Dimethyl Ether (DME) sebagai Pengganti LPG, Perlu Segera Diproduksi di Indonesia

Dimethyl Ether (DME) as LPG Substitution, Should Be Produced in Indonesia

Pemerintah belakangan ini mengalami masalah serius dalam menetapkan kebijakan tarif BBM. Tanpa pengendalian konsumsi BBM bersubsidi, beban subsidi akan semakin memberatkannya.  Menurut perkiraan, subsidi BBM pada akhir tahun 2011 akan melonjak dari target awal sebesar Rp. 95,9 trilyun menjadi Rp. 120,8 trilyun (Kompas, 5/7/2011).

Sebagaimana  telah dialami banyak negara yang mengandalkan bahan bakar fossil sebagai satu-satunya sumber energi, Indonesia pun mengalami krisis yang sama dan kini telah sampai pada puncak kemampuan Pemerintah dalam menyubsidi  bahan bakar tersebut.  Selama kita masih dapat mengimpor minyak mentah dengan harga di bawah US$ 80,-/barrel, subsidi tersebut masih dapat dipertahankan.  Itupun semakin sulit karena  kini negara kita sudah berstatus Net Oil Importer, yang berarti 50% dari kebutuhan domestik harus diimpor. Menurut Bloomberg (7/7/2011), harga minyak mentah jenis “Nymex Crude Future” US$ 96,65/barrel, sedangkan jenis “Dated Brent Spot” sebesar US$ 113,92/barrel. Tidak tertutup kemungkinan bahwa harga minyak mentah akan terus meningkat karena suhu geopolitik beberapa negara penghasil minyak di Afrika Utara dan Timur Tengah sedang meninggi.  Seperti kita ketahui, negara-negara di wilayah tersebut merupakan penghasil 30% minyak mentah dunia. Kita tidak selalu dapat memperoleh minyak dengan harga semurah tadi, terlebih apabila pergolakan politik di negara – negara tersebut berdampak terhadap merosotnya kapasitas produksi minyak mereka.  Kalaupun ada, kemungkinan berupa minyak mentah yang tergolong low-grade.

Lalu apakah yang perlu dilakukan oleh Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam memecahkan permasalahan ini?

Energi, termasuk energi listrik, merupakan elemen yang sangat penting dan strategis di dalam mendukung Sistem Ketahanan Nasional kita di bidang ekonomi dan sosial.  Krisis bahan bakar dan energi listrik dapat menimbulkan ancaman serius bagi kestabilan ekonomi dan sosial sebuah negara.  Sebaliknya, negara yang memiliki sumber-sumber energi yang selalu tersedia sepanjang masa adalah ibarat kokohnya tulang-tulang yang membuat tegaknya tubuh yang bernama bangsa Indonesia.

Solusi yang paling tepat untuk mengatasinya adalah dengan melakukan “diversifikasi sumber-sumber energi” yang akan menggantikan energi fossil dan minyak impor yang semakin mahal, polutif, dan berkurang ketersediaannya.  Mungkin tidak banyak di antara para pembaca yang menyadari bahwa gas LPG pun kini harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri.  Kebutuhan LPG dalam negeri diprediksi lebih dari 3,8 juta ton untuk tahun 2011 ini, di mana PT Pertamina hanya dapat menyuplai 1 juta ton dan 1 juta ton dari PetroChina, perusahaan asing yang berbasis di Indonesia.  Sisanya harus diimpor.  Kita harus segera kembangkan sumber-sumber energi alternatif di Indonesia yang tidak pernah habis, namun juga sekaligus yang ramah lingkungan.

Artikel ini membahas tentang bahan bakar cair maupun gas  bernama dimethyl ether (DME), yang juga disebut   methyl ether, methyl oxide, dan wood ether.

Dimethyl Ether (DME).

DME, yang memiliki formula kimia CH3OCH3, awalnya digunakan sebagai aerosol propellant pada produk-produk konsumer, seperti hairspray, paint spray, parfum, deodoran, dan insektisida. Gas ini tidak berbau, tidak berwarna, serta cukup mudah dalam memprosesnya ke dalam bentuk cairan.   DME juga menggantikan gas-gas CFC (untuk AC dan refrigerator) yang kini telah dilarang digunakan di banyak negara.  Yang menarik pada DME adalah potensinya sebagai bahan bakar alternatif untuk kendaraan bermesin diesel, karena memiliki bilangan cetane 55-60, dibandingkan dengan minyak diesel/solar yang hanya 40-55. Dengan lebih tingginya bilangan cetane, DME mampu menggantikan minyak diesel/solar serta sekaligus menurunkan tingkat kebisingan suara mesin diesel menjadi sehalus suara mesin kendaraan bermotor yang menggunakan gasoline. Bila digunakan sebagai bahan bakar transportasi, DME menyebabkan emisi karbon monoksida (CO) 50% lebih rendah dari pada minyak diesel/solar; demikian juga dengan emisi  nitrogen oksida yang 90% lebih rendah.

