MPT (IAM), Alat Bantu dalam Penyusunan RAPBN di Era Perubahan Iklim

 

Tindakan maupun alokasi dana adaptasi di dalam menghadapi perubahan iklim merupakan proses yang sulit diprediksi karena tiga alasan: (1) terlalu kecilnya kegiatan adaptasi sejauh ini karena alokasi dana yang tidak memadai, (2) dampak dari perubahan iklim di masa depan sangat tidak menentu, serta (3)  parahnya kerusakan di masa depan bergantung pada kecepatan dan kesigapan  kita saat ini  dalam  menghambat laju emisi  gas karbon dan gas-gas rumah kaca lainnya.

Akhir-akhir ini  beban biaya untuk mengatasi perubahan iklim  menjadi  lebih besar dari pada prediksi sebelumnya.  Pemanasan global yang berdampak besar terhadap ekonomi rakyat dan negara, serta penerapan langkah-langkah adaptasi untuk menangani perubahan iklim global,  telah menyebabkan akumulasi  biaya yang sangat besar dan menjadi tanggungan kita bersama. Sebaliknya, kegagalan kita dalam menerapkan langkah-langkah adaptasi  saat ini, akan membuat bangsa ini semakin menderita karena  meningkatnya emisi gas-gas penyebab pemanasan global tersebut dapat   lebih dari satu setengah kali lipat sebelum tahun 2100. 

Dalam merespon ancaman serius berjangka panjang tersebut, kita perlu membangun komunikasi dan perangkat evaluasi bagi para pengambil keputusan dan  ilmuwan di negara kita.  Untuk itu perlu dikembangkan sebuah Model Penaksiran Terpadu (MPT) atau Integrated Assessment Model (IAM) yang dapat menyajikan kerangka kerja yang cocok serta mampu mengkombinasikan masukan dari berbagai kelompok disiplin ilmu secara luas.  Modul MPT ini dapat sekaligus berfungsi sebagai perangkat yang sangat efektif dalam meningkatkan interaksi di antara kelompok-kelompok keilmuan tersebut.  Modul yang diusulkan di sini adalah berupa program simulasi komputer skala besar yang sanggup menghasilkan pilihan-pilihan kebijakan dalam menstabilkan iklim global, menyajikan perkiraan biaya untuk menurunkan emisi gas-gas rumah kaca, serta besarnya kerugian atas terjadinya perubahan iklim.  Modul tersebut terdiri dari 3 sub-modul utama, yaitu: (a) Sub-Modul A untuk emisi gas rumah kaca (MPT/emisi), (b) Sub-Modul B untuk perubahan iklim global (MPT/iklim), dan (c) Sub-Modul C untuk dampak perubahan iklim (MPT/dampak).  Modul tersebut diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Mikiko Kainuma dkk  (National Institute for Environment Studies – Japan) dalam mengevaluasi dampak ekonomi dari penerapan hasil kesepakatan  UNFCCC di Kyoto  terhadap wilayah Asia-Pasifik, termasuk Indonesia. 

Data yang menjadi masukan bagi Sub-Modul A dari simulasi tersebut antara lain adalah:  level negara, jenis energi, energi level global, serta model peruntukan lahan.  Berbagai asumsi global dan regional seperti populasi, tren ekonomi, dan kebijakan pemerintah juga dimasukkan ke dalam Sub-Modul A. Hasilnya adalah estimasi tentang konsumsi energi, boleh-tidaknya perubahan peruntukan lahan, prediksi emisi gas karbon, dll.

Proses emisi dihitung di dalam Sub-Modul B , dimana gas-gas rumah kaca (di luar CO2) yang beremisi ke atmosfir secara gradual dihitung melalui proses reaksi kimia.  Reaksi kimia ini dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan lama prosesnya yaitu: (a) reaksi yang berlangsung lama seperti gas-gas  CFCs dan Halon, (b) reaksi yang berlangsung lebih singkat seperti Ozon dan gas OH radikal. 

Sub-Modul C, terutama menangani dampak industri produksi primer, seperti:  suplai air minum, pertanian, produk kehutanan, dan kesehatan.

Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dan realisasinya di era perubahan iklim akan semakin efektif dan akurat apabila memperhitungkan rekomendasi kebijakan dan estimasi kerugian akibat dampak perubahan iklim hasil perhitungan Modul MPT tersebut.  Sebaliknya, RAPBN yang hanya disusun secara business as usual akan membuat anggaran tersebut mengalami deviasi yang besar dalam mengatasi  risiko, maupun dalam pengalokasian dana untuk perbaikan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh perubahan iklim tersebut secara nasional. 

Beberapa jenis program kerja pemerintah yang terkait dengan proses adaptasi terhadap perubahan iklim, antara lain adalah: (1) penetapan dan penerapan kebijakan dekarbonisasi di sektor industri, transportasi, dan pembangkitan listrik, (2) penetapan peruntukan lahan disertai penegakan hukum secara tegas teradap setiap pelanggarannya,  (3) penataan bangunan-bangunan yang letaknya kurang dari 1 km dari garis pantai, (4) pengerukan sungai dan kanalisasi kota-kota pesisir, (5) pengerukan danau-danau yang berfungsi sebagai penampung luapan air hujan, (6) pipanisasi suplai bahan bakar cair dan gas ke seluruh provinsi, (7) membangun jalan raya yang tahan genangan air, (8) otomatisasi sistem penyedot  air parit di sekitar  landasan udara, (9) peningkatan kapasitas pelayanan rumah sakit dan cadangan obat, (10) pengembangan riset  bibit padi dan tanaman pangan lain yang lebih tahan cuaca dan masa tanamnya pendek, serta (11) penyediaan lapangan kerja (temporer)  bagi petani yang sawahnya tergenang air maupun nelayan yang tidak dapat melaut karena badai dan ombak besar.  Skenario dari pemodelan MPT atau Integrated Assesment Model  (IAM) ini  dibahas secara mendalam di dalam pertemuan IPCC, 19-21 September 2007,  di  Noordwijkerhout  –  Netherland.  Laporannya dapat dibaca di:   http://www.aimes.ucar.edu/docs/IPCC.meetingreport.final.pdf .

Melalui pemananfaatan Modul MPT di dalam menyusun RAPBN, realisasi anggaran akan berjalan semakin akurat karena lebih terukur, dianalisis secara multi disiplin, dan sekaligus mengurangi jumlah kegiatan-kegiatan crash program yang hasilnya seringkali kurang optimal, bersifat tambal sulam dan hasilnya mudah rusak kembali.  BAPPENAS —  bekerja sama dengan perguruan2 tinggi, BMKG, BPPT, LIPI, LAPAN, dll — merupakan lembaga pemerintah yang tepat untuk menerapkan model simulasi ini di dalam perencanaan pembangunan nasional.  Semoga membawa manfaat.

Tinggalkan komentar

Filed under The Economics of Climate Change

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s