Ekspor Batubara Indonesia Berpotensi Melemahkan Keamanan Energi Nasional

Suatu bangsa dikatakan memiliki ketahanan nasional yang tangguh apabila  potensi sumber-sumber energinya tersedia banyak dan dikelola secara efisien dan berkelanjutan.”

Dari aspek energi listrik, ini berarti bahwa bahan bakar untuk pembangkitan listrik harus tersedia cukup banyak sehingga mampu menyuplai energi listrik yang dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya.  Tuntutan akan kebutuhan energi listrik secara terus-menerus dapat dipenuhi, antara lain, dengan melakukan diversifikasi sumber-sumber energi bagi pembangkitan listrik.  Lalu, apa hubungannya dengan batubara yang saat ini sedang naik daun?

Proyek Percepatan Kelistrikan 10.000 Megawatt Tahap Pertama, lebih memprioritaskan pada penambahan sejumlah besar PLTU berbahan bakar batubara, bila dibandingkan dengan energi panas bumi maupun energi air.  Terlepas dari kenyataan bahwa batubara adalah penyebab emisi karbon terbesar diantara bahan bakar fossil lainnya, kebutuhan akan batubara dalam negeri akan meningkat pesat setelah semua PLTU yang sedang dibangun siap beroperasi.  Di lain pihak, pembangkitan listrik yang menggunakan sel surya (photocells) dan turbin angin, masih dalam skala kecil dan lebih difokuskan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang jauh dari jangkauan jaringan listrik tegangan menengah maupun tinggi.  Kapasitas gabungan dari kedua jenis pembangkit ini hanya 81 megawatt (MW) bila dibandingkan dengan kapasitas total seluruh pembangkit di tanah air yang akan menjadi 52.000 MW.

Sebuah kajian pernah memprediksi bahwa potensi batubara Indonesia dapat dimanfaatkan selama 200 tahun.  Tentunya prediksi tersebut dimaksudkan untuk penggunaan sendiri, bukan untuk ekspor.  Tabel berikut ini memperlihatkan laju peningkatan produksi batubara dalam negeri.

TAHUN

PRODUKSI

(ton)

EKSPOR

(ton)

IMPOR

(ton)

DALAM NEGERI

(ton)

2005

152.722.438

110.789.700

98.178

41.350.736

2006

193.761.311

143.632.865

110.682

48.995.069

2007

216.946.699

163.000.000

67.533

61.470.000

2008

240.249.968

191.430.218

106.930

48.926.681

2009

256.181.000

198.366.000

68.804

55.790.000

2010

275.164.196

208.000.000

111.310

67.000.000

Sumber:  Direktorat Jenderal Mineral Dan Batubara –   Kementerian ESDM.

 

Tabel tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan penambangan batubara meningkat secara signifikan sejak tahun 2005 yang lalu. Dari tabel ini dapat dilihat perbandingan antara jumlah yang diekspor dengan jumlah untuk pemakaian dalam negeri  yang besarnya sekitar 3:1.   Ketetapan Pemerintah, yang mewajibkan produser batubara untuk menyisihkan 24% dari produksinya untuk pasar domestik, dipandang kurang tepat.  Mengapa?  Yang seharusnya dikendalikan adalah kuota ekspor, karena menyangkut keamanan suplai energi nasional.  Namun, kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa pasar batubara dalam negeri justru berada di bawah kendali ekspor, bukan sebaliknya.

Terkait dengan komitmen Pemerintah (di COP 15 – Koppenhagen, 2009) untuk menurunkan emisi gas-gas rumah kaca sebesar 26% dengan dana sendiri, maka penambahan jumlah PLTU Batubara, maupun PLTU berbahan bakar fossil yang sudah beroperasi, wajib menggunakan unit penangkap karbon dan sistem penyimpanannya (CCS). Dana yang dikeluarkan untuk pemasangan CCS dapat diperoleh kembali melalui mekanisme perdagangan karbon (CDM), sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam Protokol Kyoto.

Pemerintah perlu segera memperbaiki kebijakan yang telah ditetapkannya.  Karena ketika menyangkut tentang terjaminnya keamanan energi nasional sebuah negara, negara yang sekalipun menerapkan liberalisme dalam kebijakan perdagangannya, tidak akan membiarkan potensi sumber bahan bakarnya dijual ke luar negeri dalam jumlah yang lebih besar dari pada kebutuhan dalam negeri. Mereka bahkan mengimpornya karena potensinya tidak dapat memenuhi pertumbuhan eknomi dan industri negaranya.  Apalagi masalah energi listrik dan kendali penambangan  batubara berada di bawah satu atap, yaitu Kementerian ESDM.

Pernahkah terbayangkan ketika cadangan batubara yang diperkirakan akan habis dalam 200 tahun ke depan, ternyata terkuras habis dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun?

Tinggalkan komentar

Filed under Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations, Energy, Energy Security

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s