Seperti pada liquefied petroleum gas (LPG, atau elpiji), DME berwujud gas pada temperatur dan tekanan normal, tetapi akan berubah menjadi cair apabila ditekan atau didinginkan.  Mudahnya proses pencairan DME membuatnya mudah juga dalam transportasinya  hingga ke pelosok-pelosok daerah dan mudah dalam penyimpanannya. Sifat tadi dan sifat lainnya, yaitu banyak mengandung oksigen, rendah kadar belerang atau kandungan NOx lainnya, serta pembakarannya yang bersih, membuat DME merupakan solusi yang menjanjikan sebagai  bahan bakar terbarukan yang bersih dan rendah karbon.

DME dapat diperoleh dari banyak sumber, termasuk material yang terbarukan seperti biomassa, sampah organik, dan produk pertanian.  Juga dapat diolah dari bahan bakar fossil, seperti batubara muda dan gas alam.

DME diproduksi sekurang-kurangnya dalam dua tahap. Pertama, hidrokarbon dikonversikan ke gas sintesis, sebuah kombinasi dari karbon monoksida dan hidrogen.  Kedua, gas sintesis tersebut kemudian dikonversikan ke DME, baik lewat methanol (proses konvensional) atau langsung dalam satu tahap saja.

Prospeknya sebagai pengganti LPG.

Berdasarkan pertimbangan akan sifatnya yang agak serupa dengan LPG dan biaya produksinya yang 20% lebih murah (Jakarta Globe, 24 Juni 2009), DME memiliki prospek yang sangat baik untuk menggantikan LPG impor dan domestik, yang juga berarti dapat mengurangi beban subsidi  Pemerintah.

Pemerintah perlu menggandeng sektor swasta untuk memproduksi DME secara besar-besaran agar dapat mengakhiri ketergantungan LPG dari luar.  Saat ini PT Pertamina bekerja sama dengan sebuah perusahaan minyak swasta, PT Arrtu Mega Energie (AME) untuk membangun sebuah pabrik di Peranap – Riau, dan Eretan – Jawa Barat dengan biaya US$ 1,9 milyar.  Pabrik di Riau akan memproses batubara kualitas low-grade menjadi methanol, yang kemudian diproses menjadi DME di pabrik Eretan.  Menurut Christoforus Richard, Presiden Direktur AME, kapasitas produksinya akan mampu mencapai 1,7 juta ton per tahun.  AME akan menguasai 80% saham di kedua pabrik tersebut dan sisanya merupakan saham PT Pertamina.

Dan kepada masyarakat luas, sangat diharapkan partisipasinya untuk menghemat penggunaan bahan bakar fossil, baik yang berbentuk cair maupun gas, serta lebih mengandalkan sistem transportasi massal.  Dapat dipastikan bahwa masyarakat luas akan lebih memilih menggunakan kendaraan angkutan umum massal, seperti bus dan KRL, asalkan alat transportasi tersebut tersedia dalam jumlah yang memadai, tarif terjangkau, tiba tepat waktu, dan memberikan kenyamanan bagi para penumpangnya.  Dengan meningkatnya kualitas pelayanan angkutan massal ini, penggunaan kendaraan bermotor pribadi pada hari kerja akan menurun jumlahnya.  Semoga.

3 Komentar

Filed under Energy and Geopolitics, Renewable Energy

3 responses to “Dimethyl Ether (DME) sebagai Pengganti LPG, Perlu Segera Diproduksi di Indonesia

  1. Ping-balik: Mengenal DME, Bahan bakar Gas utk mesin Diesel | INNOVA COMMUNITY

  2. putra-putri bangsa kita sangat cerdas dan pinter, tapi kadang pemikiran para teknokrat hanya sebagai reperensi saja……ntar aja dipakai kalo udah kepepet…..cadangan gas alamkita juga banyak ….mending beli ..jual lagi ke rakyat sendiri…..politik kan perlu uang…inilah sumber kemerosotan kita…..banyak penelitian2 anak bangsa yg cemerlang di hargai saat dia berhasil, dan cuman di kasih selembar sertipikat….setelah itu hasilnya akan numpuk di perpustakaan kampus………DME sebagai sumber energi alternatip perlu disosialisasikan….salam sukses

    • Terima kasih Mas Imam atas tanggapannya.

      Artikel yang saya tulis di blog ini memang ditujukan untuk membantu para pembaca dalam meningkatkan wawasannya tentang masalah yang dihadapi negara Indonesia dalam hal energi/bahan bakar bagi pembangunan berkelanjutan, dan usulan pemecahannya.

      Salam,
      Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s