Mengenal lebih dekat PLTN Fukushima I di kota Okuma – Jepang

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima I, yang juga disebut PLTN Fukushima Dai-ichi, berada di kota Okuma, Distrik Futaba, Wilayah Fukushima yang terletak di bagian utara pulau Honshu –  Jepang. Kota Okuma ini berjarak 240 kilometer dari kota Tokyo.  Pembangkit listrik bertenaga nuklir ini terdiri dari 6 boiling water reactor, di mana  reaktor-reaktor dari jenis light water reactor tersebut berkapasitas daya listrik total sebesar 4,7 Gigawatt,  dan merupakan  satu di antara 25 PLTN terbesar di dunia.  PLTN Fukushima I dibangun dan dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Company (TEPCO).

Penduduk Wilayah Fukushima berjumlah 2 juta jiwa, bersama Wilayah-Wilayah Miyagi dan Iwate,  merupakan wilayah-wilayah yang paling rusak dan menderita akibat gempa berskala 8,9 SR (telah dikoreksi menjadi 9,0 SR), disusul dengan Tsunami, pada  hari Jum’at tanggal 11 Maret 2011 yang lalu.

Pasca diterpa gempa dan gelombang Tsunami yang lalu, Unit 1 dari PLTN Fukushima I yang radioaktifitasnya sangat besar telah meledak setelah mengalami gangguan karena gagal menghidupkan generator diesel cadangan yang diperlukan untuk menyuplai listrik bagi sistem pendingin reaktor.  PLTN ini sedang dalam kondisi berdaya penuh ketika mengalami gempa.   Walaupun batang-batang pengatur (control rods) telah dimasukkan ke inti reaktor secara otomatis untuk menghentikan proses reaksi nuklir, ternyata suhu inti reaktor  masih tetap  tinggi.   Sekalipun sistem pendingin inti reaktor berfungsi penuh, tetap diperlukan waktu beberapa jam untuk membuat suhu inti reaktor tersebut menurun dan menjadi stabil.  Sebaliknya, jika sistem pendingin inti reaktor gagal berfungsi, maka inti reaktor akan meleleh (melting down) karena suhu yang sangat tinggi, dan melepaskan partikel-partikel debu radioktif yang keluar dari reaktor  bersama cairan pendingin yang ada di inti reaktor,  maupun terbawa udara ke atmosfir di sekitar bangunan reaktor.

Meledaknya bagian dari reaktor  Unit 1 di PLTN tersebut bukanlah akibat gempa secara langsung, melainkan karena kegagalan dalam menghidupkan diesel generator  emergency untuk menyuplai listrik bagi unit  sistem pendingin reaktor, karena aliran listrik telah terputus secara otomatis   beberapa saat sebelum terjadi  Tsunami.  Adalah sangat berbahaya bagi penduduk di wilayah tersebut apabila gelombang besar yang menghantam mereka  juga beraliran listrik.  Menurut Kompas, Rabu 13 April 2011, Pemerintah Jepang telah menaikkan derajat kecelakaan di PLTN Fukushima I ke  tingkat maksimum pada Skala Kejadian Nuklir Internasional, yaitu dari skala 5 ke skala 7. Keputusan tersebut dikeluarkan setelah mempelajari hasil pemantauan kebocoran radiasi terbaru di sekitar kompleks PLTN tersebut.

Ledakan kedua terjadi pada Unit 3 pada hari Sabtu 12 Maret 2011.  Ketika itu otoritas PLTN berusaha menurunkan tekanan tinggi yang dialami reaktor Unit 3.  Akhirnya, terbentuk gas hidrogen yang terlepas bersama uap panas.  Ledakan tidak dapat dielakkan ketika hidrogen bercampur dengan oksigen di atmosfir.  Ledakan ini sebetulnya tergolong reaksi nuklir secara  fusi antara atom hidrogen dengan atom oksigen.

Ledakan ketiga  yang terjadi pada reaktor Unit 2 dan kebakaran pada Unit 4 pada hari Selasa 15 Maret 2011.  Ledakan ini terjadi karena terbentuknya gas hidrogen ketika uap di dalam inti reaktor (vessel) yang sangat panas bereaksi dengan pipa-pipa zirconium alloy yang membungkus bahan bakar (fuel rods).  Hidrogen, yang keluar dari inti reaktor yang mulai bocor, bereaksi dengan oksigen yang ada di dalam gedung reaktor dan menimbulkan ledakan.

Menurut CNN (17 Maret 2011), ledakan yang terjadi pada Unit 1, Unit 2, dan Unit 3 disebabkan oleh gas hidrogen, sedangkan pada Unit 4 adalah kebakaran.  Menurut seoraing  pakar nuklir yang diwawancarai  CNN, kondisi radiasi di Wilayah Fukushima dan sekitarnya sudah tergolong “extremely high“, yang berarti lebih tinggi dari “very high“.  Pemerintah AS telah mengingatkan warga negaranya yang berada di dalam radius 50 kilometer untuk menyingkir dan meninggalkan Jepang.  Tokyo telah terkontaminasi  dan seluruh warga di sana diminta untuk tetap berada di dalam rumah.

Juga telah dipastikan bahwa cesium-137 dan iodine-131 yang terbentuk di dalam inti reaktor, telah lepas ke atmosfir.  Kedua unsur radioaktif ini terbentuk di dalam reaktor dan dapat mencemarkan air pendingin apabila batang-batang bahan bakar (fuel rods) menjadi cukup panas untuk melelehkan pipa-pipa zirconium alloy yang berisi bahan bakar/pellet uranium. Radioisotop Cesium-137 memiliki setengah umur selama 30 tahun, sedangkan Iodine-131 selama 8 hari.  Meskipun setengah umur Iodine-131 lebih singkat, isotop tersebut berbahaya karena dapat menjadi penyebab kanker thyroid.

