Kita Sedang Memasuki Era “Ekonomi Methanol”

We Are Entering The Era of Methanol Economy

Mungkin beberapa diantara kita menganggap bahwa bahan bakar fosil, khususnya minyak bumi dan gas alam, hanya digunakan sebagai bahan bakar saja. Padahal manfaatnya sangat bervariasi dan secara kuantitas dapat menyaingi penggunaannya sebagai bahan bakar. Minyak bumi dan gas, sebagai bahan bakar fosil utama di samping batubara, tidak hanya masih menjadi sumber energi terbesar, tetapi juga merupakan  bahan baku dari begitu banyak bahan dan produk dari senyawa hidrokarbon.  Cakupan yang demikian luas, dimulai dari bahan bakar minyak, berbagai produk sintetik, kimia dan petrokimia dengan plastik dan tekstil sintetisnya, menyebabkan proses penambangan minyak mentah dan gas alam  menjadi sangat besar secara kuantitas.  Kecenderungan ini semakin sulit dielakkan sejalan dengan bertambahnya penduduk dunia yang saat ini sudah sekitar 7 milyar jiwa, dan akan menjadi 8 hingga 10 milyar di abad ke-21 ini.

Di sisi lain, begitu bahan bakar fosil dibakar atau digunakan, bahan bakar tersebut akan membentuk CO2 dan CO, sehingga secara alami tidak bisa dikatakan terbarukan dalam perjalanan waktu kehidupan kita sekarang maupun bagi generasi mendatang.

Untuk memenuhi kebutuhan manusia akan energi, seluruh sumber energi alternatif yang terbarukan  harus menjadi perhatian kita bersama.  Ini berarti, kita harus segera berpaling pada energi-energi  biomasa, air, dan geothermal, termasuk juga energi dari matahari, angin, gelombang dan pasang surut (tidal) laut.

Kurang dari satu dasawarsa yang lalu, George A. Olah – pencetus konsep  “ekonomi methanol”, pernah menyarankan sebuah pendekatan alternatif baru tentang bagaimana memanfaatkan cadangan minyak bumi dan gas yang masih kita miliki secara efisien agar kita tidak semakin bergantung pada bahan bakar fosil.  Pendekatan tersebut didasarkan pada penggunaan methanol dan turunan-turunan dimethyl ether (DME), sebagaimana juga produk-produk hidrokarbon, yang menjadi landasan “ekonomi methanol”.  Methanol (CH3OH) adalah wujud yang paling sederhana, aman, serta mudah disimpan dan dikirim  dalam wujud cair (liquid oxygenated hydrocarbon).

Konsep “ekonomi methanol” memiiki peluang dan manfaat secara meluas.  Methanol, bersama turunan DME, dapat digunakan sebagai: (a) media penyimpan energi yang nyaman; (b) sebagai bahan bakar yang siap dikirim dan dipakai pada mesin jenis internal combustion engines (ICE), mesin-mesin diesel, serta sel bahan bakar (fuel cells); dan (c) sebagai bahan baku bagi hidrokarbon sintetik dan produk-produknya, termasuk aneka bahan bakar, polimer, bahkan protein sel tunggal (sebagai makanan hewan dan konsumsi manusia).  Sumber karbon regeneratif untuk methanol tersedia dalam wujud CO2 di atmosfir, yang terbagi rata di seluruh muka bumi dan yang pada prakteknya tidak akan kekurangan.

Konsep “ekonomi methanol” telah dikembangkan sejak belasan tahun yang lalu, melalui penggunaan methanol sebagai campuran BBM dan gas yang menarik, khusunya ketika terjadi kekurangan stok dan menyebabkan lonjakan harga minyak. Ketika membahas tentang “bahan bakar alcohol”, masyarakat umumnya mengaanggap ethanol dan ketersediaannya dari sumber-sumber pertanian, termasuk meragikan jagung (di AS), tebu (di Brazil), atau dengan mengkonversikan  secara hayati (bio-conversion) berbagai tumbuh-tumbuhan yang terdapat secara alami.

