Gaya Kampus Peduli Energi Terbarukan

“Perguruan tinggi ditempatkan sebagai salah satu jalur pembangunan energi karena sumber ilmu pengetahuan berikut pakar-pakar berpengalaman dalam mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan teori teknologi energi yang relevan”.

JAKARTA, SINAR HARAPAN – Perubahan iklim dan krisis minyak dunia merupakan “krisis ganda” bagi Indonesia, yang mengakibatkan meningkatnya harga BBM. Terjadi lonjakan kebutuhan akan energi listrik maupun bahan bakar.  Kampus pun ramai-ramai meresponsnya, mulai dari kajian, penelitian, kuliah umum, hingga akan dibukanya program Magister Pengolah Inovasi Energi di UKI.

Guru Besar Energi Listrik dan Energi Terbarukan, Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia (UKI) Prof. Atmonobudi Soebagio Ph.D.  mengatakan, krisis minyak dunia yang diawali naiknya bahan bakar minyak pada awal 1970-an, kemungkinan besar terulang kembali akibat konflik antara Iran dengan negara-negara di Eropa dan Timur Tengah.

Untuk itu, menurut Atmonobudi, kita perlu segera mencari energi baru sebagai pengganti sumber bahan bakar berbasis fosil tersebut.  Selain mengatasi krisis minyak bumi, sumber energi baru inipun harus ramah lingkungan.

“Sinar matahari dianggap sebagai energi terbarukan atau energi yang tidak pernah habis dan akan selalu ada selama umur bumi.  Hampir semua energi, 99,99 persen, berasal dari matahari yang dimanfaatkan dalam hal sederhana dan langsung seperti menjemur pakaian, dalam wujud termal, hingga turunannya seperti angin, dan gelombang laut,” ujar Atmonobudi.

Solusi untuk mengatasi kekurangan energi akibat krisis ganda tersebut, lanjut dia, adalah dengan cara melakukan diversifikasi sumber-sumber energi untuk membangkitkan listrik, melakukan penghematan energi, mengubah gaya hidup setiap warga negara yang boros dalam penggunaan energi, dan mengembangkan teknologi-teknologi baru yang lebih hemat energi juga ramah lingkungan.

Hal ini tentu menimbulkan kebutuhan sumber daya manusia yang mampu mengolah sumber energi terbarukan.  Tidak hanya masalah teknis, tetapi tentu aspek manajerial dan pengembangan ke depan.

Oleh karena itu, menurut Atmonobudi dalam percakapan dengan SH, UKI akan segera membuka Pascasarjana Teknik Elektro dengan konsentrasi atau peminatan pada Konversi Energi-energi Terbarukan, Manajemen dan Pelayanan Energi, serta Perdagangan Energi dan Karbon. “Ini relatif baru karena selama ini peminatan konversi energi dari energi terbarukan menjadi energi listrik bukan menjadi peminatan khusus, hanya bersifat pengenalan akan potensi dan lokasi energi-energi terbarukan,” kata Kepala Pusat Kajian dan Studi Kebijakan dalam Penerapan Energi Terbarukan UKI itu.

Menurutnya, pembukaan program studi bertujuan menyiapkan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang siap memanfaatkan energi terbarukan, juga dibekali keahlian baru, karena terlibat langsung dalam mendesain proyek-proyek medium untuk mengubah energi terbarukan menjadi energi listrik.

Prospek kerja di bidang ini, kata Atmonobudi, tidak hanya tren yang berlangsung dalam 10-20 tahun, tetapi terus menerus karena energi terbarukan sangat penting.

Atmonobudi menjelaskan, konsentrasi atau peminatan pada program ini terdiri dari Konversi Energi Terbarukan, Manajemen dan Pelayanan Energi, serta Perdagangan Energi dan Karbon. Program ini memiliki bobot 40 SKS dan dapat diselesaikan dalam empat semester.

Sementara itu, dalam kegiatan membangun kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim dan adaptasinya, UKI, kata Atmonobudi, sejak dua tahun lalu telah menyelenggarakan ceramah-ceramah melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga gereja dan beberapa wilayah  Kelurahan Cawang.  UKI juga terbuka untuk kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan, SMK, SMU, dan kepramukaan.

Kegiatan terakhir yang dilaksanakan pada 28-30 Maret 2012 lalu adalah menyelenggarakan sebuah seminar dan lokakarya berjudul “Indonesia Menuju Kemandirian Energi Listrik Secara Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan”. Seminar ini diadakan bekerja sama dengan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) dan melibatkan sejumlah pakar mewakili lembaga-lembaga maupun organisasi profesi di bidang energi terbarukan dan perubahan iklim serta diperkaya dengan penyelenggaraan lokakarya tentang cara memproduksi energi melalui pengolahan sampah organik dan pemanfaatan energi laut untuk menghasilkan energi listrik.

