Mari Kita Kembangkan BBM Nabati dari Mikroalga di Indonesia

Let’s Develop Bio-Fuels from Algae in Indonesia.

Bahan bakar nabati (biofuel) yang terbarukan sangat diperlukan untuk menggantikan bahan bakar fosil bagi sektor transportasi, yang menjadi penyebab pemanasan global dan terbatas ketersediaannya.  Bio-diesel dan bio-etanol adalah dua jenis bahan bakar nabati potensial yang telah menarik perhatian dunia. Bahan bakar yang dihasilkan dari hasil pertanian/perkebunan ini ternyata tergolong tidak berkelanjutan (meskipun tergolong terbarukan) dalam menggantikan bahan bakar fosil untuk transportasi.  Di lain pihak,  bio-diesel dari mikroalga, atau kita kenal dengan sebutan ganggang laut, tampaknya yang benar-benar akan menggantikan minyak bumi bagi transportasi tanpa mempengaruhi pasokan makanan dan produk tanaman lainnya.   Tanaman penghasil minyak yang paling produktif, seperti kelapa sawit, tidak akan mampu menyaingi mikroalga dalam memenuhi kebutuhan akan bio-diesel secara berkelanjutan.  Demikian juga bio-etanol dari tebu tidak dapat menyaingi mikroalga. Mengapa demikian?

Bio-diesel dan bio-etanol yang ada tidak tergolong berkelanjutan.

Bahan bakar cair terbarukan bebas karbon akhirnya benar-benar  akan menggantikan minyak bumi sebagai bahan bakar transportasi yang selama ini berkontribusi terhadap pemanasan global. Bahan bakar bio-diesel (atau kita menyebutnya bio-solar) dari tanaman biji (jagung, jarak pagar, kelapa sawit) dan bio-etanol dari tanaman karbohidrat berserat (tebu, singkong, gula bit) belakangan ini diproduksi secara besar-besaran di dunia (khususnya oleh Brazil) sebagai bio-fuel yang tergolong terbarukan, tapi produksi mereka yang dalam jumlah besar itu  digolongkan sebagai “tidak berkelanjutan”  (unsustainable). Kata tidak berkelanjutan dalam tulisan ini terkait dengan pemahaman bahwa kedua bahan bakar nabati tersebut tidak mampu menggantikan seluruh bahan bakar fosil cair yang selama ini sangat diandalkan oleh sektor transportasi.

Sebagai alternatifnya, kali ini penulis memperkenalkan mikroalga. Mikroalga adalah mikro organisme fotosintetik yang dapat mengkonversi sinar matahari, air, dan karbon dioksida menjadi biomassa alga. Mikroalga yang sangat kaya akan minyak ini [1,2], dapat dikonversi menjadi minyak bio-diesel dengan menggunakan teknologi yang ada. Tentunya mikroalga  juga memerlukan makanan (nutrients), yaitu nitrogen dan silicate, yang sangat dibutuhkan untuk  berkembang biak lewat pemecahan sel.

Artikel ini membahas secara umum potensi mikroalga, yang secara berkelanjutan mampu menyediakan bio-diesel sebagai pengganti seluruh minyak bumi yang menjadi bahan bakar transportasi, seperti bensin, bahan bakar jet dan diesel. Sebagai penghasil minyak nabati, bio-diesel dari mikroalga memiliki potensi besar untuk menggantikan minyak fosil sebagai bahan bakar transportasi tanpa mengganggu pasokan makanan dan produk pertanian lainnya. Sifat dan kandungan minyak yang ada dalam mikrolga semakin menegaskan kepada kita bahwa bio-diesel mikroalga merupakan alternatif yang lebih baik dari pada bioetanol yang berasal dari tebu, yang selama ini merupakan bio-fuel transportasi  [3].

Mikroalga mampu menggantikan seluruh BBM fosil.

