Menantikan Sosok Pemimpin yang Mampu Mengajak Bangsa Kita Adaptif terhadap Perubahan Iklim

 

“Tidak  satupun bangsa  yang mampu mengelak dari dampak pemanasan global.  Namun, untuk dapat beradaptasi  secara strategis dan efektif,  ternyata sangat bergantung pada  kearifan lokal, serta  cara dan tingkat berpikir dari para pemimpin dan bangsa itu sendiri”. (A. Soebagio)

 

Perubahan Iklim sebagai Dampak Pemanasan Global.

Pemanasan global – sebagai akibat meningkatnya gas-gas rumah kaca yang  menyebabkan perubahan iklim  global — telah berdampak luas ke seluruh bagian dunia. Dari gas-gas rumah kaca (greenhouse gases), beberapa di antaranya adalah tergolong biogenic, atau hasil interaksi di alam raya, sedangkan yang lain adalah tergolong anthropogenic, atau hasil aktifitas manusia selain proses pernafasan.  Gas rumah kaca jenis  biogenic terpenting adalah uap air karena yang terbanyak jumlahnya di atmosfir dan menjadi bagian dari siklus hidrologi (air-uap-air).  Gas  rumah kaca jenis  anthropogenic terpenting adalah CO2 (karbon dioksida),  yang berupa limbah dari proses konversi energi lewat penggunaan bahan bakar fossil  dan  aktifitas  lainnya yang berupa pengalihfungsian  hutan alami untuk tujuan lain dengan cara membakarnya.

Tanpa berubahnya pola konsumsi, gaya hidup dan pertumbuhan penduduk saja,  konsentrasi gas CO2 diprediksi akan meningkat menjadi 580 ppm sebelum tahun 2050; suatu jumlah yang dua kali lipat dari konsentrasi di awal revolusi industri (tahun 1690-an). Konsentrasi tersebut akan semakin melonjak lagi apabila “tidak dilakukan” upaya mitigasi gas CO2 dan mengakhiri gaya hidup  yang selama ini sangat konsumtif dalam penggunaan energi.  Konsentrasi emisi karbon di tahun 2010 telah mencapai 390 ppm.

 

Rakyat Miskin Korban Terparah dari Dampak Perubahan Iklim.

Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, berada di garis paling depan dalam merasakan dampak terburuk dari perubahan iklim global.  Kompas (13 Des. 2007, hal. 9) memberitakan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga yang paling parah terkena dampak ekstrim cuaca pada tahun 2006.  Urutan pertama adalah Filipina, disusul oleh Korea Utara. 

Dr. R.K. Pachauri, Ketua IPCC  ke-3,  dalam pengantar laporan “Up in Smoke”, (IIED, 2004) mengatakan:

“The impacts of climate change will fall disproportionately upon developing countries and the poor persons within all countries, thereby exacerbating inequities in health status and access to adequate food, clean water and other resources”.

Jelaslah, bahwa “rakyat miskin” adalah korban paling menderita di dalam menghadapi dampak perubahan iklim; dan menyelamatkan mereka merupakan prioritas utama di antara langkah-langkah penyelamatan bagi seluruh rakyat.

Adapun elemen-elemen atau parameter dari perubahan iklim – yang merupakan produk dari pemanasan global – adalah antara lain: suhu permukaan tanah rata-rata globaltinggi permukaan laut rata-rata globalfrekuensi, intensitas, dan lokasi dari kejadian ekstrimlama perubahan musimkelembaban tanahbiomassa di bawah dan di atas tanahhujan lokal, dsb.

Perubahan iklim dengan segala dampaknya telah membawa kita pada dua pilihan: pasrah terhadap fenomena alam ini, atau melakukan langkah-langkah adaptasi secara strategis dan arif sambil meratifikasi kesepakatan Protokol Kyoto. Kesepakatan, yang didukung lebih dari 170 negara ini, merupakan tekad bersama untuk menurunkan emisi gas karbon dioksida, methane, dan nitro oksida hingga ke posisi 5% di bawah level emisi gas-gas tersebut pada tahun 1990, dan tercapai sebelum tahun 2012.

 

Tindakan Adaptif terhadap Perubahan Iklim.

Perubahan iklim terjadi karena terjadinya pemanasan global.  Meskipun perubahan iklim menimbulkan ketidakteraturan musim, beberapa karakter perubahan iklim masih dapat dikenali, yaitu:

  • bersifat global dalam hal penyebab dan konsekuensinya,
  • dampaknya berlangsung terus-menerus, dan
  • risiko serta ketidakpastian atas dampak ekonominya bersifat menyebar.

Solusi adaptif terhadap dampak perubahan iklim maupun pemanasan global dapat kita pisahkan ke dalam dua kelompok:

  • Solusi yang dilakukan oleh pribadi, keluarga, dan masyarakat.
  • Pokok-pokok kebijakan untuk dijalankan oleh Pemerintah.

a. Solusi yang dapat dilakukan oleh Pribadi, Keluarga, dan Masyarakat.

