Masih Adakah Hikmat dan Nurani ketika Mengeruk Sumber Daya Alam Kita? Sebuah Renungan dalam Rangka 67 Tahun Merdeka

Do Wisdom and Conscience still exist while Digging  Our Natural Resources? A Reflection  of 67 Years of  Our Independence

Dear Para Pembaca yang baik.

Tahukah Anda bahwa energi yang dipancarkan matahari  terdiri atas  7% yang berupa cahaya ultraviolet, 47% cahaya yang tampak oleh mata, dan 46% adalah cahaya infrared?   Dan setiap tahunnya ada 1.500 juta Terrawattjam (1 TWh = 1 juta megawattjam) radiasi energi matahari yang mengarah ke bumi.

Namun, tidak semua energi matahari tersebut sampai ke permukaan bumi. Sebagian besar radiasi cahaya ultraviolet dengan panjang gelombang, atau lambda, yang lebih pendek terserap di atmosfir.  Uap air dan karbon dioksida menyerap energi yang  lambda-nya lebih panjang, sementara  partikel debu dan awan juga menyebabkan memantulnya sebagian dari radiasi cahaya tersebut kembali ke angkasa.

Bila semua faktor tadi diperhitungkan, maka hanya 47% dari energi atau 700 juta TWh yang benar-benar sampai ke permukaan bumi kita ini.  Tahukah Anda bahwa jumlah tersebut ternyata 14.000 kali lebih besar dari kebutuhan total manusia akan energi selama setahun yang hanya 50.000 TWh? (Paul Breeze, 2005, p.185). Energi yang berasal dari matahari yang tidak pernah habis tadi, atau yang disebut energi terbarukan, dapat kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejateraan kita bersama.  Dan kita seharusnya tidak “alon-alon asal kelakon” untuk memulainya di tengah krisis energi yang meng-global saat ini.

Sebaliknya, mengapa sebagian kecil dari anak bangsa ini lebih suka “menguras habis” energi yang berasal dari fossil di perut bumi ini?  Sadarkah kita bahwa energi fossil (batubara, minyak, dan gas), yang proses pembentukannya memerlukan waktu tidak kurang dari 500 juta tahun, dapat habis?  Nyatanya, mereka bahkan mengeruk habis-habisan dan menjualnya ke negara-negara lain demi keuntungan  milyaran dollar yang  hanya dinikmati oleh segelintir orang.  Laporan resmi tentang peningkatan ekspor batubara yang sangat signifikan dalam 5 tahun terakhir tampaknya lebih diartikan sebagai sebuah prestasi, bukan sebagai bentuk keprihatinan.

Tahukah Anda bahwa pengerukan bahan bakar fossil (yg tidak tergolong energi terbarukan) secara besar-besaran akan melemahkan ketahanan/keamanan nasional di bidang energi (national energy security)? Ada baiknya masalah ketahanan nasional di bidang energi ini dapat menjadi bahan kajian dan perenungan oleh para peserta Kursus  Reguler LEMHANAS maupun alumninya.

Masih relevankah kata-kata hikmat “Bumi dan air kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” di dalam Konstitusi kita untuk dipatuhi, dihargai, dan diresapi maknanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?  Masih adakah pemimpin berhikmat di tengah bangsa ini? Jika masih ada, mengapa begitu banyak kebijakan maupun realisasinya yang sangat bertolak belakang dengan kata-kata hikmat tadi?

Ini hanyalah sebuah ungkapan hati dari salah seorang warganegara yang bingung dengan arah kebijakan pemimpin bangsa ini.   Selamat merayakan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 67.  MERDEKA … !!

2 Komentar

Filed under Energy, Energy Security, National Security, Natural Resources

2 responses to “Masih Adakah Hikmat dan Nurani ketika Mengeruk Sumber Daya Alam Kita? Sebuah Renungan dalam Rangka 67 Tahun Merdeka

  1. Terima kasih atas suara hati Prof. Memang bangsa kita sedang “krisis iman” sebab lain kebijakan lain pula yang dilakukan karena semua mementingkan “kenikmatan sesaat” seolah berlomba-lomba menghabiskan isi perut bumi. Syukur masih ada yang perduli tentang keselamatan bumi kita oleh karena itu, perlu disosialisasikan secara terus menerus. UUD yang mengatakan ” Bumi dan air serta seluruh isi kekayaan alam “dikuasai sepenuhnya oleh negara” kini sudah berubah menjadi “dimiliki negara”. Lihat saja hasil bumi kita habis dikeruk oleh orang-orang asing karena ketidakberdayaan pemerintah kita. Semoga  masih ada yang peduli. Selamat menyongsong kemerdekaan RI.

    ________________________________ Dari: Atmonobudi Soebagio Kepada: siahaan.chontina@yahoo.com Dikirim: Selasa, 14 Agustus 2012 6:48 Judul: [New post] Masih Adakah Hikmat di Tengah Bangsa ini?

    WordPress.com atmonobudi posted: “Dear Para Pembaca yang baik.Energi yang dipancarkan matahari  adalah sekitar 7% berupa cahaya ultraviolet, 47% cahaya yang tampak oleh mata, dan 46% adalah cahaya infrared.   Dan setiap tahunnya ada 1.500 juta Terrawattjam (1 TWh = 1 juta megawattjam) “

    • Dear Ibu Chontina.

      Terima kasih banyak atas tanggapannya.

      Saya juga tidak tahu dari mana kita harus membangun kembali kesadaran kita bersama tentang kekayaan alam kita yang dapat habis. Kalau dari pimpinan yang paling atas, mungkin itu yang cocok bagi kita karena rakyat sangat suka dan menghargai sifat2 keteladanan.
      Mungkin sebaiknya dari diri kita masing-masing, kemudian meningkat ke keluarga, tetangga, dan seterusnya.

      Yang perlu ditekankan bahwa kita harus segera mengakhiri ketergantungan kita pada energi yang dihasilkan dari bahan bakar yang tidak ramah lingkungan.

      Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s