Membangun Kemandirian Energi Listrik

Building Electric Energy Independence

ATMONOBUDI SOEBAGIO

Pendahuluan

JAKARTA, INSPIRASI — Krisis energi/minyak yang berawal pada tahun 1973 telah menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak dan menjadi tidak ekonomis lagi sebagai bahan bakar bagi kegiatan industri dan transportasi dunia.   Menyadari akan semakin terbatasnya cadangan bahan bakar fossil dan gas alam yang membuatnya tidak lagi murah, negara-negara industri yang selama ini sangat bergantung pada bahan bakar tersebut memutuskan untuk beralih ke sumber-sumber energi alternatif.   Meskipun bahan bakar minyak, batu bara, dan gas masih tersedia di beberapa wilayah bumi ini, mereka lebih tertarik untuk membangun kemandirian energi melalui peningkatan keamanan suplai energi di masing-masing negaranya.

Perubahan iklim (PI) yang diakibatkan oleh kenaikan suhu bumi akibat efek rumah kaca, telah membuat konsumsi energi semakin besar, disamping karena meningkatnya konsumsi energi untuk kenyamanan hidup di abad modernisasi ini.  Di samping itu, sangat kuat dugaan bahwa meningkatnya konsumsi energi fosil dalam tiga dasawarsa terakhir juga disebabkan oleh PI. Seperti telah diketahui, penyebab utama emisi karbon dioksida (CO2) adalah dari pembakaran bahan bakar fosil melalui pembangkitan listrik dan industri yang mengandalkan bahan bakar batubara dan minyak diesel/solar, serta BBM untuk kendaraan bermotor, kapal laut, dan pesawat udara.

Indonesia, dengan penduduknya yang berjumlah lebih dari 235 juta jiwa, sepatutnya menggarisbawahi akan perlunya meningkatkan kemandirian energi, termasuk energi listrik, secara strategis dan berkelanjutan. Meskipun negara ini masih memiliki cadangan bahan bakar fossil dan energi panas bumi, perencanaan yang disusun untuk meningkatkan keamanan energi nasional perlu dilakukan dengan cermat dan terintegrasi.  Semakin tinggi tingkat keamanan energi sebuah negara, semakin kuat pula ketahanan nasionalnya di bidang ekonomi, sosial, dan politik.  Keamanan energi sebuah negara merupakan unsur penting dalam membangun kemandirian energi secara berkelanjutan.

Ketika membahas tentang upaya membangun kemandirian energi secara berkelanjutan, kita tidak dapat memisahkannya dari definisi pembangunan berkelanjutan, yang sangat terkait dengan sasaran dari berbagai aktifitas ekonomi masyarakat dunia dalam 30  tahun terakhir ini. World Commission on Environment and Development (WECD) di tahun 1980-an, yang berupaya melindungi lingkungan serta sekaligus mengentaskan kemiskinan, telah membentuk sebuah tim yang dipimpin oleh Gro Harlem Brundtland dengan tugas melaporkan hasil rintisan upaya WECD tersebut.  Di dalam laporannya yang terkenal dengan sebutan Brundtland Report, pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai:

development that meets the needs of the present without compromising the ability of future to meet their own needs”.

Artinya, “pembangunan untuk memenuhi kebutuhan masa kini, tanpa kompromi dengan kemampuan dari generasi yang akan datang di dalam memenuhi kebutuhannya”.

Definisi tersebut telah menjadi acuan banyak negara dalam menyusun rencana pembangunan negaranya.    Di dalam perkembangannya, pengertian tentang “pembangunan berkelanjutan” semakin terfokus pada upaya meningkatkan kualitas hidup dimana manusia merupakan sentral pembahasannya.

Penulis merasa perlu untuk mengkritisi definisi tersebut, terutama dalam penyebutan “without compromising” yang dapat menimbulkan misleading dalam memahaminya.  Dalam konteks energi, kata-kata itu dapat ditafsirkan bahwa pemerintah sebuah negara dibenarkan menguras habis potensi sumber-sumber energinya, misalnya, minyak bumi – gas – batubara, tanpa mempedulikan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan energinya. Untuk itu penulis mengusulkan agar definisi tentang pembangunan berkelajutan diubah menjadi: “Pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masa kini, namun sekaligus sebagai landasan bagi generasi masa mendatang dalam memenuhi kebutuhannya”.

Keamanan Energi

International Energi Agency (IEA) mendefinisikan keamanan energi sebagai:

Adequate, affordable, and reliable access to energi fuels and services, it includes availability of resources, decreasing dependence on imports, decreasing pressures on the environment, competition and market eficiency, reliance on indigenous resources that are environmentally clean, and energi services that are affordable and equitably shared”.