Kampus Mandiri Energi.

Pihak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sebagaimana dikutip dalam situsnya, menyatakan siap menjadi kampus mandiri energi, sekaligus perguruan tinggi pelopor pembangunan Pusat Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), baik di internal kampus maupun di sejumlah wilayah di Kabupaten Malang.

Rektor UMM, Muhajir Effendi, mengatakan, dalam sepuluh tahun terakhir UMM memiliki kepedulian dan berupaya menjadi kampus mandiri energi. Hal ini didasari pemikiran bahwa kebutuhan energi semakin hari semakin besar.

“Sementara cadangan minyak bumi dan bahan lain yang tidak bisa diperbarui semakin titpis. Sebagai perguruan tinggi, UMM perlu ikut serta memecahkan masalah agar ketergantungan terhadap sumber listrik yang tidak bisa terbarukan bisa dikurangi dengan mencari energi alternatif dari energi baru terbarukan,” kata Muhajir.

PLTMH UMM, lanjut dia, hingga saat ini masih mampu menghasilkan listrik 100 KVA untuk mendukung kebutuhan penerangan kampus. Meski pencapaian angka itu masih relative kecil untuk kebutuhan sehari-hari operasional perguruan tinggi tersebut, sebagai sebuah unit laboratorium dan obyek wisata sains, PLTMH UMM, lanjut dia, telah berhasil member inspirasi berbagai pihak untuk membangun hal serupa.

Di Institut Teknologi Surabaya (ITS), beberapa waktu yang lalu mahasiswa Teknik Mesin ITS Surabaya menggelar kompetisi energi alternatif. Kegiatan tersebut bertajuk Indonesian Mechanical Challenge (IMIC).  Diharapkan, hasil karya-karya inovatif  berupa desain alat trensportasi yang efisien dan menggunakan energi alternatif ramah lingkungan dapat diimplementasikan di masyarakat.

ITS pun pernah diminta Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) untuk melakukan kajian teknologi energi alternatif yang bias digunakan membantu penyediaan listrik di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Dari kampus Universitas Lampung (Unila) Lampung seperti dirilis laman Unila, dilaporkan bahwa melalui Lembaga Pengabdian Masyarakat Unila (LPM-Unila), mereka berencana melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Pesawaran, Lampung berupa sosialisasi, pelatihan, dan praktik pemanfaatan energi alternatif  sebagai upaya menjawab krisis energi dan tingginya BBM. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan sumber energi yang tersedia pada daerah masing-masing.

Sementara itu, Universitas Bengkulu (Unib) Bengkulu, juga mengembangkan beberapa riset energi terbarukan seperti angin dan limbah pengolahan kelapa sawit.  Kepala Lembaga Penelitian Unib, Prof Sarwit Sarwono, mengatakan, penelitian pusat listrik tenaga angin saat ini terhenti akibat keterbatasan dana, sedangkan karakteristik angin di Bengkulu tidak stabil dan perlu peralatan berdesain khusus.

Hingg akini, lanjut Sawit, beberapa peneliti Unib sedang focus pada energi alternatif dari udara dan limbah kelapa sawit. Penelitian telah dilakukan beberapa waktu lalu dan sekarang belum mendapatkan kesimpulan karena tantangannya banyak.  Meski demikian, penelitian terus dilakukan.

Dari Jakarta dilaporkan, beberapa waktu yang lalu, mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Trisakti Jakarta diberi penghargaan Muri karena berhasil mengembangkan bioethanol sebagai bahan bakar pengganti bensin yang diaplikasikan pada mesin gokar.  Kuliah umum teknologi energi terbarukan pada sistem listrik dan fuel cell, digelar di Jurusan Teknik Universitas Gunadarma, Jakarta. Jadi, mengutip tulisan Dr Ir Ramli Sitanggang, MT, Dosen Teknik Kimia UPNV Yogyakarta, perguruan tinggi ditempatkan sebagai salah satu jalur pembangunan energi karena memiliki sumber ilmu pengetahuan, berikut pakar-pakar berpengalaman dalam mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan teori teknologi energi yang relevan.   (Farida Denura)

Sumber: SINAR HARAPAN, Jum’at 13 April 2012, halaman 16.

Tinggalkan komentar

Filed under Energy, Energy and Geopolitics, Renewable Energy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s