KEBUTUHAN DOMESTIK: BPH Migas Minta Ekspor Gas Dihentikan

JAKARTA – KORAN SINDO – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) meminta pemerintah segera menghentikan kegiatan ekspor gas. Anggota Komite BPH Migas Qoyum Tjandranegara mengatakan, kegiatan ekspor migas ikut mengakibatkan kerugian negara hingga ratusan triliun rupiah.

Menurut Qoyum, penghentian ekspor gas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gas domestik yang selama ini kekurangannya dipenuhi dari impor. Selain itu, harga ekspor yang cukup murah menyebabkan pasokan gas untuk kebutuhan domestik terus berkurang. “Malahan kita impor gas dengan kualitas yang buruk,” kata Qoyum di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, akibat ekspor gas pada 2011 devisa negara merugi hingga Rp. 183 triliun. Kerugian tersebut masih ditambah tahun-tahun sebelumnya yang jika dijumlah cukup signifikan. Sementara, Qoyum belum menghitung kerugian pada tahun ini. Dia meminta pemerintah menghentikan ekspor gas yang saat ini telah mencapai 50% dari produksi nasional.

Dia juga mengatakan, langkah pemerintah mengekspor gas tidak membawa manfaat bagi rakyat karena tak memberikan nilai tambah dari produk gas. Selain itu, ekspor gas yang dilakukan secara terus menerus tidak memberikan keuntungan bagi negara. “Gas kita diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, lalu diolah dan dibeli kembali oleh bangsa ini dengan harga dua kali lipat,” ungkapnya.

Qoyum juga menjelaskan, setiap Lsp (liter setara premium/solar) gas bumi yang diekspor dibutuhkan 1 liter BBM sebagai gantinya. Sementara, harga gas sebesar 55% harga 1 liter BBM, sehingga setiap 1 liter gas yang diekspor menyebabkan negara kehilangan devisa 45% harga BBM per liter dengan catatan harga minyak mentah ICP sebesar USD 111,- per barrel dengan nilai tukar Rp. 9.000,- per USD dan harga BBM di pasar Rp. 8.462,- per liter.

Kepala Monetisasi Minyak dan Gas Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas bumi (SKK Migas) Popi Ahmad Nafis sebelumnya mengatakan, tahun ini akan terjadi penurunan ekspor gas alam cair LNG. Hal itu sering menurunnya produksi LNG nasional. Dia menuturkan ekspor LNG Indonesia pada tahun ini diperkirakan turun sekitar 10,8& menjadi 264 kargo dari 296 kargo pada 2012. [nanang wijayanto]

Sumber: Koran Sindo, Kamis 14 Maret 2013, hal. 17.

Komentar:

Sudah seharusnya semua bentuk ekspor mineral dan barang tambang (batubara, minyak bumi, dan gas) tidak lagi berbentuk bahan mentah (raw materials), karena di samping harga jualnya rendah juga tidak memiliki nilai tambah bagi produk dalam negeri. Bahkan, ketika harga di pasar dunia rendah, seharusnya ekspor segera dihentikan. Mengekspor barang tambang, yang merupakan sumber energi atau bahan bakar, dalam jumlah besar jelas akan melemahkan ketahanan nasional di bidang energi (energy security). Belajarlah dari China, yang lebih memilih impor batubara dari pada mengekspornya, padahal negara tersebut kaya akan batubara.

Bahan bakar fosil sangat rentan terhadap situasi geopolitik negara pengekspornya, baik secara internal maupun dalam hubungan antar negara tetangga. Oleh sebab itu, disarankan agar kontrak ekspor tidak lagi dilakukan secara jangka panjang.

Berita tentang gas yang dijual ke Singapura dan dibeli kembali dengan harga dua kali lipat tersebut sangat memalukan, seakan bangsa ini tidak menguasai teknologi maupun minim pakar migas dan teknik pengolahan di industri hilirnya.

Saya juga masih bertanya-tanya, apakah Blog Mahakam pasca keputusan MK sudah dikelola secara jauh lebih baik dan tidak lagi merugikan negara seperti yang dialami selama dua puluhan tahun terakhir?

Saya jadi teringat ketika PT Asean Aceh Fertilizer harus gulung tikar karena kebijakan produksi gas ketika itu lebih diprioritaskan untuk ekspor dan harga dalam negeri relatif mahal. Akankah terulang kembali ada perusahaan yang gulung tikar karena salah kebijakan pemerintah?