Benjamin K. Sovacool, dalam buku The Routledge Handbook of Energi Security, menyebutkan bahwa tidak kurang dari 45 definisi yang telah ditemukannya ketika melakukan kajian singkat maupun interview dengan para pakar.  Perbedaan definisi tentang keamanan energi tersebut tidak dibahas dalam tulisan ini.  Jonathan Elkind, dari bagian Kebijakan dan Energi Internasional pada US Department of Energi, menyebutkan bahwa keamanan energi memiliki empat elemen, yaitu: ketersediaan (availability), keandalan (reliability), keterjangkauan (affordability), dan keberlanjutan (sustainability).

Ketersediaan, mengacu pada kemampuan konsumer dan pengguna untuk mengamankan energi yang diperlukannya. Komponen pendukungnya adalah solusi teknis pada produksi, transportasi, konversi, penyimpanan, dan distribusinya.

Keandalan, mengacu pada pelayanan energi yang bebas dari gangguan, dengan kriteria yang saling terkait, termasuk:

  • Keanekaragaman sumber suplai (keanekaragaman bahan bakar dan teknologinya).
  • Keanekaragaman rantai suplai.
  • Kekenyalan atau kemampuan mengatasi kejutan dan kegagalan.
  • Menurunkan kebutuhan energi agar mengurangi beban dari infrastruktur.
  • Redundansi pada kasus terjadinya kegagalan.
  • Menyebarkan informasi ke pasar setiap waktu.

Keterjangkauan, melibatkan tidak hanya harga yang murah (relatif terhadap penghasilan), tetapi juga harga yang stabil dan tidak mudah berubah.

Keberlanjutan, mengacu pada meminimalkan kerusakan di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan lewat tersedianya infrastruktur energi yang awet dan berumur panjang. Beberapa komponen yang perlu diperhitungkan adalah, antara lain emisi gas rumah kaca harus rendah dan mampu memproteksi sistem energi dari PI.

Potensi Sumber Energi Terbarukan

Ketergantungan pembangkitan energi listrik pada satu jenis sumber energi  atau bahan bakar, yang sangat terbatas cadangannya di bumi ini, bukanlah solusi untuk meningkatkan keamanan energi listrik suatu negara. Hanya dengan mengandalkan sumber-sumber energi yang bervariasi jenis dan memiliki cadangan yang tak terhingga jumlahnya, maka kita dapat meningkatkan keamanan energi ini secara jangka panjang dan berkelanjutan.  Energi matahari yang jatuh ke permukaaan bumi sangat besar, bahkan 14.000 kali lebih besar dari kebutuhan seluruh manusia di bumi yang hanya berjumlah 50.000 Terrawattjam (TWh) setiap tahunnya.

Dari luas wilayah Indonesia yang sebesar 4.798.600 km2, ternyata hanya 1.910.931 km2 yang berupa daratan (39,8%).  Selebihnya berupa laut dalam dan laut dangkal yang potensinya sebagai sumber energi alternatif belum dimanfaatkan secara maksimal.  Sekurang-kurangnya ada empat macam potensi energi laut yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik, yaitu: (a) energi gelombang, (b) energi pasang surut, (c) energi arus di bawah permukaan, dan (d) energi yang diperoleh dari perbedaan suhu antara permukaan dan dasar laut.  Total panjang pantai Indonesia adalah 104.000 kilometer, dan berpotensi menghasilkan energi dari gelombang laut sebesar 10-30 kW per meter panjang pantai.  Meskipun kecepatan angin rata-rata di Indonesia hanya berkisar 5,5 m/detik, atau  19,8 km/jam, kecepatan angin di daerah pesisir lebih tinggi dari kecepatan rata-rata tersebut. Potensi energi angin ini baru dimanfaatkan sebesar 15,2 MW.

Diversifikasi sumber energi pembangkit listrik

Kerangka kerja untuk menaksir keberlanjutan suplai energi di sektor kelistrikan, menurut World Energy Council (WEC),  didasarkan pada tiga obyektif, yaitu: (a) accessibility, (b) availability, dan (c) acceptability. Derajat keanekaragaman (diversity index), dalam hubungannya dengan keberlangsungan suplai energi (sustainability of energy supply), juga dapat menjadi indikator keamanan energi nasional (national energi security), khususnya untuk mengukur ketersediaan (availability). Ini berarti bahwa tingkat keamanan pasokan energi akan semakin baik apabila sumber energi bagi pembangkitan listrik tidak tergantung pada satu jenis bahan bakar saja.

