Mengelola Energi Listrik Nasional Secara Efisien dan Berkelanjutan

“Managing National Electrical Energy Efficiently and Sustainably.”

Pembangunan Berkelanjutan.

Istilah “pembangunan berkelanjutan” (PB) telah mengemuka pada diskusi-diskusi tentang kebijakan lingkungan sejak pertengahan 1980-an. PB mengacu pada modus pembangunan manusia di mana penggunaan sumber-sumber daya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan sekaligus melestarikan lingkungan, sehingga kebutuhan tersebut dapat dipenuhi tidak hanya di masa sekarang, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Definisi PB yang diperkenalkan oleh Komisi Brundtland adalah yang paling sering dikutip. Definisinya adalah: “Pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.”

PB terkait dengan kepedulian terhadap daya dukung sistem alam dan tantangan sosial yang dihadapi oleh umat manusia. Pada awal tahun 1970-an, kata “keberlanjutan” diterapkan untuk menggambarkan ekonomi. Ekologi telah menunjuk batas pertumbuhan/ pembangunan adalah “dalam keseimbangan dengan sistem pendukung ekologi dasar.”

Model PB merupakan sebuah tantangan terhadap pembangunan yang konvensional. Pendekatan-pendekatan konvensional memandang pembangunan sekadar berupa modernisasi ala barat. Teori modernisasi menyatakan bahwa semakin dibedakannya masyarakat secara khusus dan terstruktur, semakin modern dan progresif masyarakat tersebut (Pepper, 1996). Orang seringkali berpendapat bahwa PB identik dengan modernisasi.

Penulis tidak setuju dengan pendapat tersebut, karena modernisasi menuntut kebutuhan akan energi (termasuk energi listrik) secara berlebihan hanya demi meningkatkan kenyamanan hidup dan kemudahan-kemudahan lainnya, misalkan otomatisasi peralatan rumah tangga dan ketergantungan pada sistem penyejuk udara. Keberlanjutan adalah lebih dari sekadar “kualitas hidup” – ia juga meminta kita untuk mempertimbangkan kepentingan “orang asing dalam ruang dan waktu”, serta mempertimbangkan batas ekologi dan spesies lainnya.

Keamanan Energi Nasional.

Keamanan energi, atau energy security, adalah sebuah terminologi yang menghubungkan antara keamanan (ketahanan) nasional sebuah negara dengan ketersediaan sumber-sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan energinya. Akses untuk memperoleh energi secara murah menjadi esensial dalam memberdayakan ekonomi modern. Akan tetapi kelancaran proses transportasi dan distribusi bahan bakar/energi antar negara belakangan ini semakin rentan apabila suasana geopolitik sedang bergolak.

Sumber-sumber energi terbarukan dan peluang efisiensi energi kini telah dipahami oleh negara-negara secara meluas dan terbuka. Kondisi tersebut merupakan hal yang kontras bila dibandingkan dengan hanya beberapa negara yang memiliki sumber minyak bumi dan gas alam dan negara-negara tersebut harus mengimpornya.

Penyebarluasan informasi tentang potensi energi terbarukan dan efisiensi energi secara cepat, serta diversifikasi teknologi dari sumber-sumber energi tersebut, akan membawa negara-negara pada tingkat keamanan energi yang semakin kuat, serta memberi manfaat ekonomi nasional mereka secara maksimal.

Diskusi tentang Pengelolaan Energi Listrik secara Efisien dan Berkelanjutan.

Dalam merencanakan suplai energi (khususnya energi listrik) secara berkelanjutan, kita harus menempatkan keanekaragaman potensi sumber daya alam sebagai faktor penting dalam membangun keamanan energi nasional, dan kemampuan menyuplai energi secara berkelanjutan yang sangat mengandalkan pada potensi sumber-sumber energi yang tidak pernah habis dan ramah lingkungan.

Alam Indonesia cukup kaya akan sumber-sumber energi, seperti minyak bumi, batubara, dan gas alam. Ketiga jenis energi ini merupakan energi fosil yang terbatas jumlahnya dan akan habis. Namun negara kita juga kaya akan energi terbarukan, seperti panas bumi, energi matahari, angin, gelombang dan arus laut, dll.

Ketergantungan Indonesia yang hanya pada ketiga energi fosil tersebut akan berakibat terkuras habisnya cadangannya di perut bumi Indonesia dalam waktu tidak lebih dari lima generasi. Jika kita hitung sejak awal kemerdekaan Indonesia, kini kita akan memasuki generasi ke empat. Dan cadangannya pun akan semakin cepat habis apabila dikuras habis-habisan untuk tujuan ekspor demi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan kebutuhan generasi yang akan datang.

Itulah yang saat ini sedang terjadi di Indonesia, yang cadangan dan penggunaan energinya tidak dikawal dengan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah secara tegas serta tidak didukung oleh pengawasan yang ketat.

Ekspor batubara meningkat tajam dalam lima tahun terakhir. Cina yang memiliki cadangan batubara terbesar di dunia, ternyata lebih memilih mengimpor batubara karena harganya relatif murah. Indonesia dan Vietnam merupakan pengekspor batubara terbesar ke Cina.