Kandungan minyak pada beberapa jenis mikroalga  lebih dari 80 persen dari berat biomassa alga dalam keadaan kering [1,2].  Minyak dari tanaman biji-bijian, seperti kedelai dan kelapa sawit, secara luas memang digunakan untuk memproduksi biodiesel, namun mereka hanya menghasilkan minyak dalam jumlah yang kecil (kurang dari 5% berat total biomassanya) bila dibandingkan dengan mikroalga [1]. Akibatnya, minyak nabati tersebut hanya sebagai campuran dari minyak solar sebanyak beberapa persen saja, yang berarti mereka  tidak mampu menyediakan sejumlah besar bio-diesel yang akhirnya diperlukan untuk menggantikan seluruh bahan bakar minyak bagi transportasi [1]. Bahan bakar bio-solar dan bio-premium yang kita gunakan di Indonesia bukan sepenuhnya bahan bakar nabati, melainkan campuran antara BBM Solar (fosil) dengan minyak yang berasal dari kelapa sawit yang tidak lebih dari 5 persen. Sedangkan bio-premium merupakan campuran antara BBM Premium (fosil) dengan kira-kira 5 persen bio-ethanol.  Persaingan kepentingan bisnis minyak kelapa sawit antara untuk produksi BBM Nabati dengan yang untuk produksi mentega, sabun, dan bahan kosmetik membuat kelancaran suplai minyak kelapa sawit untuk BBM Nabati sering terganggu.  Minyak kelapa sawit akan dimanfaatkan untuk BBM Nabati bila harga minyak mentah dunia sedang naik.  Sebaliknya, tidak menguntungkan apabila harga minyak mentah lebih murah dari harga minyak kelapa sawit.

Kelapa sawit, salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang paling produktif, ternyata hanya menghasilkan 5950 liter minyak per hektar [1]. Sebuah negara, dalam hal ini Amerika Serikat, membutuhkan hampir 530 milyar liter bio-diesel per tahun [1] pada tingkat konsumsi saat ini, dengan asumsi semua BBM fosil untuk transportasi digantikan oleh biodiesel. Untuk memproduksi jumlah bio-diesel tersebut dari kelapa sawit, diperlukan lahan perkebunan seluas 89,1 juta  hektar. Ini berarti hampir 49% dari luas seluruh lahan pertanian di Amerika Serikat. Menanam kelapa sawit seluas itu jelas tidak realistis,  karena akan menggusur tanah yang dipakai untuk memproduksi makanan pokok, pakan ternak, dan tanaman lainnya. Berdasarkan perhitungan tadi, jelas bahwa minyak nabati “tidak mampu” menggantikan BBM fosil dalam masa mendatang secara berkelanjutan. Skenario ini, bagaimanapun, akan berbeda jika mikroalga yang digunakan sebagai sumber penghasil biodiesel.

Peluang pengembangannya di Indonesia.

Bagaimana dengan peluang pengembangan bio-diesel dari mikroalga di Indonesia?  Sebagai negara kepulauan, kita diuntungkan karena memiliki panjang pantai total lebih dari 81.000 kilometer; dan karena terletak di garis ekuator, negara ini  kaya akan cahaya matahari sepanjang tahun dan tidak mengalami musim dingin. Perlu dijelaskan bahwa produksi minyak dari mikroalga akan menurun apabila tidak cukup sinar matahari, atau dalam kondisi suhu udara cukup dingin.  Alga, yang dapat hidup dalam air dengan kadar garam yang tinggi, sangat cocok untuk memproduksi bio-diesel karena 60 persen luas wilayah kita berupa laut. Produksi bio-diesel dari mikroalga akan sangat cocok bagi daerah pantai.  Biomasa mikroalgal ini tidak akan menggusur lahan pertanian yang sudah ada karena dapat dibangun secara vertikal. Karena dapat tumbuh vertikal, maka “peternakan” alga dapat dikembangkan dalam skala besar.  Perlu diingat, bahwa meskipun wilayah Indonesia hampir seluas Amerika Serikat, hanya 40 persen yang berupa daratan. Pembukaan lahan perkebunan baru bagi kelapa sawit akan merupakan ancaman serius bagi sektor pertanian kita; terutama untuk mencapai target swasembada pangan.

Dari tulisan ini dapat disimpulkan, bahwa:

  • Alga adalah sarana yang sangat efisien untuk menghasilkan bio-diesel.
  • Produksi minyak dari “peternakan alga”  layak dan terukur.
  • Diperlukan penelitian lanjutan untuk membuka potensi penuh dari alga.