  • Kembalikan hutan dan pepohonan dengan menanamnya kembali di tanah yang gundul.
  • Buat lobang-lobang biopori atau sumur resapan di halaman rumah.
  • Lakukan pola hidup hemat energi.
  • Sharing dalam berkendaraan ke tempat kerja, secara car pooling.
  • Gunakan kertas sehemat mungkin, karena bahan baku kertas adalah jenis pepohonan tertentu.
  • Bangunlah rumah tinggal yang hemat energi, hemat listrik, dan ramah lingkungan.
  • Jangan membakar sampah. Sampah organik sebaiknya dikubur dalam lubang, sampah plastik dibungkus dan diletakkan di luar pagar rumah agar diambil pemulung utk di daur ulang,
  • Kurangi frekuensi penggunaan cairan kimia sebagai pembersih ruangan maupun WC.

b. Pokok-pokok Kebijakan untuk dijalankan oleh Pemerintah.

  • Penyempurnaan peraturan dan regulasi di bidang pertanian, tata guna tanah, serta  pemukiman.  
  • Kebijakan dalam mendorong setiap provinsi agar mampu berswasembada pangan, termasuk ternak potong.
  • Mengganti bahan bakar penyebab emisi CO2 dengan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan;  
  • Mendorong Sertifikasi CDM bagi Proyek-Proyek Berwawasan Lingkungan serta  Reboisasi Hutan-Hutan.
  • Menerapkan pajak karbon dan energi pada industri dan kendaraan bermotor penyebab emisi karbon.
  • Jaminan keamanan dan kelancaran suplai bahan bakar melalui pipanisasi.
  • PLTU Batubara harus dilengkapi penangkap karbon dan penyimpanannya.

 

Sosok Seorang Pemimpin yang dinantikan.

Ilmu ataupun pelatihan tentang kepemimpinan telah ada sejak tiga puluhan tahun yang lalu, dimana ilmu tersebut berkembang sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan.  Yang membutuhkan, antara lain, adalah perusahaan-perusahaan, lembaga-lembaga, organisasi-organisasi, bahkan organisasi politik.  Beberapa penulis terkenal dan penyelenggara pelatihan ini, antara lain adalah: Stephen Covey dengan “Seven Habits”nya, Peter Drucker, John C. Maxwell,  Warren Bennis, serta Burt Nanus dengan “Visionary Leadership”nya.  Mereka membenarkan bahwa seorang pemimpin lebih dari sekadar manajer atau administrator.

Lalu pemimpin seperti apa yang diharapkan mampu membawa bangsa Indonesia keluar, atau sekurang-kurangnya sanggup beradaptasi terhadap berbagai dampak negatif yang muncul akibat perubahan iklim?  Minimal, dia harus  mengerti tentang masalah perubahan iklim dan dampaknya.  Semua keputusannya harus didasari atas pertimbangan akan dampaknya terhadap lingkungan, baik secara lokal maupun global.

Proses adaptasi terhadap dampak perubahan iklim memerlukan “perubahan” pola pikir, kebiasaan yang telah cukup lama mentradisi,  gaya hidup yang boros dalam banyak hal.  Proses ini memerlukan adanya sosok pemimpin nasional yang mampu mengajak rakyat untuk berubah dari ketiga karakteristik tersebut.  Dan hal ini hanya dimungkinkan apabila ucapannya didengar, dan dia harus mampu menggugah hati rakyat untuk mendukung program kerjanya.

Di zaman modern ini, energi yang dikonsumsi oleh kalangan masyarakat mampu tidak lagi tergolong sebagai kebutuhan primer, melainkan sudah menjadi kebutuhan optional demi meningkatkan kenyamanan hidup mereka.   Di sisi lain, energi masih merupakan kebutuhan primer bagi sebagian besar rakyat kita, khususnya kalangan petani, karyawan tingkat bawah, nelayan.  Perubahan iklim telah menimbulkan hujan lebat disertai badai dan banjir dimana-mana.  Petani sangat dirugikan karena mengalami gagal panen maupun karena serangan hama tanaman.   Laut pun tidak lagi setenang dulu, dan badai telah membuat gelombang laut semakin tinggi dan mengakibatkan ratusan ribu nelayan tidak berani melaut selama berminggu-minggu.

Sosok pemimpin yang dinantikan adalah sosok yang mampu mengajak bangsa ini utk melakukan tindakan-tindakan adaptif, baik yang sifatnya perorangan, kelompok, masyarakat;  maupun memimpin pemerintahan, yang program kerjanya didasarkan pada perencanaan pembangunan secara bertahap dan berkelanjutan.  Kebutuhan pokok rakyat, seperti bahan makanan, energi listrik, dan bbm, harus tersalur dengan baik dengan harga yang terjangkau oleh rakyat.  Dia juga merupakan sosok yang secara gigih mendorong dilakukannya penelitian-penelitian benih tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca,  masa tanam yang lebih singkat, dan tahan hama. 

Di bidang ekonomi, dia dengan dukungan lembaga-lembaga maupun kabinetnya, sanggup mengeluarkan peraturan-peraturan dan kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi, pertanian, dan kemaritiman secara merata.

Di bidang politik, dia harus mampu membangun persatuan dan kesatuan bangsa;  melindungi kelompok minoritas dan yang terpinggirkan dari segala bentuk ketidakadilan dan kekerasan.

Tinggalkan komentar

Filed under Anthropogenic, Carbon dioxide emission, Carbon Mitigation, CCS, Coal Fired Power Plants, Climate Change, Global Warming, Adaptations and Mitigations, Leadership, Sustainable Development, The Economics of Climate Change

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s