PLTU Batang Berpotensi Melepas Emisi Karbon Tinggi

Batang Steam Power Plant Could Release High Carbon Emission

JAKARTA. KOMPAS – Green Peace Indonesia, aktivitas pembangkit listrik tenaga uap yang akan dibangun di Batang berpotensi melepaskan emisi karbon sebesar 10,8 juta ton per tahun. Selain tidak sejalan dengan upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, pembangunan PLTU itu juga mengancam kawasan konservasi laut Batang.

“Meski menggunakan teknologi canggih, emisi karbon yang dilepaskan setara emisi Myanmar tahun 2009,” kata Arif Fiyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Rabu (3/4), di Jakarta.

Pilihan menggunakan bahan bakar batubara untuk pembangkit listrik, kata Arif, menunjukkan ketidak konsistenan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca. Greenpeace mendorong pemanfaatan energi bersih seperti panas bumi yang belum optimal.

Selain karbon, PLTU Batubara berkapasitas 2 x 1.000 megawatt ini juga akan melepaskan polutan beracun lain dalam jumlah sangat besar. Seperti SOx sebesar 16.200 ton per tahun, NOx sebesar 20.200 ton per tahun, dan PM 2,5 sebesar 610 ton per tahun.

“Emisi ini berbahaya bagi kesehatan masyarakat sekitar,” katanya. Hingga kini, sebagian besar masyarakat menolak pembangunan PLTU Batang.

Penolakan dilakukan beberapa kali di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pengadilan Tata Usaha Negara Jawa Tengah, dan Pengadilan Negeri Semarang (Kompas, 24/4/2012 dan 4/9/2012).

Greenpeace Indonesia bersama Lembaga Bantuan Hukum Semarang yang mendampingi warga mencatat, pembangunan PLTU Batang yang membutuhkan lahan 700 hektar juga mengancam pertanian produktif dan permukiman di lima desa, yakni Karanggeneng, Roban, Ujungnegoro, Wonokerso, dan Ponowareng.

PLTU juga akan mengganggu Kawasan Konservasi Laut Daerah Ujungnegoro-Roban. Area seluas 6.889,75 hektar sepanjang garis pantai 7 kilometer itu masuk dalam SK Bupati Batang No. 523/2005 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Laut daerah Pantai Ujungnegoro-Roban.

Salah satu proyek Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 sektor energi di koridor Jawa ini telah mengkriminalisasi lima warga (Kompas, 12/2). PN Semarang membebaskan dua warga dan memvonis tiga warga lain dengan pidana penjara 5 bulan 5 hari.

Wahyu Nandang dari LBH Semarang mengatakan, kriminaisasi bentuk ketidakadilan terhadap Pasal 66 UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan. “Kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan adalah pelanggaran hak asasi manusia,” kata Wahyu.

Proyek PLTU itu dilakukan konsorsium K-Power, Itochu, dan Adaro Power yang menamakan diri Bhimasena Power Indonesia. (ICH)

Sumber: Kompas, 4 April 2013, hal. 14.

NEWS UPDATE:

KELISTRIKAN: PLTU Batang Segera Dibangun

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang, Jawa Tengah, akhirnya bisa mulai dikerjakan.  Kepastian pemenuhan pembiayaan (financial closing) PLTU Batang diteken di depan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis pekan lalu.

Jokowi mengatakan financial closing merupakan bukti bahwa pemerintah serius. Pembangunan PLTU Batang sempat tertunda selama empat tahun karena persoalan pembebasan tanah.  “Pemerintah sudah menyelesaikan masalah.  Saya minta investor agar proyek tidak mundur,” kata Jokowi.

Ia ingin pekerjaan PLTU selesai pada 2019.  Keberhasilan proyek ini akan menjadi contoh kisah sukses public private partnership pertama bagi pemerintah di tengah kebutuhan listrik yang terus menngkat.

PLTU Batang mempunyai kapasitas listrik 2 x 1.000 megawatt dengan nilai investasi US$ 4 miliar atau sekitar Rp. 52 triliun.  Proyek yang akan dibangun PT Bhimasena Power Indonesia ini mendapat sokongan dana dari Japan Bank for International Cooperation dan sindikat perbankan komersial internasional.

Sumber: TEMPO, 19 Juni 2016, hal. 94.

 

TANGGAPAN:

Harus kita akui bahwa batubara adalah tergolong bahan bakar fosil yang paling polutif (950 kg CO2/MWH), namun juga paling murah. Pengubahan batubara padat menjadi batubara cair, menurut hasil kajian internasional, relatif lebih ramah lingkungan karena rendah emisi karbon dioksidanya bila dibandingkan dengan bahan bakar minyak bumi. Sebaliknya, dengan tetap dipertahankannya pemberian subsidi terhadap BBM, harga batubara cair tidak mampu bersaing.

Sejauh ini, PLTU di Indonesia menggunakan penyaring asap yang ditimbulkan dari proses pembakaran batubara atau BBM dan gas, di mana cara kerja sistem tersebut hanya menyaring abu terbang (fly ash) saja. Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) tidak murah karena memerlukan suplai listrik 12% – 15% dari kapasitas pembangkit PLTU.

Kita dapat menggunakan kemajuan bio-technology untuk menyerap gas CO2 dari PLTU. Caranya adalah dengan memanfaatkan pembiakan microalgae secara photo synthesa yang memerlukan gas CO2 sebagai salah satu kebutuhan dalam prosesnya. Algae dapat hidup di air dengan kadar garam yang tinggi, dan teknik kultivasinya tidak rumit. Yang penting adalah dalam “pertanian algae” tersebut diperlukan sirkulasi air yang cadangan airnya berlimpah. Dan PLTU di Indonesia yang umumnya berlokasi di pesisir sangat cocok dengan memanfaatkan bio-technology berbasis algae.

Bila lahan yang tersedia di kompleks PLTU tidak luas, maka kultivasi algae dapat menggunakan photobioreactor dimana algae tumbuh secara vertical. Pihak PLTU juga dapat bekerja sama dengan para petambak ikan yang bertetangga dengan PLTU ini. Sebagian dari lahan tambak mereka dapat diubah menjadi kolam-kolam algae.

Dalam kerja sama ini PLTU tidak perlu menjual CO2 kepada para petambak karena dapat memperoleh kompensasi dari sistem perdagangan karbon rumusan Protokol Kyoto dan sekaligus memperoleh predikat low-carbon power plants. Sebaliknya bagi petambak, sebagai pengganti dari sebagian hasil panen mereka yang berupa udang atau bandeng akan digantikan dengan panen algae yang kaya akan lemak (lipid) dan dapat diolah menjadi bio-solar dan produk-produk lain yang berasal dari minyak kelapa sawit atau minyak kelapa.

Semoga dapat menjadi pertimbangan para pengelola PLTU di tanah air.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Algae as CO2 absorber for Thermal Power Plants, Algae Cultivation, Bio Technology, Carbon dioxide emission, Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations, Energy, Geothermal Energy, Power Generation and Distribution, Renewable Energy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s