Energi Biomassa, Prospek, dan Risiko Bisnisnya

Berakhirnya Abad Keemasan Minyak Bumi.

Masa “Peak Oil” produksi bahan bakar minyak dunia, sebagaimana pernah diprediksi oleh M. King Hubbert 40 tahun silam, akan berakhir di sekitar tahun 2010. Prediksi ini terbukti dengan mulai menurunnya grafik produksi tambang-tambang minyak dunia. Prediksi tersebut, serta terjadinya krisis minyak dunia pada tahum 1973, telah ditanggapi secara serius oleh negara-negara industri dengan dikembangkannya energi-energi alternatif dan terbarukan.  Hal yang sama juga dialami oleh Indonesia dengan semakin berkurangnya cadangan minyak bumi  sejak tahun 2004;  sayangnya  hanya disikapi dengan mencari cekungan-cekungan ladang minyak yang baru. Saat ini konsumsi minyak dunia telah mencapai 84 juta barrels per hari dan akan terus meningkat sebesar 2% setiap tahunnya (P.  Middleton, 2007).   Indonesia, selaku salah satu eksportir minyak bumi, kini telah berstatus net oil importer, yang berarti jumlah yang diimpor sama banyaknya dengan yang diekspor.

Rudolf Diesel, penemu mesin diesel, mengatakan: “Penggunaan minyak goreng sebagai bahan bakar kendaraan bermotor mungkin belum terpikirkan sekarang, tetapi minyak tersebut pada masa yang akan datang akan menjadi penting sebagaimana produk-produk minyak tanah dan batubara sekarang ini”.  Di awal abad ke 21 ini, ramalannya pun menjadi kenyataan.

Bahan bakar  nabati (BBN) adalah bahan bakar yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (biomassa), dan diolah menjadi energi melalui proses-proses pembakaran, gasifikasi, dan fermentasi.  Wujudnya berupa bahan bakar cair dan gas. Sumber-sumber yang memelopori penelitian bahan bakar ini telah mengklasifikasikannya  ke dalam beberapa kelompok atau “generasi”, yaitu generasi pertama, kedua, bahkan sudah dikembangkan generasi yang ketiga dan keempat.  Pengembangan BBN yang banyak kita jumpai saat ini, menurut OECD/IEA (2008), tergolong BBN generasi pertama. BBN generasi pertama mengandalkan pada hasil panen tanaman yang berupa gula, tepung, dan minyak dari biji-bijian.

BBN cair terdiri dari dua jenis, yaitu: bio-ethanol yang disebut juga ethil alcohol, dan  bio-solar (bio-diesel) atau methyl ester.  Bio-ethanol diproduksi secara fermentasi pada tanaman berserat yang kaya akan tepung atau gula, antara lain tebu, gula beet, singkong,  jagung, sorghum dan tanaman bertepung lainnya. Bio-solar dihasilkan dari biji-bijian yang memiliki kandungan minyak, seperti biji bunga matahari, kedelai, kelapa sawit, dan jarak pagar  (Jatropha curcus).  Bio-ethanol dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin yang berbahan bakar bensin, sedangkan bio-solar untuk mesin diesel.  Persentase penggunaan BBN di dunia, menurut perhitungan kasar, masih berkisar 1% dari total BBM di dunia yang digunakan untuk transportasi.  Dan 85% dari BBN tersebut berupa bio-ethanol, dan 15% lainnya berupa bio-solar.

Potensi Energi Biomassa Indonesia. 

Energi biomassa memiliki peluang yang sangat besar dalam menggantikan bahan bakar minyak dan gas alam.  Meskipun potensinya sangat besar, upaya pengembangan minyak bio-solar di Indonesia baru dimulai kurang lebih lima belas tahun yang lalu.  Kini, Indonesia bersama Malaysia merupakan penghasil minyak kelapa sawit  (CPO) terbesar di dunia dan menguasai lebih dari 80% produksi dunia. CPO adalah bahan pembuat bio-solar.  Sementara itu,  produksi bio-ethanol terbesar di kawasan ASEAN adalah Thailand, yakni sebesar 517 megaliter per tahun (Ml/yr), disusul oleh Filipina sebesar 116 Ml/yr, dan Indonesia 77 Ml/yr.  Target produksi Indonesia adalah 355 Ml/yr dan akan dicapai pada tahun 2012 (IEA,2010).  Bagi Indonesia, mengembangkan bio-energi berarti mengurangi ketergantungan kita pada bahan bahan bakar import.  Oleh sebab itu, rasio antara bio-ethanol dengan premium harus dinaikkan ketika harga minyak mentah dunia telah menembus US$ 100,- per barrel.  Hal yang sama juga diterapkan pada rasio bio-solar.  Sebaliknya, subsidi diberikan bagi pembelian bio-ethanol dan CPO yang diproduksi sektor swasta nasional ketika harga minyak mentah di pasaran dunia sedang jatuh.  Dengan demikian produksi kedua jenis bio-energi di dalam negeri akan tetap stabil, dan tetap menggairahkan sektor swasta terkait.

