Kondisi Geopolitik di Afrika Utara dan Timur Tengah Dapat Melemahkan Ketahanan Nasional di Bidang Energi

 

Perdagangan yang terkait dengan kebutuhan energi primer penduduk dunia tidak dapat dipisahkan dari kondisi geopolitik di negara-negara produsennya maupun di negara-negara konsumennya. Bahan bakar minyak merupakan salah satu kebutuhan energi primer manusia, di samping kebutuhan primer yang berupa bahan makanan pokok, sandang dan papan.

Kondisi Geopolitik.

Pergolakan politik — yang berawal dari  Tunisia dua bulan yang lalu dan telah berimbas ke Mesir, Aljazair, dan Libya —  merupakan pergolakan di negara-negara penghasil minyak di Afrika Utara.  Pergolakan tersebut tampaknya mulai berpengaruh ke wilayah Timur Tengah.  Jika pergolakan di negara-negara Afrika Utara berlatar belakang protes rakyat terhadap pemimpin-pemimpin negaranya yang telah memerintah lebih dari 30 tahun  namun tidak menyejahterakan rakyatnya, maka suasana yang mulai memanas di Bahrain lebih disebabkan oleh ketidakpuasan kelompok Shiah, yang merupakan 60% penduduk negara tersebut, terhadap pemerintahnya yang didominasi oleh kelompok Sunni.  Rupanya situasi di monarki yang telah berumur 229 tahun, dan terletak  di sebuah pulau kecil di Teluk Persia ini, telah menimbulkan kekuatiran yang cukup  besar bagi Pemerintah Saudi Arabia.  Mengapa demikian?

Saudi Arabia adalah sebuah negara kerajaan di Timur Tengah dan merupakan salah satu penghasil minyak bumi terbesar di dunia.  Sebagian besar industri perminyakannya terkonsentrasi di provinsi-provinsi wilayah timur negara tersebut. Masalahnya adalah bahwa mayoritas penduduk di kota-kota wilayah timur tersebut dari kalangan Shiah.  Dan Bahrain hanya berjarak 25,7 kilometer dari wilayah timur Saudi Arabia.  Situasi inilah yang membuat Saudi Arabia sangat kuatir dan berusaha dengan segala cara agar pemerintah Bahrain jangan sampai jatuh. 

Imbasnya terhadap Ketahanan Energi Nasional.

Hingga saat ini belum ada informasi yang menyebutkan bahwa situasi unrest di wilayah-wilayah tersebut telah mengganggu kelancaran pelayaran di Terusan Suez, maupun pengisian minyak ke kapal-kapal tanker di pelabuhan-pelabuhan  wilayah ini.  Namun kenyataannya, situasi tersebut telah membuat suasana bisnis perminyakan dunia seperti dalam perjudian yang  bersifat gambling.

Nouriel Roubini, seorang ekonom yang dikutip oleh Bloomberg Business Week, 6 Maret 2011, memprediksi bahwa apabila gejolak politik yang terjadi di Afrika Utara merembet ke Bahrain dan Saudi Arabia, harga minyak mentah dunia akan melonjak  ke US$ 140,-  per barrel, bahkan lebih tinggi. Seperti kita ketahui, wilayah Timur Tengah merupakan penghasil 30% minyak mentah dunia.  Apabila digabungkan dengan negara-negara penghasil minyak di Afrika Utara, akan menjadi penghasil sepertiga minyak mentah dunia.  Suatu jumlah yang cukup signifikan dalam membuat lonjakan harga minyak mentah dunia.

Meskipun Indonesia secara geografis terletak jauh dari wilayah yang sedang konflik tersebut, negara ini tidak lagi mampu mengandalkan kebutuhan energinya dari produksi tambang-tambang minyaknya sendiri. Lonjakan harga minyak mentah dunia sudah barang tentu akan berpengaruh besar terhadap kondisi finansial negara, karena sejauh ini harga BBM di dalam negeri masih terjangkau masyarakat lewat subsidi Pemerintah.  Namun, sampai kapankah Pemerintah mampu mempertahankan subsidi yang semakin membengkak nilainya?  Atau, seberapa kuatkah ketahanan energi nasional kita terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia?

Perlunya langkah inovatif dan strategis.

Dalam mengantisipasi dampak pergolakan politik di Afrika Utara dan Timur Tengah, China telah melakukan langkah antisipatif dengan menambah cadangan minyaknya secara strategis agar tidak terganggu dalam memenuhi kebutuhan minyak di negaranya.

Leo Drollas dari Centre for Global Energy Studies, mengatakan bahwa Iran, yang sebelum revolusi mampu memproduksi minyak sebanyak 6 juta barrels per hari, kini hanya memproduksi 3,7 juta barrels per hari.  Dampak pergolakan di Afrika Utara dan Timur Tengah perlu diantisipasi oleh Pemerintah secara inovatif dan strategis.

