tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat yang seringkali justru merugikan di saat terjadi bencana. Misalnya, mereka lebih percaya pada pawang/penjaga gunung dari pada perangkat monitor gempa, atau masih rendahnya kesadaran para aktifis akan kesetaraan gender, sehingga perempuan dan anak perempuan seringkali terabaikan di tempat penampungan darurat mereka.

Organisasi DRR dapat melakukan aktifitasnya tidak hanya di saat terjadi bencana, melainkan juga di saat tidak ada bencana, antara lain berupa penyuluhan tentang prosedur evakuasi secara teratur, memfasilitasi dan menjaga rutinitas komunikasi radio antar penduduk di lokasi rawan bencana.

Semoga pemberitaan Kompas di atas dapat menggugah hati para pengambil keputusan untuk segera membentuknya.

Tinggalkan komentar

Filed under Disaster Risks Reduction (DRR), Gender, Mountain Eruptions, Natural Disaster

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s