Menuju UNCSD dengan Sejumlah Harapan

Towards UNCSD (2012) with Some Expectations

ATMONOBUDI SOEBAGIO

JAKARTA, SINAR HARAPAN – Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan 2012 (UNCSD) dengan tema “The Future We Want”, akan  diselenggarakan pada tanggal 20-22 Juni 2012 di Rio de Janeiro – Brazil. Konferensi yang juga memperoleh sebutan “Rio+20”,  sekaligus menjadi peringatan dari  “Earth Summit”, yang bersejarah dan diselenggarakan di kota yang sama  1992.  Konferensi 1992 berfokus pada dua isu penting. Pertama, hubungan antara lingkungan dan pembangunan; kedua, isu praktis seputar pengenalan pembangunan berkelanjutan, khususnya tentang kebijakan-kebijakan yang menyeimbangkan proteksi lingkungan dengan kepedulian sosial dan ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga.

Konferensi 1992 tersebut menghasilkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Agenda 21, Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan Pembangunan, Pernyataan tentang Prinsip-Prinsip Hutan secara Berkelanjutan, cikal bakal Konvensi PBB untuk  Perubahan Iklim (UNFCCC), dan Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati. Sasaran keseluruhan dari Konferensi Rio+20 adalah (a) mengamankan komitmen politik bagi pembangunan berkelanjutan, (b) menilai kemajuan menuju tujuan yang disepakati secara internasional tentang pembangunan berkelanjutan, dan (c) membahas munculnya tantangan-tantangan baru yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan.

Sejak 1992 memang telah terjadi berbagai kemajuan berupa elaborasi strategi pembangunan berkelanjutan, baik secara nasional maupun regional; ratifikasi kesepakatan bersama tentang perubahan iklim; dan kemajuan Konvensi Keanekaragaman Hayati secara action plan. Di negara-negara berkembang, Deklarasi Rio membolehkan masuknya pertimbangan  Pembangunan Manusia yang membawa pengaruh besar pada agenda Millenium Development Goals (MDGs).  Fakta di lapangan memperlihatkan kesejahteraan yang  hanya meningkat pada sebagian kecil populasi dunia, melemahnya rasa solidaritas yang diperlukan untuk memecahkann krisis kemiskinan, degradasi lingkungan, serta kesemrawutan ekonomi.  Lebih dari 1 milyar penduduk dunia masih hidup sangat miskin.

Krisis Multi Dimensi.

Dunia saat ini  sedang dihadapkan pada krisis multi dimensi serta berbagai tantangan di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan yang saling berkaitan. Konferensi Rio+20 dalam konteks lebih luas, diharapkan akan membahas dan  memikirkan kembali tentang pertumbuhan dan konsumsi, termasuk bagaimana cara  mengelola sumber-sumber yang terbatas agar tidak mengganggu kebutuhan generasi masa depan.  Krisis pangan, energi, dan keuangan tampak masih berlanjut pengaruhnya terhadap penduduk dunia; terutama terhadap masyarakat yang sangat miskin.  Respon yang lamban dalam menghadapi perubahan iklim telah dikiritik secara meluas, dan negara-negara berkembang maupun  negara-negara yang berupa pulau-pulau kecil sangat khawatir  menjadi korban pembangunan global.

Solusi global bagi krisis multi dimensi dan tantangan ke depan adalah dengan (a) mengefisienkan sumber-sumber yang terbatas, (b) membangun green economy and green societies,  (c) perlindungan lingkungan, (d) penyediaan energi secara berkelanjutan, (e) meningkatkan produktifitas secara berkelanjutan, (f) mendukung kesetaraan gender, kebijakan dekarbonisasi (karbon rendah) di semua sektor ekonomi dan sosial, serta (g) memperluas lapangan kerja.

Konteks Indonesia.

Ke depan, green economy sebaiknya juga mencakup green production dan green jobs.  Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, green economy diharapkan akan semakin meningkatkan kenyamanan lewat peningkatan standar hidup pekerja, yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi saat ini.  Pemerintah telah meratifikasi Protokol Kyoto (PK), melaksanakan 8 butir MDGs, dan memulai program REDD+, yang sekaligus sebagai upaya mencapai target penurunan emisi karbon sebesar 26 persen. Target tersebut tampaknya belum dipahami sepenuhnya oleh lembaga/ kementerian terkait maupun Pemda.

Jumlah penduduk Indonesia yang masih menggunakan tungku kayu bakar tradisional berkisar 155 juta jiwa, atau 74 persen dari populasi total penduduk Indonesia (Modi dkk, Energy Service).  Adapun efisiensi termal tungku kayu bakar  tersebut hanya berkisar 6 – 10 persen. Melalui penyempurnaan, efisiensi dapat mencapai 25 – 35 persen. Sejauh ini, efisiensi tungku kayu bakar tertinggi masih di bawah 65 persen.

Jika setiap orang yang menggunakan tungku kayu bakar tradisional menghabiskan 5 kg kayu per hari, sedangkan faktor emisi CO2 adalah 15 kg CO2/ton kayu, maka total emisi karbon dioksida dari penggunaan tungku oleh 155 juta orang tersebut  akan sebesar 11.650 ton CO2 per hari, atau 4,25 juta ton CO2 selama setahun.  Tanpa adanya upaya penyuluhan dalam meningkatkan efisiensi termal tungku, tradisi menggunakan tungku tersebut akan menghambat pencapaian target penurunan emisi karbon.

Program Percepatan Kelistrikan  10.000 Megawatt Tahap Pertama yang dimulai sejak tahun 2006,  akan dilanjutkan dengan 10.000 megawatt tahap kedua.  Kebijakan tentang konservasi energi telah ditetapkan, namun di sisi lain muncul kebijakan yang telah mendorong ekspor batubara secara besar-besaran, sehingga  berpeluang melemahkan keamanan energi nasional. Dan korban utama dari kelangkaan batubara kelak  adalah 84 PLTU batubara, baik yang beroperasi maupun yang sedang dibangun lewat proyek percepatan kelistrikan tersebut.

____________

Penulis adalah Guru Besar Teknik Energi dan

Ketua Center for Research and Policy Study

of Renewable Energy Applications – UKI.

Sumber: SINAR HARAPAN, Senin 14 Mei 2012, halaman 4.

Tinggalkan komentar

Filed under Anthropogenic, Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations, Energy Savings, Energy Security, REDD+, Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s