Pemakaian Energi Tak Terbarukan 96 Persen

The Use of Non Renewable Energy  (is still) 96 Percent.

JAKARTA, KOMPAS – Produksi listrik dalam negeri tidak berkelanjutan. Sebanyak 96 persen sumber energi listrik tergolong tidak terbarukan.

“Masih memanfaatkan 38 persen minyak bumi, 19 persen gas bumi, dan 19 persen batubara,” kata Asisten Deputi Pengendalian Pencemaran Pertambangan Energi dan Migas pada Kementerian Lingkungan Hidup  Sigit Reliantoro, Rabu (28/3) pada Seminar “Indonesia Menuju Kemandirian Energi Listrik secara Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan” di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta.

Menurut Sigit, dibutuhkan perubahan perilaku untuk menjadikan sumber energi terbarukan sebagai sumber energi utama. Setiap daerah harus mengembangkan keunggulan masing-masing.

Ketua Umum Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Harry Jaya Pahlawan menyebutkan, 10 tahun ke depan jika tanpa energi terbarukan, Indonesia menjadi importir total minyak bumi. Kurang dari 30 tahun, sumber energi hasil tambang akan habis. “Harus kembangkan energi terbarukan,” kata Harry.

Masa Depan.

Rektor UKI Maruli Gultom mengatakan, menyediakan listrik secara berkelanjutan mengacu kepada pembangunan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan masa depan  memenuhi kebutuhannya. Kebijakan mengeruk batubara, minyak, dan gas bumi sebanyak-banyaknya saat ini dinilai kebijakan yang salah.

“Elastisitas energi Indonesia 1,84 tergolong negara boros energi,” kata Maruli.

Pakar energi UKI, Atmonobudi Soebagio, menyampaikan potensi energi terbarukan sebenarnya dapat dioptimalkan melalui empat jenis, yaitu energi gelombang, energi arus bawah permukaan, serta energi dari perbedaan suhu permukaan dan dasar laut.  Energi angin juga dapat diperoleh dari pesisir dengan total garis pantai yang mencapai 104.000 kilometer.  (NAW)

Sumber:  Kompas, Kamis 29 Maret 2012, halaman 12.

Komentar:

1. Meningkatnya penggunaan energi oleh manusia selama ini adalah dengan mengandalkan bahan bakar fossil yang menjadi penyebab utama perubahan iklim karena emisi CO2 nya..

2. Perubahan iklim tidak hanya sekadar ancaman terhadap keamanan global, melainkan juga sebuah pelipat ganda ancaman apabila dikaitkan dengan keamanan energi (energy security) nasional kita.

3. Oleh sebab itu, semua proyek percepatan kelistrikan di Indonesia harus berorientasi pada energi terbarukan dan dilaksanakan secara serentak dengan program menurunkan emisi karbon.  Kalau hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan energi listrik saja, kondisi perubahan iklim semakin berat dan kebutuhan energi listrik pun akan melonjak secara tajam.

4. PLTU Batubara yang sedang dibangun wajib dilengkapi dengan unit penangkap karbon dan penyimpanannya (CCS), dan yang sudah beroperasi juga segera dilengkapi dengan CCS. Konsentrasi CO2 di atmosfir Indonesia akan turun sebesar 39,7% jika seluruh PLTU Batubara telah menggunakan CCS.  Ini berarti bahwa target Pemerintah dalam menurunkan emisi karbon dioksida sebesar 26% akan terlampaui. Indonesia pun akan semakin meningkat kredibilitasnya dalam melaksanakan proyek REDD+ , yang dananya diperoleh dari negara-negara donor.  Kita semua tahu bahwa proyek menghutankan kembali wilayah-wilayah yang gundul, tidak hanya akan meningkatkan daya serap CO2 oleh hutan-hutan tsb, tetapi juga akan menambah suplai O2  bagi penduduk Indonesia.

Tinggalkan komentar

Filed under Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations, Energy, Energy Security, Renewable Energy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s