Semoga melalui tulisan ini  akan bermunculan para entrepreuner baru Indonesia yang bergerak di bisnis produksi bio-diesel dengan mikroalga dalam waktu tidak lama, sehingga pemberian ijin untuk pembukaan lahan baru bagi perkebunan kelapa sawit dapat segera diakhiri.

Daftar Bacaan:

1 Chisti, Y. (2007), Biodiesel from Microalgae. Biotechnol. Adv. 25, pp. 294 – 306.

2 Banerjee, A. et al. (2002), Botryococcus braunii: A Renewable Source of Hydrocarbons and Other Chemicals. Crit. Rev. Biotechnol. 22, pp. 245–279.

3 Gray, K.A. et al. (2006), Bioethanol. Curr. Opin. Chem. Biol. 10, pp. 141–146.

8 Komentar

Filed under Bio-fuels from Algae, Energi Biomassa, Energy Security, Food Productivity, New Discovery, Renewable Energy, Sustainable Development, Transportation

8 responses to “Mari Kita Kembangkan BBM Nabati dari Mikroalga di Indonesia

  1. James

    yth Pak Atmonobudi,
    semoga info pemanfaatan BBM Nabati dapat mendorong/inspirasi penel;itian di bidang energi terbarukan lebih berkembang.kapan pemanfaatannya ?? perlu tidakan konkrit dari pemerintah dan pe Bisnis.
    salam,
    Rilatupa

  2. Abraham Simatupang

    Kapan kita mulai penelitiannya di UKI Pak? Coba deh kita challenge Prodi Biologi dan/atau Kimia FKIP kita. Ada juga Dr. Bintang Simbolon, kalau ribet dengan pendanaan dari Dikti, kita usulkan agar UKI (dan mitra-mitranya) mendanai dengan serius.

    • Dear Pak Abraham.

      Saya setuju sekali dengan usulan Anda.

      Sebaiknya rekan2 kita dihubungi dan diminta partisipasinya utk riset tersebut. Yang penting kita tuntaskan proposalnya dan konsep penelitian ini bagus karena multi disiplin dalam keilmuan.

      Kalau perlu kita cari sponsor dari luar. Mungkin dari alumni, CSR, atau bahkan kita ajukan ke program hibah Dikti.

      Mungkin sebaiknya diskusi ini lewat jalur LAN kampus saja, atau jumpa langsung dengan rekan2 peminat riset tersebut.

      Salam,
      Atmonobudi.

  3. imam hadi saputra

    info ini perlu di sampaikan dan di sosialisasikan ke pemda yg memiliki wilayah pantai, sehingga pemda bisa mengembangkan nya dan menekan perluasan areal lahan perkebunan sawit, yang setiap harinya areal sawit semakin merambah ke lahan-lahan pertanian milik masyarakat.

  4. Nurul

    maaf Pak, mau tanya, apakah biodiesel dari mikroalga ini sudah ada yang menguji ke kendaraan. Dan, hasilnya bagaimana ya Pak? Terima kasih Pak.

    • Dear Mbak Nurul.

      Sejauh yang saya ketahui, penelitian tentang pemanfaatan mikroalga sebagai biodiesel di Indonesia belum ada. Kalaupun ada, maka masih berupa campuran antara biodiesel (mikroalga) dengan solar (fossil), sebagaimana pada biodiesel (kelapa sawit) dan solar (fossil) yang sudah beredar di Inonesia dengan nama biosolar.

      Yang telah banyak dilakukan adalah pemanfaatan mikroalga sebagai penyerap karbon dioksida untuk menghasilkan oksigen. Jadi berfungsi sebagai filter aktif. Mikroalga juga banyak dipakai sebagai pengolah limbah cair berbahaya yang mengandung unsur logam menjadi cairan yang tidak membahayakan.

      Minyak/lemak yang dihasilkan dari mikroalga bahkan dapat diolah untuk menghasilkan produk-produk yang selama ini dihasilkan dari minyak kelapa sawit.

      Negara-negara yang telah mengembangkan mikroalga sebagai biodiesel, antara lain: AS, Jepang, New Zealand, Israel.

      Mudah-mudahan informasi tadi dapat membantu Anda dalam menelusuri literaturnya.

      Atmonobudi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s