Pemda di Pulau Nias Harus Gandeng Investor Atasi Krisis Listrik

Government of Nias Island should invite Investors to overcome Electric Power Crisis.

JAKARTA, NIAS ONLINE – Saat ini Pulau Nias masih terus didera krisis energi, khususnya listrik. Kinerja PLN yang melayani lima wilayah di Pulau itu juga terlihat seperti ngos-ngosan. Ditandai dengan masih mengandalkan PLTD berbiaya mahal karena menggunakan solar, juga dengan masih rutin terjadinya pemadaman listrik.

Head of Center for Research and Policy Study of Renewable Energi Applications, UKI, Prof. Atmonobudi Soebagio, Ph. D mengatakan, pemerintah daerah di Pulau Nias harus secara kreatif mengupayakan alternatif pasokan energi dengan memberdayakan potensi-potensi energi baru terbarukan di wilayah itu.

“Mengandalkan PLN sangat tidak tepat. Apalagi karena PLN sendiri kan mencari keuntungan. Kalau tidak menguntungkan, tidak mau. Jangankan di Pulau Nias, di daratan Sumatera Utara saja, kalau sudah agak jauh dari kota, sulit mendapatkan pelayanan PLN. Pemerintah daerah di Pulau Nias harus mengupayakan secara mandiri energinya,” jelas dia dalam perbincangan dengan Nias Online di sela Seminar Nasional & Workshop Indonesia Menuju Kemandirian Energi Listrik Secara Berkelanjutan & Ramah Lingkungan di Grha William Soerjadjaja, Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta, Rabu (28/3/2012).

Seminar itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pembicara ahli, baik dari kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Keuangan, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), PLN, dan pelaku bisnis energi baru terbarukan.

Kabupaten Nias yang diwakili oleh Noniawati dari Bappeda Kabupaten Nias, merupakan satu-satunya perwakilan dari daerah dalam seminar tersebut. Noniawati menyampaikan presentasi dengan topik “Tranformasi Potensi Air dan Cahaya, Titik Terang Menuju kemandirian Energi Listrik: Studi Kasus Kabupaten Nias.”

Beberapa cara bisa ditempuh, kata Guru Besar Energi Listrik dan Terbarukan pada program studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, UKI tersebut, di antaranya, dengan menggandeng investor swasta. Keduanya bisa bekerjasama dalam bentuk BOT (build, operate, transfer).

Dengan pola itu, kedua belah pihak berinvestasi. Setelah lewat masa operasi dengan perhitungan keuntungan bagi investor swasta, maka infrastruktur energi tersebut menjadi milik pemerintah daerah.

Alternatif lainnya adalah dengan memanfaatkan energi cahaya matahari melalui penggunaan solar cell system. Juga memanfaatkan sumber-sumber energi lainnya, seperti micro-hydro dan tenaga angin. (EN)

Tinggalkan komentar

Filed under Infrastructures, Renewable Energy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s