PLTN di Bangka Belitung Beroperasi 2024

Nuclear Power Plant in Bangka Belitung Will Operate ini 2024

JAKARTA , KOMPAS – Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) tengah menganalisis data hasil studi tapak yang dilaksanakan tahun lalu di Bangka Belitung yang akan menjadi lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Hasil survei tersebut akan dikeluarkan tahun ini juga.

“Pembangunannya kemungkinan akan dilaksanakan Perusahaan Listrik Negara, dengan rencana pengoperasiannya tahun 2024,” kata Sudi Ariyanto, Kepala Bidang Pengembangan Sistem dan Teknologi PLTN, di sela acara Nuclear Youth Summit 2013, yang berlangsung hingga Sabtu (25/5). Menurut Sudi, hal ini dimungkinkan antara lain karena lokasinya relatif aman dari gempa merusak, ditemukannya sumber thorium di pertambangan timah yang dapat menjadi bahan bakar PLTN, serta adanya kelangkaan listrik di Sumatera. Kepala Bidang Promosi PLTN Batan, Eko Mardi mengatakan, pengelolaan PLTN yang bertanggung jawab akan membentuk budaya disiplin para pekerjanya. (YUN)

Sumber: Kompas, Senin 27 Mei 2013, hal. 12.

Tanggapan atas Rencana Membangun PLTN di Bangka Belitung

Protes keras menentang pembangunan PLTN di Semenanjung Muria (Jawa Tengah) telah dilakukan oleh masyarakat di dekat bakal lokasi PLTN tersebut. Pemerintah di bawah Presiden SBY pernah menyatakan tidak akan membangunnya karena mengandung risiko yang besar bagi masyarakat di sekitar lokasi PLTN. Hal yang sama juga diungkapkan oleh mantan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro. Adalah sangat tidak manusiawi ketika rencana pembangunan PLTN di Bangka Belitung tetap dipaksakan, sementara masyarakat di sana tidak memahami risiko yang dapat terjadi. Mengapa tidak dibangun di kawasan Teluk Jakarta, yang lebih efektif dan efisien karena dekat dengan pusat beban listrik dari Sistem Jaringan Transmisi Jawa-Bali-Madura? Apakah karena “kekuatiran” terhadap risiko yang akan membahayakan keselamatan Pemerintah Pusat dan penduduk Jabodetabek yang belasan juta jiwa itu?

Radiasi nuklir dapat didefinisikan sebagai propagasi energi tersebut lewat materi atau ruang. Ini berarti, semakin besar energi nuklir yang dimanfaatkan, semakin besar pula radiasi dan dampaknya apabila bocor ke luar dari reaktor. Saya tidak menentang pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia, sejauh penguasaan teknologi tersebut tidak mengandalkan pada pemanfaatan energinya secara besar-besaran. Yang tergolong energi nuklir dalam kapasitas kecil, antara lain untuk nuclear scanning tubuh pasien, x-rays medis, riset biologi, mendeteksi kebocoran halus pada bendungan sebagai deteksi dini, dll.

Penerapan teknologi nuklir dalam wujud energi (ribuan megawatt) untuk dikonversikan menjadi energi listrik besar sekali risikonya. Dan bencana PLTN Fukushima di Jepang beberapa tahun yang lalu adalah sebuah contoh bencana nuklir, walaupun bukan akibat dari human error. Beberapa negara maju telah bertekad mengakhiri pembangunan PLTN di negaranya dan saat ini hanya memanfaatkan PLTN-nya yang sudah ada sampai berakhir umur ekonomisnya. Amerika Serikat membangun PLTN terakhirnya pada tahun 1974. Jerman melakukan hal yang sama dan menggantikannya melalui pemanfaatan energi angin, solar cells, dan gelombang laut.

Bagi pembaca yang ingin tahu lebih jauh tentang untung-rugi dan risiko membangun PLTN, dapat mengakses pada https://atmonobudi.wordpress.com/2010/12/29/tanggapan-atas-pendapat-pak-boediono-soal-pltn/#more-3 dan tulisan-tulisan lain tentang PLTN Fukushima I dan PLTN Chernobyl di blog ini.

Tidak menggantungkan kebutuhan listrik pada PLTN bukanlah sebuah aib yang akan membuat kita kehilangan gengsi, malu, atau takut dikatakan ketinggalan zaman oleh dunia. Justru sikap tersebut akan dihormati dan dijadikan teladan oleh masyarakat dunia. Sangat banyak riset dalam pemanfaatan radioisotoph untuk tujuan kemanusian yang dapat dilakukan oleh para pakar nuklir di Indonesia. Sebaliknya, memaksakan diri untuk membangun PLTN, walaupun telah terjadi bencana pada PLTN-PLTN Chernobyl, Fukushima I dan puluhan PLTN lainnya, justru dapat menimbulkan kecurigaan tentang kemungkinan adanya kepentingan asing untuk masuk dan melakukan penambangan logam tanah jarang (LTJ) di Bangka Belitung.

Hasil penambangan LTJ di Bangka Belitung jelas akan diekspor ke LN karena kita belum mampu memperkaya (enrichment) LTJ yang mengandung thorium tersebut. Dan thorium yang telah diperkaya dalam wujud Th-323 akan kita impor kembali (baca: dibeli kembali oleh Indonesia) dengan harga berlipat ganda serta untuk digunakan sebagai bahan bakar PLTN di Bangka Belitung. Sungguh sebuah siklus bisnis yang ironis sekali di negara tercinta ini.

Tinggalkan komentar

Filed under National Security, Nuclear Risks Issues, Renewable Energy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s