Memperingati Hari Bumi 2013

Commemorate Earth Day 2013

Tahun ini, tepatnya tanggal 22 April, kita memperingati Hari Bumi dengan tema The Face of Climate Change, atau Wajah dari Perubahan Iklim. Sering kali, isu perubahan iklim tampak sebagai sesuatu yang terpencil dan kabur – masalah yang samar namun kompleks sehingga akan menjadi beban anak cucu kita untuk memecahkannya. Perubahan iklim memiliki efek nyata kepada masyarakat, binatang, dan ekosistem serta sumber daya alam yang mana kita semua bergantung. Bila dibiarkan, efek perubahan iklim tersebut akan menyebar dan membesar dengan cepat seperti menjalarnya api.

Sementara program Pemerintah yang terkait dengan pengurangan emisi karbon, gerakan “menanam semiliar pohon”, dan Millennium Development Goals (MDGs) terus berlangsung, kita masih temui berbagai kontradiksi kebijakan maupun rendahnya kesadaran masyarakat di dalam merawat bumi dan lingkungan.

Berikut ini adalah beberapa isu utama yang diderita oleh bumi kita:

a. Rusaknya hutan-hutan hujan (rainforests) karena dialihkan fungsinya menjadi perkebunan.
b. Semakin meluasnya lahan tandus akibat kemarau panjang.
c. Membuang sampah di sungai dan parit-parit karena rendahnya kesadaran dan rasa tanggung jawab masyarakat yang berujung pada banjir besar.
d. Tercemarnya air tanah akibat tumpahnya limbah berbahaya dan semakin merembesnya air laut jauh ke daratan
e. Merosotnya tingkat keamanan energi nasional oleh kegiatan ekspor batubara dan gas secara besar-besaran, bila dibandingkan dengan pemakaiannya di kegiatan industri dalam negeri.
f. Kontradiksi antara komitmen Pemerintah untuk menurunkan emisi karbon dioksida di satu sisi, dengan kebijakan Pemerintah untuk meningkatkan kapasitas suplai energi listrik dengan memilih membangun PLTU Batubara di sisi lain, yang dikenal sebagai penyebab emisi karbon terbesar dibandingkan dengan pembangkit listrik lainnya.

Pembiaran terhadap perilaku merusak ekosistem masih tetap berlangsung tanpa adanya sanksi tegas dan berat yang memberikan efek jera.

Banjir besar di bantaran sungai Ciliwung sudah puluhan kali terjadi, namun hal tersebut tidak membuat jera para penghuni bantaran sungai dan memutuskan untuk pindah ke lokasi yang aman dan bebas banjir. Ada seorang karyawan, penghuni bantaran sungai selama puluhan tahun, yang pernah saya tanyai mengapa tidak pindah ke lokasi lain yang lebih baik. Jawabannya sederhana namun mengejutkan: “Buat apa pindah, karena setiap kali ada banjir kami kebanjiran rezeki bantuan sembako dan pakaian bekas yang cukup banyak”.

Pemerintah berusaha memacu penyelesaian pembangunan rumah susun di Marunda untuk memindahkan para korban banjir, tetapi yang muncul adalah terjadinya permainan calo yang membuat harga rumah susun tersebut menjadi mahal.

Berikut ini kutipan Berita KBR68H, Jakarta:

Kementerian Kehutanan membenarkan ada 12 Kementerian dan Lembaga Negara yang diduga terlibat praktek penebangan hutan illegal.

Juru bicara Kemenhut Sumarto mengatakan kepolisian dan penjaga hutan membiarkan penebangan hutan itu. Modus dilakukan dengan cara melibatkan perusahaan dan aparat pemerintahan.

“Pembiaran itu yang nampak sekali, misalnya kehutanan yah sebagai pemangku kawasan hutan semestinya satu kali 24 jam di semua hutan itu ada demikian juga daerah yang sudah mendapatkan dari kehutanan juga untuk mengelola hutan produksi, kemudian juga Kepolisian dan TNI yang juga lokasi ini di ujung-ujungnya ada. Kan lucu, kalau kita bicara kayu yah, kayu itu massanya besar banget, lewat di jalan raya. Di depan masyarakat, kan kelihatan. Jadi bukan hanya pembiaran, tapi oknum juga,” kata Sumarto saat dihubungi KBR68H Jakarta, Rabu (24/4).

Juru bicara Kemenhut Sumarto menambahkan sejak 2000-an lembaganya telah memperketat pengawasan hutan lindung dari pembalakan liar. Namun pengawasan itu masih lemah.

Sebelumnya, KPK menemukan terdapat setidaknya 12 Kementerian atau Lembaga Negara yang terlibat pada praktek illegal logging dan tambang liar. Pembalakan liar ini melibatkan partai politik untuk mengisi dana parpol.

Mari kita tingkatkan kesadaran kita semua dalam turut memelihara kualitas bumi dan lingkungan alam di sekitar kita. Semua itu dapat kita lakukan dengan memulainya dari perubahan sikap dan gaya hidup kita dari yang paling sederhana (keluarga) hingga yang lebih besar (nasional).

2 Komentar

Filed under Anthropogenic, Carbon dioxide emission, Energy Security, Floods

2 responses to “Memperingati Hari Bumi 2013

  1. Terima kasih Prof, seharusnya bisa bekerjasama antara dunia akademisi dengan pemerintah dalam mengatasi masalah perusakan lingkungan. Sayangnya pemerintah kita justru bagian dari masalah itu. Selamat berjuang  Prof.

    ________________________________ Dari: Atmonobudi Soebagio Kepada: siahaan.chontina@yahoo.com Dikirim: Jumat, 26 April 2013 9:23 Judul: [New post] Menyambut Hari Bumi 2013

    WordPress.com atmonobudi posted: “Tahun ini, tema hari bumi yang kita peringati adalah The Face of Climate Change, atau Wajah dari Perubahan Iklim. Sering kali, isu perubahan iklim tampak sebagai sesuatu yang terpencil dan kabur – masalah yang samar namun kompleks sehingga akan menjadi “

    • Dear Ibu Chontina.

      Terima kasih banyak atas tanggapan dan dukungannya.

      Semoga semakin banyak teman2 maupun masyarakat pembaca untuk bersama-sama kita mengubah gaya hidup kita yang mungkin selama ini telah boros energi tanpa kita sadari. Juga dalam hal tidak membuang sampah sembarangan, kita harus kampanyekan terus-menerus.

      Salam,
      Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s