Pasang Segera Alat Penangkap CO2 (CCS) pada Seluruh PLTU Batubara di Indonesia

Pairs Carbon Capture And Storage (CCS) Units In All Indonesian Coal-Fired Power Plants Immediately

Indonesia cukup dikenal memiliki sumber-sumber energi, walaupun puncak produksi minyak buminya telah lewat beberapa tahun yang lalu dan kini bergerak menurun.  Negara kita juga merupakan sumber gas methane (coal bed methane).  Minyak bumi mendominasi energy mix sebesar  59%, disusul oleh   gas sebesar 29%.  Intensitas energi cukup tinggi, namun tidak proporsional terhadap pembangunan ekonomi.  Lebih jauh, konsumsi energi meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 7% per tahun.  Kenaikan kebutuhan listrik yang berkisar 60% merupakan prioritas untuk memenuhinya.

Skema REDD+ .

Pelaksanaan Program Percepatan Kelistrikan Tahap Pertama, dengan  target 10.000 MW, ternyata didominasi dengan pembangunan sejumlah  Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) jenis batubara yang kita kenal sangat polutif dan menjadi penyebab emisi gas CO2 terbesar di antara pembangkit listrik jenis lainnya.  Di sisi lain, Pemerintah telah meratifikasi Protokol Kyoto yang berarti sepakat untuk mendukung sepenuhnya program pengurangan emisi karbon dan gas-gas rumah kaca penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. Pemilihan batubara sebagai bahan bakar PLTU dan ratifikasi Protokol Kyoto jelas merupakan dua keputusan yang saling bertolak belakang satu terhadap lainnya.

Kita perlu menyambut gembira ketika Pemerintah Norwegia secara konkret mendukung skema REDD+ yang telah diusulkan Pemerintah kita di UNFCCC di Bali serta di Kopenhagen beberapa tahun yang lalu.  Namun, kesepakatan yang berwujud bantuan sebesar US$ 1,- milyar untuk program-program “penghijauan dan penghutanan kembali” akan menjadi sia-sia apabila mayoritas pembangkit listrik di Indonesia masih mengandalkan bahan bakar batubara tanpa dilengkapi dengan penangkap karbon dan penyimpanannya ( carbon capture and storage, CCS ) pada setiap unitnya. 

PLTU Batubara Penyebab Utama Emisi Karbon.

Menurut hasil kajian 9 lembaga riset internasional tentang energi  ( ExternE, UK SDC, Univ. of Wisconsin, CRIEPI (Japan), Paul Scherrer Inst., UK Energy Review, IAEA, Vattenfall AB, dan British Energy ), gas karbon dioksida yang dikeluarkan oleh PLTU Batubara berkisar 755 – 990 kgCO2/MWeh .  Ini berarti bahwa untuk menghasilkan 1 megawattjam (MWh) energi listrik, PLTU Batubara akan melepas karbon dioksida sekitar  755-990 kg.  Jika kita hitung dengan menggunakan data kelistrikan nasional 2007 yang sebesar  28.608 MW, di mana 38% berasal dari PLTU Batubara, maka jumlah emisi karbon yang ditimbulkan oleh seluruh PLTU Batubara  selama 1 jam adalah sebesar 38% x 28.608 (MW) x 755 (kgCO2/MWeh) x 1 (h) =  8.207.635,2 kgCO2 , atau 8.208 ton per jam.  Jika emisi dari PLTU Batubara tersebut dihitung untuk rentang waktu 1 tahun, maka jumlahnya di tahun 2007 akan menjadi sebanyak 8760 (h) x 8.208 (tonCO2/h) = 71.992.080 ton, atau 71,992 juta ton CO2.  Angka ini akan lebih besar lagi jika jumlah PLTU Batubara, yang dibangun lewat  Proyek Percepatan Kelistrikan 10.000 MW Tahap Pertama, juga diperhitungkan.

Gunakan Penangkap Gas Karbon.

Menurut data Carbon Dioxide Analysis Center (CDIAC) emisi karbon dioksida per kapita di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 1,8 ton per kapita.  Jika angka ini dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2007 yang berkisar 225 juta jiwa, maka total emisi karbon di Indonesia pada tahun tersebut akan sebesar 225 juta (orang) x 1,8 (ton/orang) = 405.000.000 ton CO2 , atau 405 juta ton CO2.  Dari perhitungan sederhana ini dapat kita lihat bahwa apabila seluruh PLTU Batubara dilengkapi dengan “penangkap karbon dan penyimpanannya” serta asumsi bahwa efektifitas penangkapan karbon adalah 100%, maka emisi CO2 di Indonesia pada tahun 2007 akan turun menjadi sebesar 405 juta (ton) – 100% x 71,992 juta (ton) = 333,008 juta ton CO2;  sebuah persentase penurunan emisi yang sangat signifikan (17,8%).  Dalam realisasinya, efektifitas penangkapan karbon dari CCS berkisar 85-90%.

