Program REDD+ Memerlukan Kajian Secara Multi Disiplin Sebelum Diimplementasikan

REDD+ Program Requires A Multidisciplinary Study Prior To Implementation

Program menurunkan emisi karbon akibat penebangan dan degradasi hutan, atau lebih dikenal dengan sebutan REDD+ (Reducing Emmissions from Deforestation and Forest Degradation),  telah menjadi agenda penting dalam berbagai percakapan yang terkait dengan proses kebijakan atas perubahan iklim, baik di tingkat global maupun nasional.  Sementara itu, adanya anggapan bahwa apabila seluruh hutan yang rusak berhasil dikembalikan ke kondisi sebelumnya akan mengembalikan iklim menjadi normal, adalah tidak sepenuhnya benar.  Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di bawah PBB memperkirakan bahwa penebangan dan degradasi hutan mempunyai andil sebesar 17% dari seluruh emisi gas rumah kaca (IPCC 2008, Fourth Assessment Report) yang lebih besar dari pada emisi yang ditimbulkan oleh sektor transportasi, dan hanya di urutan ketiga sesudah sektor energi global (26%) dan sektor industri (19%).  Jika andilnya hanya 17%, mengapa kita harus peduli terhadap program REDD+ ?

Robert Henson, dalam bukunya yang berjudul “The Rough Guide to Climate Change etc.” (2006), menyebutkan bahwa walaupun Brazil menduduki urutan ke 8 dalam emisi karbon dan Indonesia pada urutan ke 16, akan tetapi bila dikaitkan dengan kerusakan hutan maka Indonesia berada di urutan ke 4 dan Brazil di urutan ke 6.  Dengan kata lain, walaupun Indonesia pada urutan ke 16, namun dalam hal kerusakan hutan justru pada urutan ke 4 di dunia. Oleh karena itulah maka kita harus sangat peduli dengan program menghutankan kembali lahan-lahan yang gundul akibat pembakaran hutan atau penebangan secara ilegal.

Kebijakan REDD+ tersebut  menjadi sangat penting bagi  Indonesia, khususnya dalam memanfaatkan  dana dari negara-negara donor.  Namun di lembaga-lembaga pemerintah di tingkat  pusat maupun daerah sendiri,  masih saja dijumpai kebijakan yang lahir dari pemikiran yang tidak komprehensif, bahkan bertolak belakang antara kebijakan yang satu dengan lainnya. Sebagai contoh, tingkat keamanan energi nasional secara berkelanjutan akan menurun akibat jumlah ekspor batubara jauh lebih besar dari kebutuhan untuk pembangkitan listrik dan industry nasional; meskipun batubara itu pun merupakan sumber emisi karbon terbesar di antara bahan bakar fossil lainnya apabila tidak dilengkapi CCS.  Mengapa implementasi program REDD+  memerlukan kajian yang cukup mendalam agar tepat sasaran?

Penulis menyambut gembira dengan ditunjuknya kembali Bapak Kuntoro Mangkusubroto sebagai Ketua Satgas REDD+ periode kedua. Keberhasilan beliau dalam memimpin restorasi kembali Aceh dan Nias pasca Tsunami yang lalu merupakan pengalaman sangat berharga, khususnya tentang bagaimana program tersebut dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif cepat melalui sistem manajemen dan kendali mutu yang tepat. Penulis sangat berharap bahwa proyek REDD+ tahap kedua, yang sebagian besar akan dilaksanakan di Kalimantan Tengah, dapat direalisasikan dengan segera dan tepat sasaran.

Lalu apa yang dimaksud dengan kata “tepat sasaran”?

Menghutankan kembali bekas hutan hujan (rain forests) di Indonesia tidak cukup hanya dengan menanam  pohon-pohon yang kelak akan akan bertumbuh lebat dan menjadi penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen.  Sebagai hutan hujan yang pernah ada dan berumur ratusan, bahkan ribuan tahun, hutan tersebut kaya akan keanekaragaman hayati yang menjadi sumber kehidupan bagi aneka ragam fauna dan  ribuan jenis flora.  Hutan yang hilang tersebut juga pernah menjadi tumpuan kehidupan beberapa generasi penduduk asli (indigenous people) yang tinggal di sekitarnya. Mereka hidup dari merambah hutan, antara lain menggunakan beberapa jenis tanaman hutan yang berkhasiat sebagai bahan obat-obatan, mengambil rotan untuk dijual dan dijadikan bahan perabotan rumah, meja dan kursi.  Mereka juga menggunakan berbagai jenis tanaman hutan sebagai pewarna alami  dari benang-benang yang akan dipakai pada pembuatan kain tenun indah hasil kerajinan khas penduduk asli tersebut.  Singkat kata, hutan adalah sumber ekonomi bagi penduduk asli yang mendiami di sekitar, bahkan di tengah hutan tersebut.

Hutan juga merupakan habitat dari beberapa jenis satwa liar yang hanya dapat hidup di sana karena kaya dengan tanaman maupun buah-buahan yang menjadi makanan khas satwa tersebut. Hutan yang tumbuh lebat juga merupakan sumber air bersih yang potensinya cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia maupun pertanian.

Dengan demikian, menghutankan kembali suatu wilayah yang telah gundul tidak cukup hanya dengan menghijaukan wilayah tersebut, melainkan juga mengembalikan ke fungsinya semula sebagai hutan yang kaya akan keanekaragaman hayati dan sekaligus mengembalikannya sebagai habitat bagi satwa-satwa liar yang saat ini terancam punah.  Satwa-satwa tersebut harus terjaga agar jangan sampai punah seperti yang telah terjadi pada harimau Jawa.

Penerapan program REDD+ di tanah air juga perlu mempertimbangkan akan lahan mana yang akan dikembalikan menjadi hutan alami sebagaimana dimaksud di atas, dan mana yang dikembangkan menjadi hutan tanaman industri.  Pengembangan hutan tanaman industri sebaiknya tidak dilakukan di kawasan yang subur, melainkan di kawasan yang sudah sejak lama merupakan kawasan yang gundul dan tandus. Penentuan jenis pohon dan tanaman untuk mengembalikannya menjadi hutan yang alami  pun memerlukan kajian komprehensif dengan mempelajari hasil-hasil kajian biologi maupun budaya yang pernah dilakukan oleh perguruan tinggi di provinsi setempat maupun yang tersimpan di LIPI Pusat.

Sesungguhnya, aliran dana dari negara-negara UTARA (pemberi dana)  ke negara-negara SELATAN (penerima dana) untuk mereduksi gas-gas rumah kaca melalui program REDD+ yang  diprediksi  bernilai US$ 30,- milyar setiap tahunnya – merupakan jumlah yang sangat besar. Bahkan dari dana sebesar itu dapat diinvestasikan untuk proyek-proyek energi terbarukan bagi 2 milyar penduduk dunia yang belum terjangkau pelayanan listrik, rumah sakit, dan sekolah. Melalui kajian yang komprehensif dan cermat, niscaya pelaksanaan program REDD+ akan terlaksana serta tepat sasaran. Semoga.

Tinggalkan komentar

Filed under Anthropogenic, Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations, REDD+, The Economics of Climate Change

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s