Bertiupnya angin di saat terjadinya kebocoran partikel radioaktif akan memperluas penyebarannya, dan juga meningkatkan jumlah penduduk yang berisiko terkena radiasi.  Radiasi nuklir juga dapat mengenai kebun sayur mayur, pusat penjernihan air minum, maupun hewan di peternakan  yang berada di daerah sebaran partikel radioaktif tersebut.  Jika itu semua telah terkontaminasi, maka tidak layak untuk dimakan dan diminum.  Risiko penyebaran debu radioaktif oleh angin ini sangat dikuatirkan oleh masyarakat Rusia dan Korea yang bertetangga dengan Jepang.  Filipina dan Indonesia juga dapat mengalami hal yang sama bila ada tiupan angin di lokasi yang bergerak jauh ke arah selatan.  Hal serupa juga pernah di  Inggris ketika 382 peternakan domba (226.500 ekor) di sana dideteksi telah terkena partikel radioaktif cesium-137 yang berasal dari PLTN Chernobil – Ukraina (Schneider, “The Chernobyl Disasters”).  Padahal jarak Chernobyl dengan Inggris berkisar 2300 kilometer.

Menurut informasi , lebih dari 210 ribu penduduk yang tinggal di radius 20 kilometer telah dievakuasi begitu level radiasi nuklir meningkat 1,5 kali di atas level kekuatan  rancangannya.

Hingga hari Jum’at (25/3), para ilmuwan dan pekerja yang berusaha mengendalikan kerusakan reaktor belum bisa menentukan sumber kebocoran radiasi telah melukai kaki dua pekerja sehari sebelumnya.  Kedua pekerja tersebut dilarikan ke rumah sakit, Kamis, setelah kaki mereka terkena air di ruang bawah tanah reaktor Unit 3.  Kaki mereka langsung terbakar setelah terkena radiasi yang kekuatannya 10.000 kali lipat dari level normal.  Reaktor Unit 3 dikuatirkan menjadi sumber penyebab kebocoran karena menggunakan bahan bakar campuran Uranium dan Plutonium yang tidak stabil. Ledakan gas hidrogen diduga yang menyebabkan kerusakan pada reaktor.

Krisis nuklir yang terjadi di  PLTN Fukushima I, membuktikan bahwa pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkitan listrik sangat berisiko.  Jepang, yang merupakan negara dengan frekuensi gempa cukup tinggi, tentunya sangat memperhatikan kekuatan konstruksi bangunan maupun reaktornya agar tahan  terhadap gempa terbesar yang pernah terjadi di  negara tersebut.  Gempa pada tanggal 11 Maret 2011 y.l. dengan kekuatan 9,0 SR ternyata lebih kuat dari gempa terbesar yang  pernah terjadi sebelumnya.

Tidak seperti pada pembangkit-pembangkit listrik jenis lainnya, PLTN yang sudah tidak beroperasi (karena umur dan produktifitasnya telah menurun) maupun yang hancur seperti pada PLTN Fukushima I harus menjalani proses decommissioning dan dismantling

Decommissioning adalah proses menurunkan tingkat radiasi nuklir sampai ke batas aman (maksimum 5 millisievert) bagi operator maupun masyarakat disekitar lokasi PLTN.  Proses ini berlangsung sangat lama, bahkan hingga 70-110 tahun. Tragedi  PLTN Chernobyl yang tanggal 26 April 2011 yad akan diperingati 25 tahunnya, ternyata masih berbahaya bagi sekitarnya.   Pemerintah Ukraina telah meminta bantuan negara-negara Eropa untuk mendanai pemasangan bangunan baja yang membungkus reaktor tersebut.  Karena harus mampu berdiri tanpa kebocoran selama half-time life uranium,  konstruksi tersebut nilainya trilyunan rupiah.

Proses dismantling adalah proses mempreteli reaktor menjadi bagian-bagian kecil agar mudah diangkut  ke tempat yang aman.  Bagian-bagian dari reaktor ini tidak boleh diangkut dalam kontainer biasa, melainkan dengan kontainer khusus yang berlabel dari V1 hingga V5.

Perlu diketahui bahwa sebuah PLTN berkapasitas 1.000 megawatt  memerlukan   bahan bakar uranium (yang setengah umur radiasinya berlangsung lama) yang setara dengan 1.000 bom yang dijatuhkan di Hiroshima (Caldicott H., 2006).  Kapasitas daya listrik PLTN Fukushima I adalah 4.700 megawatt.

Saat ini hanya 17  dari 54 reaktor nuklir di Jepang yg masih beroperasi.  Reaktor-reaktor tersebut dihentikan pengoperasiannya oleh pemerintah Jepang, mengingat tragedi PLTN Fukushima I  bulan Maret yang lalu   serta penolakan oleh lebih dari 75% rakyat Jepang terhadap penggunaan PLTN.

Marilah kita bersama doakan agar Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan menolong para korban dan keluarga mereka, serta memberikan ketahanan fisik yang prima bagi seluruh tim penolong yang dengan sigap telah turun tangan dalam memberikan pertolongan bagi  penduduk di lokasi bencana.

Tinggalkan komentar

Filed under Nuclear Risks Issues

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s