Lahan Sawit Ancam Padi: Mentan Minta Petani Berhati-hati

Palm Plantations threaten Rice Fields: Minister of Agriculture asked the Farmers to be Careful

DELI SERDANG, KOMPAS – Menteri Pertanian Suswono mengingatkan para petani untuk tidak mengonversi lahan padi sawah mereka menjadi lahan kelapa sawit. Konversi lahan ini dinilai sangat cepat. Saat ini lahan kelapa sawit sudah lebih luas daripada lahan padi.

Lahan kelapa sawit telah mencapai 8,6 juta hektar, lebih luas daripada lahan padi yang hanya 8,1 juta hektar. Setidaknya setiap tahun diperkirakan 100.000 hektar lahan pertanian terkonversi menjadi lahan tanaman sawit.

Menurut Suswono, jika petani mengonversi lahannya dengan sawit, saat harga anjlok, petani tidak bisa menjual sawitnya. “Apa mau makan sawit?” Maka makanan pokok harus diselamatkan,” kata Suswono dalam temu wicara dengan petani dan panen benih padi varietas Mekongga di Balai Benih Induk Murni, Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatra Utara, Jum’at (11/1).

Suswono mengatakan, kebutuhan kelapa sawit mentah (CPO) di dalam negeri hanya 7 juta ton, sementara produksinya mencapai 23 juta ton. Sisa produksi harus dijual ke luar negeri. Saat ini penjualan sedang tidak bagus, maka ia mengimbau para petani untuk tidak mengubah lahannya dengan kelapa sawit.

Hal serupa dikatakan Menteri Pertanian saat menghadiri penanaman kedelai di Aceh Timur pertengahan Desember lalu. Ia mengimbau petani untuk tidak mengubah lahan pertaniannya menjadi lahan sawit.

Hal ini didasarkan pada pengamatannya dari udara dari Medan menuju Aceh Timur dan menemukan banyak sawah yang di tengah-tengahnya ditumbuhi sawit. “Saya yakin banyak lahan sawit yang ada sebelumnya adalah lahan sawah. Betul-betul lahan pertanian habis. Hati-hati dengan sawit,” kata dia.

Saat menghadiri Safari Dakwah Partai Keadilan Sejahtera di Medan, Kamis malam, Suswono juga mengatakan hal serupa. Ia mengimbau petani mempertahankan lahan pertaniannya karena ke depan harga pangan akan meningkat.

Kepala Bidang Data Dinas Pertanian Sumatera Utara Lusyantini mengatakan, lahan yang banyak dikonversi oleh petani menjadi perkebunan sawit adalah lahan padi non-irigasi. Tercatat lahan non-irigasi pada 2004 sebanyak 208.080 hektar. Pada tahun 2011 menjadi 190.043 hektar.

Nelson Sinaga, Kepala Dusun Seibuluh, Desa Sialang Taji, Kualuh Selatan, Labuhan Batu, mengatakan, konversi lahan sawah menjadi lahan sawit mulai terjadi di desanya tahun 1990-an. Konversi terjadi bertahap dipicu jebolnya tanggul Sungai Kualuh sehingga tanaman padi sering gagal. Akhirnya, petani secara bertahap mengubahnya menjadi lahan sawit. (WSI)
Sumber: Kompas, Sabtu, 12 Januari 2013, hal. 18.

Komentar:

Dari kebutuhan CPO di dalam negeri yang hanya 7 juta ton, berapa banyak yang dikonversikan menjadi BBM (solar) nabati? Bukankah kelebihan produksi CPO yang sebesar 16 juta ton dapat dikonversikan menjadi BBM tersebut? Apakah Pertamina enggan memborongnya, karena lebih menguntungkan mengolah minyak fosil menjadi solar dari pada menggunakan CPO? Bukankah pemerintah telah bertekad akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap BBM fosil impor dan ingin memacu produksi BBM nabati?

Pertamina, sebagai perusahaan milik negara, seharusnya tidak mencari keuntungan semata, melainkan juga turut memperkokoh keamanan energi nasional (energi security) secara berkelanjutan di negara ini. Menurut World Resources Institute, energy security didefinisikan sebagai: sufficiency of supply as well as reliability, affordability, environmental sustainability, geopolitical stability, and social acceptability.

Di tengah penolokan beberapa beberapa maju untuk membeli CPO Indonesia, kita tidak perlu panik, terpukul, dan kehabisan akal hanya karena larangan tersebut. Adalah lebih menguntungkan (value added) bila CPO tersebut diolah penjadi produk jadi di dalam negeri, seperti, minyak goreng, mentega, sabun, deterjen, dll, dan komoditi tersebut dipasarkan ke negara-negara di Afrika dan negara berkembang lainnya dengan harga yang kompetitif, sebagaimana keberhasilan ekspor produk tekstil dan pakaian jadi buatan kita di sana.

Ke depan, kita perlu mulai pikirkan usaha lain yang hasil panennya juga dapat menjadi bahan baku sejumlah produk yang selama ini bergantung pada CPO maupun kopra. Mengapa kita tidak menoleh ke “tambak” alga, atau ganggang laut di kawasan pesisir Indonesia yang panjang totalnya lebih dari 81.000 kilometer? Disamping kandungan lemaknya (lipid) cukup siginifikan, bisnis ini tidak menyita lahan yang luas karena dapat “ditambak” secara vertikal. Makanan alga (melalui foto sintesa) berupa CO2 dalam jumlah besar dapat diperoleh dari gas buang PLTU-PLTU yang umumnya berlokasi di pantai. Jadi ada semacam “simbiose mutualistis” antara petambak alga dan PLTU, dan juga sekaligus menurunkan konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfir wilayah negara kita.

Tinggalkan komentar

Filed under Bio-fuels from Algae, Energy and Geopolitics, Energy Security, National Food Security, National Security, Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s