Hidup di Tengah Krisis Energi dan Perubahan Iklim

Living in the Midst of Energy Crisis and Climate Change.

 

ATMONOBUDI SOEBAGIO

“Pemberian izin ekspor batubara secara besar-besaran sangat bertentangan dengan prinsip kemandirian energi nasional”.

JAKARTA, SINAR HARAPAN – Manusia tidak dapat hidup tanpa energi. Pada awalnya, energi merupakan kebutuhan primer bagi manusia, namun kini meningkat menjadi pelengkap dalam memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi kehidupan mereka. Walaupun semakin bergantung pada energi, ternyata tidak ada hubungan linier  antara  konsumsi bahan bakar fosil dengan perkembangan ekonomi bangsa, pencapaian tingkat sosial, maupun kualitas hidup setiap individu;  sebaliknya, merupakan hubungan yang kompleks. Kompleksitas tersebut tampak dari korelasi antara konsumsi energi per kapita per tahun  dengan tingkat kebebasan politik, angka kematian bayi, rerata harapan hidup perempuan saat melahirkan, ketersediaan pangan harian per kapita, dan indeks pembangunan manusia (V. Smil, 2005).

Krisis ganda.

Saat ini kita berada di abad perubahan iklim dan krisis energi yang berlangsung secara berbarengan.  Ironisnya, krisis ganda tersebut berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan. Kebutuhan akan energi ternyata juga melonjak ketika manusia harus survive terhadap dampak perubahan iklim.  Perubahan iklim akan selalu  menimbulkan dislokasi ekstrim  pada banyak ekosistem  ketika sistem-sistem tersebut mengalami perubahan curah hujan dan suhu.  Hal yang serupa juga terjadi pada korelasi antara energi dan lingkungan.   John P. Holdren (Harvard University) bahkan mengungkapkan tentang kuatnya hubungan timbal-balik antara energi dan lingkungan melalui pernyataannya: “Energy is the hardest part of the environment problem; environment is the hardest part of the energy problem.” Biaya untuk menstabilkan iklim memang besar tetapi masih dapat dikendalikan. Sebaliknya, penundaan akan membuatnya semakin berbahaya dan sangat mahal.

Lemahnya sense of crisis.

Sejak awal kemerdekaan, Indonesia memperoleh devisa dari ekspor minyaknya, meskipun bukan satu-satunya.  Krisis bahan bakar dunia bermula di tahun 1973  ketika harga minyak mentah melonjak dari US$ 2,- menjadi US$ 12,- per barrel.  Pemerintah  ketika itu  memandang periode 1973 sampai 1979  sebagai masa kejayaan sektor minyak; walaupun produksinya hanya 2,13% dari total produksi minyak dunia.  Krisis tersebut ternyata juga merupakan awal kebangkitan masyarakat dunia untuk beralih ke energi terbarukan dan mengembangkannya.  Sayangnya, kebangkitan yang satu ini  tidak dicermati oleh Indonesia. Kini, negara ini telah turun peringkatnya menjadi net oil importer.

Membangun kemandirian energi.

Suatu negara dikatakan memiliki ketahanan nasional yang kuat apabila memiliki kemandirian di bidang ekonomi, sosial, dan politik.  Dan salah satu pilar utama dari kemandirian ekonomi adalah tingginya tingkat keamanan suplai energinya.

Lemahnya kepekaan akan krisis energi di awal tahun 1970-an tersebut tampaknya terulang kembali.  Ekspor batubara telah meningkat tajam dalam lima tahun terakhir, padahal hanya 25% yang diperlukan untuk  kebutuhan domestik.  Menurut International Energy Agency (IEA) potensi batubara Indonesia 4,8 milyar ton, sedangkan menurut Direktorat Pengusahaan Mineral, Batubara, dan Panas Bumi Kementerian ESDM adalah sebesar 104,76 milyar ton. Apakah data Pemerintah tersebut yang  menjadi penyebab lonjakan ekspor? Apa yang terjadi bila data IEA lebih akurat?  Ini hanya sebuah contoh dari masih adanya kontradiksi kebijakan  yang berpotensi memperlemah kedaulatan dan keamanan energi nasional di tengah krisis ganda yang sedang kita alami.

Definisi pembangunan berkelanjutan, sebagaimana tercantum pada Brundtland Report (WCED, 1987) berbunyi: “Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”.  Bila definisi tersebut diaplikasikan ke dalam konteks energi,  tampak jelas bahwa pemberian ijin ekspor batubara secara besar-besaran sangat bertentangan dengan prinsip kemandirian energi nasional yang seharusnya kokoh dan berkelanjutan.

Kebijakan dekarbonisasi.

Solusi strategis dalam mengatasi  krisis ganda secara simultan adalah dengan mengeluarkan kebijakan dekarbonisasi.  Sektor daya listrik yang selama ini sangat bergantung pada bahan bakar fosil diwajibkan menggunakan penangkap karbon dan system penyimpanannya, apabila ingin tetap bergantung pada batubara.  Indeks keberagaman, atau Shannon-Wiener Index (SWI), sumber energi untuk pembangkitan listrik di Indonesia saat ini sebesar 1,0585 , yang berarti sangat didominasi oleh satu jenis bahan bakar saja, yaitu batubara. Idealnya, SWI > 2,0.

Kebijakan dekarbonisasi lainnya adalah: (a) melakukan diversifikasi sumber energi; (b) menerapkan pajak karbon bagi industri dan transportasi; (c) menghutankan kembali lahan yang gundul dan tandus; (d) memberikan insentif atau keringanan pajak bagi produk industri yang rendah karbon dan diproduksi secara padat karya; (e) menurunkan kuota ekspor batubara; (f) elektrifikasi sistem transportasi umum darat dengan menggunakan KRL dan bus listrik; dan (g) mengganti beberapa kebijakan yang bertentangan dengan program mengatasi krisis ganda tersebut.

Pemahaman dan kepekaan tentang krisis ganda tersebut juga perlu dimiliki oleh kalangan legislatif, karena mereka  terlibat langsung di  dalam merumuskan UU, serta fungsi pengawasan atas pelaksanaannya; maupun oleh kalangan judikatif, sehingga vonis para hakim pun tidak lagi sangat ringan dan mengusik rasa keadilan.

____________

ATMONOBUDI SOEBAGIO

Guru Besar Teknik Energi dan Ketua Center for Research and Policy Study  of Renewable Energy Applications – UKI.

Dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Rabu 11 April 2012, halaman 4.

Tinggalkan komentar

Filed under Carbon Mitigation, CCS, Coal Fired Power Plants, Energy, Energy Security, Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s