Untuk mendorong pengembangan dan penggunaan energi biomassa ke depan, telah dikeluarkan Peraturan Presiden no. 5/2006, Instruksi Presiden no. 1/2006, dan Keputusan Presiden no. 10/2006. Pemerintah juga telah menetapkan standar biodiesel SNI 04-7182-2006 yang telah diakui oleh Badan Standarisasi Nasional pada tanggal 22 Februari 2006.  Standar ini di formulasikan dengan membandingkannya dengan standar-standar  yang telah diterapkan di negara-negara lain, antara lain ASTM D6751 di AS dan EN 14214:2002 di Uni Eropa.  Pada 17 Maret 2006, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (DJMG) Departemen ESDM mengeluarkan keputusan terkait dengan kualitas dan spesifikasi dari dua jenis minyak solar.  Keputusan tersebut mengatur penggunaan fatty acid methyl ester (FAME) sebagai campuran bagi minyak solar otomotif  hingga maksimum 10% .  Campuran bahan bakar  tersebut telah memenuhi standar SNI 04-7182-2006.

Prospek  dan Risiko Bisnis Energi Biomassa.

Meningkatnya kebutuhan energi dunia tidak lagi bisa dipenuhi hanya dengan mengandalkan bahan bakar fossil sebagai sumber energi.  Diversifikasi energi merupakan solusinya, dan pengembangan bahan bakar nabati merupakan salah satu alternatif untuk mengatasinya.  Brazil telah memeloporinya dengan membuka perkebunan tebu dan membangun industri pembuatan bio-ethanol terbesar di dunia.

Kendala di dalam mengembangkan produksi bio-solar dari minyak kelapa sawit adalah bahwa komoditas tersebut  juga merupakan bahan baku dari industri makanan dan kosmetik yang sudah ada sebelumnya.  Oleh sebab itu, tidak tertutup kemungkinan terjadimya konflik yang cukup potensial antara kepentingan untuk energi alternatif dan untuk  industri makanan seperti minyak goreng, mentega,  maupun kosmetik dan deterjen.  Kendala yang lain adalah bahwa  bisnis bio-fuel sangat dipengaruhi oleh harga minyak mentah  di pasar dunia.  Bisnis bio-fuel akan menguntungkan di saat harga minyak mentah dunia tinggi; sebaliknya akan rugi apabila harga minyak mentah rendah.  Harga minyak mentah dunia yang pada awal 2011 mendekati US$ 93,- /barrel cukup memberikan peluang untuk meraih keuntungan dari bisnis bio-fuel tersebut.   Fluktuasi harga minyak mentah dunia membuat produksi bio-solar  di Indonesia masih sebatas sebagai pencampur minyak solar (BB fossil) dengan kadar campuran yang relatif rendah.  Karena itulah maka total produksi bio-solar dunia masih di bawah 1% dari total bahan bakar dunia untuk transportasi.

Kompas, Rabu 12 Januari 2011, memberitakan bahwa anomali cuaca dan pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik telah membuat harga CPO di Bursa Komoditas Malaysia naik dari US$ 707,09 per ton pada 29 Januari 2010 menjadi US$1.141,45 per ton pada tanggal 27 Desember 2010. Pada tanggal 11 Januari 2011 sudah mencapai US$ 1.231,79 per ton.  Ada lompatan sebesar US$ 524,- per ton dari tahun 2010.  Yang sangat diharapkan oleh kalangan produsen CPO adalah bahwa Pemerintah  hendaknya meninjau kembali pajak ekspor dari minyak mentah ini agar mampu bersaing di pasar komoditas internasional. 

Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit banyak ditentang, bahkan produknya yang berupa CPO mengalami pemboikotan.  Alasannya adalah karena perkebunan yang bersifat monokultur ini telah menghilangkan hutan alami yang sebelumnya merupakan habitat dari ratusan jenis fauna maupun flora.  Oleh sebab itu, sebaiknya pembukaan lahan perkebunan tersebut dilakukan di lahan yang kurang subur, dengan tetap mempertimbangkan dampak ekologisnya. Tanaman jarak tidak memerlukan perawatan secara intensif karena dapat tumbuh subur di lahan dimana tanaman lain sulit tumbuh.   Pemilihan minyak jarak, dari pada CPO sebagai bahan baku bio-solar, merupakan solusi di dalam memecahkan persaingan bisnis antara untuk kepentingan energi dan kepentingan produk makanan. Bisnis di  sektor ini masih berpeluang bagus sejauh tidak merusak ekosistem dan tetap  mempertahankan keanekaragaman hayati.

Tinggalkan komentar

Filed under Renewable Energy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s