Konsumsi BBM Indonesia saat ini adalah  sebesar 2 juta barrel/hari, sedangkan kapasitas produksi domestik hanya berkisar 1 juta barrel/hari; suatu kondisi yang dikenal dengan sebutan net oil importer.  Hal ini telah disadari oleh sektor swasta yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, dan mereka meresponnya dengan meningkatkan produksi CPO sebagai bahan baku dari bahan bakar nabati (bio-fuel) sejak kurang lebih dua puluh tahun yang lalu.  Kini mulai dikembangkan juga tanaman “jarak pagar” (Jatropha) sebagai alternatif pengganti CPO, mengingat kelapa sawit  juga tergolong  feedstock. Produksi  minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak jarak kini semakin diminati  dunia yang sedang gandrung “green energy”.

Rekomendasi.

Untuk menjaga ketahanan energi nasional, sektor bio-fuel perlu semakin diperkuat dengan melibatkan  potensi masyarakat lewat pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR).  Pemerintah disarankan agar tidak meningkatkan jumlah impor minyak mentah; sebaliknya, melakukan  kompensasi melalui  peningkatan produksi bio-fuel dengan menaikkan mix ratio antara minyak nabati dan minyak bumi.  Kita harus mengurangi produksi premium, pertamax, maupun solar yang selama ini murni berasal dari minyak bumi dan mengkompensasinya dengan mencampur minyak nabati.  Ini berarti, kita harus meningkatkan produksi  bio-premium, bio-pertamax, dan bio-solar  melalui peningkatan produksi bio-ethanol dan CPO.

Masih terkait dengan upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak bagi pembangkitan energi listrik, Pemerintah perlu mempercepat pembangunan membangkit-pembangkit listrik yang menggunakan energi panas bumi yang potensinya 28.178 megawatt  (40% potensi dunia) dan energi air, baik yang menggunakan teknologi arus sungai  (energi kinetik) maupun air terjun (energi potensial). Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua merupakan pulau-pulau dengan potensi sungai-sungai yang memiliki debit air yang  besar dan berpeluang untuk dibangun PLTA di sungai-sungai tersebut dengan kapasitas total ribuan megawatt listrik, dan dapat distribusikan energinya  secara on-grid maupun off-grid.  Menurut Kementerian ESDM, potensi energi air di Indonesia berkisar 75.670 megawatt, dan baru dimanfaatkan sebesar 5.700 megawatts, atau 7,53%.  Pembangunan PLT Mikrohidro di Indonesia juga memiliki peluang yang sangat besar dan cocok sekali untuk dibangun di daerah-daerah yang terpencil secara geografis, maupun di pulau-pulau yang dari pertimbangan ekonomi tidak mungkin dihubungkan secara on-grid.  Potensi energi air jenis mikrohidro adalah 769,7 mengawatt, namun baru dimanfaatkan sebesar 216,7 megawatt atau 28,15%.  

Potensi energi surya di Indonesia adalah 4,8 KWh/meter persegi.hari .   Seandainya   1%  dari luas daratan Indonesia  — dengan memanfaatkan pulau-pulau tidak berpenduduk —  yang sebesar 1.937.000 kilometer persegi dimanfaatkan untuk “perkebunan sel surya” , maka dengan asumsi efisiensi konversi energi foton menjadi energi listrik sebesar 15%,  dapat dibangkitkan energi listrik sebesar 13.946 GWh/hari.  Angka ini memperlihatkan  suatu potensi yang sangat besar dan dapat menggantikan seluruh  kebutuhan bahan bakar minyak, batubara, dan gas di dalam negeri  ke dalam wujud energi listrik.  Dan masih tersisa dari jumlah tersebut.   Tentunya dengan catatan bahwa seluruh kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik harus “fully electric drive”.   Cadangan batubara yang cukup besar  di Indonesia masih dapat digunakan sebagai bahan bakar PLTU, akan tetapi harus dilengkapi dengan unit penangkap karbon dan sistem penyimpanannya (carbon capture and storage, CCS) karena batubara merupakan penyebab emisi karbon terbesar di antara pembangkit-pembangkit listrik jenis lainnya.   

Pemerintah, melalui penerapan kebijakan energi nasionalnya, sangat diharapkan  tidak menunda  di dalam melakukan langkah-langkah inovatifnya secara strategis, khususnya di dalam mengantisipasi dampak dari pergolakan di Afrika Utara dan Timur Tengah, karena akibat dari penundaan tersebut akan akan semakin membebani keuangan negara. Dampak dari pergolakan ini akan sangat dirasakan oleh negara-negara industri yang kebutuhan energinya bergantung sepenuhnya pada wilayah tersebut, sehingga berpotensi menimbulkan resesi ekonomi dan inflasi di negara-negara industri tersebut;  dan selanjutnya,  secara efek domino, akan mempengaruhi  negara-negara  pengimpor barang-barang produksi negara-negara tersebut.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa diversifikasi sumber energi merupakan solusi yang paling tepat untuk memperkokoh ketahanan energi nasional, di mana porsi energi terbarukan dan bahan bakar nabati di dalam diversifikasi tersebut perlu diperbesar secepatnya  agar dapat  menggantikan porsi minyak impor yang secara bertahap sudah harus dikurangi.

Catatan: Ketahanan Energi Nasional yang kokoh, adalah suatu keadaan di mana kebutuhan energi seluruh aktifitas di Indonesia terjamin pasokannya secara terus menerus, sehingga tidak menyebabkan gejolak pada harga energi maupun BBM, dan tetap terjangkau oleh masyarakat.

Tinggalkan komentar

Filed under Energy and Geopolitics

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s