Sebagian besar penambangan sumber-sumber minyak dan gas terbesar di tanah air dipercayakan kepada perusahaan asing, dan negara hanya memperoleh bagian berdasarkan nilai kontrak kerjanya. Apakah PT Pertamina dianggap belum mampu melakukannya?

Menurut Undang-Undang Dasar R.I. 1945, Pasal 33 butir (3) disebutkan bahwa “Bumi dan air kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Adalah sangat tragis ketika sejumlah pembangkit listrik di Indonesia mengalami kesulitan dalam membeli gas di dalam negeri karena produsennya telah terikat kontrak penjualan dengan negara lain dan tidak menyisakan hasil produksinya untuk kebutuhan dalam negeri.

Dari diskusi di atas, dapat dirangkumkan bahwa pengelolaan energi listrik secara efisien dan berkelanjutan dapat kita lakukan apabila:

• Memahami sepenuhnya tentang pengertian “Pembangunan Berkelanjutan“.
• Memahami sepenuhnya bahwa keamanan energi nasional sangat besar pengaruhnya terhadap ketahanan nasional suatu bangsa.
• Menyadari sepenuhnya bahwa sumber energi yang berasal dari fosil tergolong sumber energi yang dapat habis, sehingga harus dikelola dengan hati-hati.
• Mengetahui secara akurat sisa cadangan minyak dan gas bumi kita, serta mengelolalanya secara efisien, dan diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
• Melakukan diversifikasi sumber-sumber energi bagi produksi energi listrik nasional, dimana rasio dalam total kapasitas daya listrik dari masing-masing jenis sumber energinya harus seimbang.
• Menyadarkan rakyat bahwa kesejahteraan tidak ada kaitannya dengan modernisasi.
• Mendorong masyarakat agar berhemat dalam menggunakan energi listrik maupun gas dan BBM.

Keamanan energi nasional dapat ditingkatkan melalui diversifikasi sumber-sumber energi, baik yang sifatnya dapat habis maupun yang terbarukan kembali. Karena sumber-sumber energi yang dapat habis tersebut sudah semakin mengecil cadangannya, maka sumber-sumber energi yang terbarukan harus dipacu agar dapat segera menggantikan energi tersebut.

Untuk mengukur keanekaragaman sumber energi, dalam hal ini sumber energi bagi pembangkitan listrik, kita dapat menggunakan formula Shannon-Wiener Index (SWI). Formula ini sangat populer digunakan dalam bidang keilmuan biologi. Untuk mengetahui aplikasinya, dapat dibaca pada: https://atmonobudi.wordpress.com/2011/08/03/shannon-wiener-index-swi-sebagai-indikator-dari-diversifikasi-pembangkit-dan-ketahanan-energi-listrik-nasional/ .

Di samping perhitungan indeks keanekaragaman, SWI, analisis mengenai tingkat keamanan energi nasional juga perlu mempertimbangkan:

(a) Penurunan tingkat risiko dan mengumpulkan data pengguna energi listrik (jumlah penduduk, laju pertumbuhan kebutuhan energi listrik – baik dari pelanggan rumah tangga maupun industry dan perdagangan). Meskipun total kebutuhan pelanggan rumah tangga relatif kecil dalam megawatt, tetapi merupakan jumlah pelanggan terbesar (86%).

Risiko yang dimaksudkan di sini adalah risiko kelancaran suplai bahan bakar fosil dari negara lain apabila kita mengimpornya. Dampak perubahan iklim yang kita alami dalam wujud fluktuasi besarnya gelombang laut akan mengganggu kelancaran kapal-kapal tanker dalam mengirim bahan bakar.

(b) Pembandingan antara sumber-sumber energi terbarukan dengan sumber-sumber energi yang berasal dari fosil. Saat ini diversifikasi energi listrik berdasarkan sumber-sumber energinya masih didominasi oleh batubara. Jumlah total energi yang berasal dari energi terbarukan harus secepatnya ditingkatkan. Laju pertumbuhan kebutuhan listrik ke depan tidak lagi bisa diatasi dengan membangun pembangkit listrik yang masih mengandalkan energi fosil. Semakin ditunda pengalihan ini, semakin berat beban Pemerintah dalam upaya menggantikan seluruh energi fosil dengan energi terbarukan di masa depan.

Dari data IMF Working Paper WP/11/39 tentang pengukuran keamanan energi dari negara-negara penghasil minyak dan gas, posisi Indonesia sebagai net exporter minyak terhadap total share pada tahun 1992 adalah 2,1%, dan pada tahun 2008 telah menghilang dari data. Ini berarti bahwa jumlah minyak yang diimpor telah melampaui yang diekspor. Sedangkan dalam total net export gas, posisi Indonesia sebesar 7,4% pada tahun 1992 dan turun menjadi 4,9% pada tahun 2009.

Langkah yang harus ditempuh oleh Pemerintah memang cukup berat, dan akan semakin berat apabila tingkat pemahaman para pengambil keputusan akan pentingnya keamanan energi nasional masih rendah.

Tinggalkan komentar

Filed under Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations, Energy, Energy and Geopolitics, Energy Savings, Energy Security, National Security, Natural Resources, Renewable Energy, Shannon-Wiener Index, Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s