4 Komentar

Filed under Energy, Energy Security, Natural Resources, Sustainable Development

4 responses to “KEBUTUHAN DOMESTIK: BPH Migas Minta Ekspor Gas Dihentikan

  1. Kurtubi umar Kurtubi

    Saya tdk sepndpt jika seluruh ekspor gas dihentikan. Yg hrs sgra dihentikan adlh ekspor gas dg harga sangat murah sprti gas Tangguh yg diekspor ke China dg harga hanya US$3.35/mmbtu smntara dlm negeri (PLN, Pabrik pupuk, industri) selama brtahun2 kekurangan gas dan saat ini mereka beli gas dg harga skitr US$6 – 9/MMBTU itupun gas yg mrk dptkan jauh dibawah kebutuhan. Sedankan gas yg dijual dg harga wajar sprti gas/LNG Badak yg dikembankan dan dijual Pertamina ke Jepang dg harga skitar US$20/mmbtu (mngikuti harga crude/minyak dunia) HRS DIPERTAHAN DAN DILANJUTKAN. Krn produksi gas nasional saat ini dan kedepan akan jauh diatas kebutuhan dlm negeri, sehngga ekspor gas hrs diteruskan, jngan distop sprti usul BPH Migas. Yg dibutuhkan adlh perbaikan tata kelola migas nasional dg mncabut uu migas krn trbukti sdh brtentangan dg Konstitusi (sdh 17 pslnya dicabut MK) dan trbukti merugikan negara scr finansial (sprti skandal penjualan gas/LNG Tangguh ke China). Kedepan: KITA BUTUH PERUBAHAN DAN RESTORASI DLM TATA KELOLA MIGAS NASIONAL, bukan pelarangan ekspor gas. Tks. Kurtubi
    Contact: (email:kurtubi@cbn.net.id dan dkurtubi@yahoo.com).

    • Dear Dr. Kurtubi.

      Terima kasih banyak atas tanggapannya yang sangat terbuka. Semoga para pembaca boleh semakin lengkap di dalam memahami persoalan Migas di negara tercinta ini. Balance of information memang perlu bagi para pembaca maupun pemerhati.
      Sekali lagi terima kasih atas Tanggapan Bapak.

      Salam hormat,
      Atmonobudi Soebagio.

  2. Azman Aziz

    Kebijakan pemerintah yang mengutamakan ekspor gas tanpa memperdulikan kebutuhan gas didalam negeri, sudah menimbulkan korban pada daerah Industri Lhokseumawe. PT. Asean Aceh Fertilizer ( PT. Pupuk Asean Aceh ) tidak bisa lagi berproduksi sejak Agustus 2003. Bukan hanya tidak berproduksi lagi, tetapi investasi yang menelan biaya ratusan juta dollar itu sudah menjadi besi tua. Padahal Pabrik kebanggaan orang Aceh ini pada tahun 1996 pernah mendapat penghargaan sebagai pabrik single train terbaik di dunia, yang dapat berproduksi diatas 120 percent kapasitas design.
    Kini status Pabrik PT. Asean Aceh Fertilizer ini masih tidak jelas.
    Sebagian Aset nya sudah di likuidasi, tetapi Pabrik dan Perumahan Karyawan di biarkan hancur , tanpa rencana…..

    Bukan hanya PT. Asean Aceh Fertilizer, tetapi PT. Pupuk Iskandar Muda yang memiliki dua Pabrik juga harus rela untuk beroperasi hanya dengan satu Pabrik karena kurangnya pasokan gas untuk mereka. Padahal untuk Pabrik Pupuk Kimia yang di design untuk beroperasi non stop ini (kecuali saat maintenance tahunan selama lebih kurang 3 minggu) adalah beresiko tinggi bila lama di hentikan atau sering di hentikan.

    • Dear Bapak Azman Aziz.

      Terima kasih atas respon dan penjelasan Bapak tentang nasib PT. Asean Aceh Fertilizer dan pabrik-pabrik pupuk lainnya.

      Tanggapan yang memuat informasi menyedihkan ini perlu dibaca oleh para pimpinan di Kementerian dan Lembaga-Lembaga yang terkait dengan kebijakan Migas dan Sumber Daya Alam. Gas alam merupakan bahan baku vital bagi pabrik pupuk, dan pupuk itu sendiri sangat diperlukan untuk mendukung program menuju kemandirian produksi pangan nasional.

      Yang kita perlukan saat ini bukan hanya sekadar para pengambil keputusan tertinggi yang juga ahli di Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, tetapi juga yang peka dan tanggap terhadap situasi riel yg bisa terjadi di lapangan, sebelum mengeluarkan keputusan.

      Salam,
      Atmonobudi Soebagio.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s