Tahukah Anda Ketika Permukaan Laut Naik Satu Meter?

Pemanasan global akibat melonjaknya emisi gas karbon dioksida dan gas-gas rumah kaca lainnya telah menyebabkan kenaikan suhu bumi dan perubahan iklim, antara lain berupa kenaikan permukaan laut karena mencairnya gunung-gunung es di Kutub-Kutub maupun salju abadi di banyak gunung di Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Latin. Model-model perhitungan komputer yang dikembangkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (lPCC) mengindikasikan bahwa kenaikan permukaan laut setinggi 1 (satu) meter akan terjadi sebelum tahun 2080.  Apa yang akan terjadi di Indonesia pada saat kenaikan permukaan laut tersebut?

Lebih dari 1 milyar penduduk dunia tinggal di daratan yang akan tenggelam apabila permukaan laut naik satu meter.  Akan tetapi perhatian dari pemerintah di negara-negara tersebut sangat kecil, bahkan cenderung mengabaikannya.  Sebagai bukti, pembangunan perumahan mewah di pesisir pantai tumbuh dengan subur dengan berbagai tawarannya yang sangat menarik bagi masyarakat yang mampu.  Reklamasi pantai pun terjadi terjadi dimana-mana untuk perluasan perumahan semacam itu, baik di Jakarta maupun kota-kota pesisir lainnya.  Anda mungkin akan membayangkan bahwa kelak wilayah pesisir utara Jakarta akan seperti kota tua Venesia, yang transportasinya mengandalkan perahu-perahu (gondola) karena jalan-jalan terendam air.

Kenaikan permukaan laut juga menyebabkan penetrasi air laut ke daratan (di bawah tanah), sehingga membuat air sumur menjadi terasa asin.  Kota-kota besar di kawasan pesisir yang  telah mengalami rembesan air laut di bawah tanah (ke arah daratan) antara lain adalah Jakarta, Manila, Bangkok dan Dhaka.  Kondisi kota Jakarta adalah yang paling parah karena bersamaan dengan kenaikan permukaan laut, saat ini sedang terjadi penurunan permukaan tanah, khususnya di wilayah barat kota tersebut.

 

Salah satu obyek vital di Jakarta Utara yang terancam oleh kenaikan permukaan laut adalah PLTU Muara Karang;  yang telah beroperasi sejak tahun 1979.  Ketika dibangun, permukaan tanah di PLTU berkapasitas 1.000 MW tersebut lebih tinggi dari pada permukaan laut, namun kini permukaannya telah turun menjadi 2 meter di bawah permukaan laut.2  Penurunan permukaan tanah di kawasan unit PLTU ini mencapai 18 centimeter setiap tahunnya.

Berikut ini ditampilkan sebuah Tabel yang menjelaskan kondisi di beberapa negara Asia dan Pasifik apabila terjadi kenaikan permukaan laut setinggi satu meter.

 

Negara Akibat   Dari Kenaikan Permukaan Laut Satu Meter
Indonesia 3,4 juta hektar lahan yang dihuni oleh   2 juta penduduk akan tenggelam. Data tentang jumlah penduduk yang tergusur   akan lebih besar lagi mengingat tidak lengkapnya informasi kerapatan penduduk   di pulau-pulau kecil berpenghuni.
Malaysia Akan kehilangan 700.000 hektar dan   sebagian besar berupa perkebunan yang menghasilkan komoditas eksport, a.l.   karet, minyak sawit, dan kelapa; dan menggusur 1 juta penduduknya ke tempat   lebih tinggi.
Philipina Sebuah negara kepulauan yang 20 juta   penduduknya (sekitar 25% dari total penduduknya) akan tergusur.
Vietnam Kehilangan 2 juta hektar di Delta Mekong   dan 500.000 hektar lainnya di Delta Sungai Merah; yang berarti akan   menggususr 10 juta penduduknya.
Negara-negara kepulauan di Pasifik Kenaikan yang hanya 85 centimeter saja   akan menenggelamkan 65% luas daratan dari Kepulauan Marshall dan Kiribati di   Pasifik Selatan. Kenaikan permukaan laut setinggi 1 meter akan menggusur 5 juta   penduduk di Pasifik Selatan.  Merekalah   yang saat ini paling panik karena negara mereka akan hilang dari peta dunia, dan sangat berharap bahwa kelak dapat diterima tinggal   di negara-negara besar di Pasific Rim, seperti Australia, New Zealand, dan   Tasmania.
India 600 ribu hektar akan tenggelam dan menyebabkan   7 juta penduduknya berpindah.
Bangladesh 3  juta hektar tanah akan tenggelam dan   menggusur 35 juta penduduknya ke tempat lebih tinggi.
Sumber: Dikumpulkan dari   berbagai sumber.

 

Masalah energi, termasuk energi listrik, di Indonesia merupakan masalah yang akan semakin membebani kita apabila tidak dikelola secara arif, strategis, dan berorientasi ke pembangunan berkelanjutan.  Proyek Percepatan Kelistrikan 10.000 Megawatts Tahap Pertama, yang sedang dikerjakan saat ini, memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang sempat terabaikan lebih dari satu dekade.  Namun sayangnya, pembangunan pembangkit-pembangkit listrik yang dibangun melalui proyek percepatan kelistrikan tersebut berupa PLTU menggunakan bahan bakar fossil (batubara, gas, dan minyak diesel/solar); yang bersama BBM untuk kendaraan bermotor merupakan penyebab utama emisi karbon dioksida di Indonesia.   Sebaliknya, pembangkit-pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan bukan merupakan prioritas utama dalam proyek percepatan kelistrikan tersebut.

Penghematan dalam penggunaan energi (energy efficiency), merupakan langkah awal yang strategis, di samping melakukan diversifikasi energi melalui keanekaragaman jenis sumber energi bagi pembangkit listrik yang kita pakai. Sangat disayangkan, bahwa negara kita ternyata tergolong negara yang boros energi karena Elastisitas Energi-nya  (EE) di atas 1,0 .   Sebuah negara dikatakan hemat dalam penggunaan energi apabila EE < 1,0. Elastisitas Energi adalah perbandingan antara Pertumbuhan Konsumsi Energi (%) dengan Pertumbuhan PDB (%).


Kiranya melalui tulisan ini, para pembaca akan semakin tanggap terhadap dampak perubahan iklim dan mulai mengubah pola hidupnya yang mungkin selama ini banyak menggunakan energi listrik maupun bahan bakar bagi kendaraan bermotornya.  Perlu diingat bahwa energi listrik tersebut berasal dari pembangkit-pembangkit listrik berbahan bakar fossil yang menyebabkan pemanasan global; demikian juga dengan BBM kendaraan bermotor  penyebab emisi karbon dioksida dan karbon monoksida yang dikeluarkan melalui knalpot.

Seandainya seluruh penduduk Indonesia semakin hemat dalam penggunaan listrik, maka volume bahan bakar fossil yang dikonsumsi untuk membangkitkan listrik pun akan berkurang secara signifikan.

 

Daftar Bacaan:

1. http://www.afrol.com/html/Categories/Environment/backgr_oceans_come.htm .

2. http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/12/111207_muarakarang.shtml (dibaca 7 Desember 2011).

3. Don Hinrichsen & World Watch Institute, The Oceans are coming ashore, Afrol News, 27 Desember 2011.

Tinggalkan komentar

Filed under Anthropogenic, Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s