Ada tiga pilihan teknologi penangkap karbon, yaitu: (a) post-combustion, (b) pre-combustion, dan (c) oxy fueling (atau denitrogenation).  Alat-alat ini memerlukan energi dalam menjalankan fungsinya, sehingga dapat menurunkan efisiensi energi sekitar 6-12%.  Pemilihan teknologi yang cocok untuk sebuah PLTU Batubara atau Gas bergantung kepada karakteristik pembangkit dan bahan bakarnya.  Pembangkit listrik jenis combined cycle (kombinasi batubara dan gas) lebih cocok menggunakan penangkap karbon jenis pre-combustion, sedangkan PLTU konvensional lebih cocok menggunakan jenis post-combustion.  Biaya pengoperasian penangkap karbon pada PLTU konvensional berkisar US$ 30,- hingga US$ 40,- /tonCO2 mitigasi.  Sudah barang tentu pemakaian alat ini akan menambah besar biaya pembangkitan.  Untuk mendorong agar PLTU Batubara dan Gas menggunakan CCS ini, Pemerintah disarankan agar memberikan insentif atau pengurangan pajak yang nilainya proporsional dengan jumlah karbon yang berhasil ditangkapnya.  Semakin besar jumlah karbon yang ditangkap, semakin besar pula keringanan pajak yang akan diterima perusahaan pembangkit listrik tersebut.

Rekomendasi.

Emisi yang ditimbulkan oleh PLTU Batubara (tanpa penangkap karbon) yang sebesar 71,992  juta ton tadi (belum termasuk beberapa PLTU Batubara dari Proyek 10.000 MW yang mulai beroperasi) akan menghambat “gerakan penghijauan dan penghutanan kembali”, bahkan menjadi sia-sia.  Penulis menyarankan agar  dana bantuan dari Norwegia untuk program REDD+ tidak hanya digunakan untuk penghutanan kembali, melainkan juga untuk membangun unit-unit pengelolaan sampah (penyebab gas methan) menjadi energi listrik dan pupuk, serta  pemberian subsidi bagi pemasangan penangkap karbon di setiap PLTU Batubara di Indonesia.  Dengan demikian target penurunan emisi karbon di negara tercinta ini dapat dicapai dalam waktu lebih singkat; mengingat Artikel 3.3 UNFCCC yang menyebutkan:  “where there are threats of serious or irreversible damage, to take precautionary measures and mitigate its adverse effects, …. lack of full scientific certainty should not be used as a reason for postponing such measures taking into account that [they] should be cost effective …. and take into account different socio-economic context, be comprehensive, cover all relevan sources sinks and reservoirs of green gases …. and may be carried out cooperatively by interested Parties”.

Dikaitkan dengan program mitigasi karbon dioksida, sekalipun  dilengkapi dengan CCS, PLTU Batubara   tidak dapat menyaingi energi terbarukan dalam hal cost effectiveness.  Terlebih lagi, apabila Pemerintah masih  tetap berorientasi pada TDL yang terjangkau masyarakat.   Sembilan lembaga riset internasional tentang energi tersebut di atas juga memberikan data bahwa emisi karbon PLT Surya (solar cells) berkisar 39-100 kgCO2/MWh, dan PLTA hanya 3-18 kgCO2/MWh.  Oleh karena itu, penambahan kapasitas pembangkitan energi listrik ke depan sebaiknya tidak lagi menggunakan bahan bakar batubara maupun bahan bakar fossil lainnya, dan PLTU Batubara yang sedang di bangun dalamg rangka Proyek Percepatan Kelistrikan Tahap Pertama 10.000 MW (termasuk yang sudah beroperasi) wajib  dilengkapi dengan CCS.  Semoga menjadi perhatian dan pertimbangan Pemerintah.

Pesan:

Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih mendalam tentang manfaat “Penangkap Karbon dan Penyimpanannya”, silakan membuka situs:   http://www.greenfacts.org/en/co2-capture-storage/index.htm .

3 Komentar

Filed under Carbon Mitigation, CCS, Coal Fired Power Plants

3 responses to “Pasang Segera Alat Penangkap CO2 (CCS) pada Seluruh PLTU Batubara di Indonesia

  1. Terima kasih Mas Aris.

    Salam,
    Atmonobudi

  2. Ijin komentar, postingan bapak sangat tepat sekali. Saya mahasiswa teknik kimia sangat setuju dengan saran Bapak untuk menerapkan CCS di setiap PLTU batu bara, untuk itu dalam rangka menyusun tugas akhir saya memilih untuk merancang PLTU dengan unit CCS. Semoga beberapa tahun mendatang karya saya ini bermanfaat bagi negara.

    • Dear Anggi.
      Selamat atas pilihan Anda dengan CCS sebagai tugas akhirnya. Semoga akan semakin banyak yang memahami perlunya CCS tersebut,
      Sementara ini, ganggang laut (algae) juga sedang diteliti sebagai penyerap CO2 bagi PLTU.

      Salam,
      Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s