Meskipun methanol dan ethanol memiliki hubungan kimia yang dekat (CH3CH2OH vs. CH3OH), masyarakat, dalam memahami “alkohol” sebagai bahan bakar, umumnya sulit menyadari perbedaan besar antara keduanya.  Fermentasi dari produk pertanian atau alam dapat dipakai untuk menghasilkan alcohol-alkohol. Alkohol juga dapat diperoleh dari sumber-sumber berserat, utamanya kayu, walaupun methanol belakangan ini diproduksi lewat proses sintetik.  Kebalikannya, bio-ethanol diperoleh melalui fermentasi sumber-sumber alami yang terbarukan, bukan bahan bakar  fosil, akan tetapi memerlukan lahan yang luas untuk membuat perkebunan  tebu,  jagung, gandum, atau tanaman biji-bijian lainnya yang darinya dapat dibuat.  Untuk memahami perbedaan ini diperlukan penjelasan yang cukup panjang dan detil sehingga tidak dapat dimuat dalam tulisan ini.

Sebagai kesimpulan, target dari “ekonomi methanol” adalah:

  • Mencari cara baru yang lebih efisien untuk menghasilkan methanol dan/atau turunan DME dari sumber bahan bakar fosil, utamanya gas alam, oleh konversi oksidatifnya, tanpa lebih dulu memproduksi gas sintetis.
  • Memproduksi methanol secara hydrogenerative recycling dari CO2 yang ada secara alami di udara.
  • Penggunaan methanol dan turunan DME sebagai media penyimpan energi yang mudah bagi sector transportasi yang menggunakan mesin jenis (ICE), demikian juga bagi generasi sel bahan bakar (fuel cells), termasuk diantaranya  direct methanol fuel cells (DMFC).
  • Penggunaan methanol sebagai bahan mentah untuk memproduksi ethylene dan/atau propylene sebagai bahan dasar untuk hidrokarbon sintetik dan produk-produknya.

Dalam konteks Indonesia, Peraturan Presiden no. 5 Tahun 2006 hanya menginformasikan tentang kebijakan nasional di bidang energi.  Produk-produk seperti plastik, tekstil sintetis, bahan kimia yang menggunakan minyak bumi dan gas alam sebagai bahan bakunya tidak diproyeksikan di dalam peraturan tersebut.  Bahan baku dari produk-produk tersebut menyerap tidak kurang dari 35% produksi minyak dan gas dunia. Pertanyaan yang muncul, apakah minyak mentah hasil tambang lokal maupun yang diimpor menjalani proses refinery-nya  di dalam negeri?  Jika sebagian besar dilakukan di luar negeri, negara tersebut telah menikmati limbah proses refinery (yang juga merupakan senyawa hidrokarbon) untuk dijadikan bahan baku bagi produk-produk sintetis di negaranya.

Mengingat bahwa Indonesia kini sudah berstatus net oil importer, penggunaan bahan bakar fosil dan senyawa hidrokarbon lainnya harus seefisien mungkin; bahkan kini harus dikembangkan industri yang menghasilkan senyawa-senyawa hidrokarbon secara sintetis.   Mengapa demikian?  Ketika terjadi kenaikan harga minyak mentah dunia, kenaikan tersebut akan mempengaruhi harga bahan bakar bagi sektor transportasi dan produk-produk yang berbahan baku minyak fosil dan gas.   Hal ini belum termasuk produksi pupuk nasional, pendukung utama sektor pertanian, yang  juga sangat mengandalkan gas alam sebagai bahan bakunya.

Sudah waktunya bagi Indonesia untuk tidak menggantungkan produksi methanol dari bahan bakar fosil saja.  Segeralah beralih ke produksi methanol yang berasal dari karbon dioksida yang berasal dari industri dan yang ada di udara, dari sampah padat di kota-kota, maupun dari gas sintetik.  Tanpa konversi ini, sektor produksi yang mengandalkan senyawa hidrokarbon tersebut akan ambruk seiring dengan naiknya harga minyak mentah dunia.  Perlu diingat bahwa segala  kebijakan di semua sektor sudah harus berorientasi kepada konsep pembangunan  secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Bacaan:

Olah G.A. (2004), After Oil and Gas: Methanol Economy, Catal. Lett., 93, 1.

Olah G.A. (2003), The Methanol Economy, Chem. Eng. News, (September 22) 81, 5.

2 Komentar

Filed under Energy Security, Methanol Economy, Sustainable Development

2 responses to “Kita Sedang Memasuki Era “Ekonomi Methanol”

  1. Good informations for us…………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s