Derajat keanekaragaman (diversity index) sumber pembangkit dapat diukur melalui kombinasi hasil penghitungan dari formula Shannon-Wiener Index (SWI) dan formula Kesepadanan (evenness), yaitu:

H   = Sigma (pi ln pi)

dan

EHH/ln

dimana  H adalah Shannon-Wiener Index, sedangkan  EH adalah Kesepadanan atau evenness, dan pi adalah proporsi kapasitas daya pembangkit listrik dengan bahan bakar jenis i  terhadap jumlah total kapasitas pembangkit, serta  S adalah jumlah jenis pembangkit.

Semakin tinggi SWI berarti semakin besar  derajat keanekaragaman sumber  suplai listrik. Angka 1,0 berarti bahwa sistem suplai listrik sepenuhnya bergantung pada satu jenis sumber saja, sedangkan angka > 2,0 berarti sistem tersebut didukung oleh sejumlah pembangkit yang beraneka jenis sumber energinya dan sepadan kapasitas dayanya.  Indeks Kesepadanan atau Evenness terletak antara 0 dan 1.0.

Komposisi pembangkit listrik di Indonesia telah memperlihatkan adanya diversifikasi sumber energi, sebagaimana diperlihatkan pada Tabel.

Akan tetapi, dari hasil perhitungan indeks keanekaragaman sumber energi, diperoleh H hanya sebesar 1,0585.  Angka ini mengindikasikan bahwa pembangkitan listrik di Indonesia masih sangat bergantung pada PLTU Batubara, meskipun hanya berjumlah 84 unit pembangkit saja. Di samping itu, PLTGU dan PLT Diesel juga tergolong penyebab emisi karbon dioksida. Dari hasil perhitungan EH, diperoleh angka 0,4817, yang berarti bahwa diversifikasi pembangkit yang ada saat ini belum sepadan kontribusi dayanya.

 Komposisi pembangkit listrik Indonesia. 

 

i

 

Jenis Pembangkit

Jumlah Pembangkit i

Kap. Total Daya Pembangkit i

[MW]

1 PLTU Batubara

84

32.151

2 PLT Gas &   Uap

54

7.911

3 PLT Diesel

4.700

500

4 PLT Panas Bumi

7

1.189

5 PLT Air

56

9.981

6 PLT Minihidro

28

86,1

7 PLT Mikrohidro

127

34,81

8 PLT Surya

1.246.133

66

9 PLT Angin

68

15,17

Kapasitas   Total

51.934,08

Sumber: Masterplan Pembangunan Ketenagalistrikan   2010  sd  2014, Kem. ESDM, dan beberapa sumber lainnya.

 

Penutup

Perubahan iklim tidak hanya sekedar sebuah ancaman terhadap keamanan global melainkan juga sebuah pelipat ganda ancaman apabila dikaitkan dengan keamanan energi. Oleh karenanya, solusi untuk mengatasi dampak perubahan iklim harus merupakan bagian atau paket dari strategi keamanan energi nasional dan internasional. Dari korelasi tersebut, upaya membangun kemandirian energi listrik harus berlangsung secara serentak dengan upaya menurunkan emisi karbon yang sebesar 26% itu.

Di dalam implementasinya, pemenuhan kebutuhan energi listrik harus melalui proses diversifikasi sumber-sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan potensinya di Indonesia tidak akan habis. Di samping itu, perlu diberlakukan kebijakan penghematan energi, demand side management (DSM), serta kebijakan dekarbonisasi, yang meliputi penerapan pajak karbon, pajak atas ekspor batubara, minyak mentah, dan mineral-mineral lain yang masih bersifat raw materials, serta insentif berupa keringanan/pembebasan pajak bagi produk jadi yang dihasilkan secara padat karya dan ramah lingkungan atau yang berasal dari industri rumah tangga. □

Sumber: INSPIRASI: Membawa Pencerahan Bangsa, vol. 3 No. 46, 10 Juni 2012, halaman 14-15.

Catatan dari Penulis: Pembahasan lebih rinci tentang perhitungan indeks keanekaragaman sumber pembangkit listrik dengan pendekatan Shannon-Wiener Index, dapat dibaca di blog ini dengan judul: “Shannon-Wiener Index (SWI) sebagai Indikator  Diversifikasi dan Keamanan Energi Listrik Nasional”.

Tinggalkan komentar

Filed under Carbon Mitigation, CCS, Coal Fired Power Plants, Energy, Energy Savings, Energy Security, National Security, Power Generation, Energy Efficiency and Policy, Tariffs, Renewable Energy, Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s