Menyongsong Hari Lingkungan Sedunia 2010

Hari Lingkungan Sedunia 2010, atau lebih dikenal dengan WED 2010, akan diperingati pada tanggal 5 Juni yang akan datang. Penetapan hari lingkungan hidup sedunia ini tidak terlepas dari peranan United Nations Environment Programme (UNEP) yang menjadi pembawa suara masalah lingkungan di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dipilihnya tanggal 5 Juni adalah untuk mengenang  Conference on the Human Environment yang pertama, yang berlangsung pada tanggal 5-16 Juni 1973 yang lalu.

UNEP telah menetapkan negara Rwanda sebagai tuan rumah penyelenggara WED 2010. Negara Rwanda dipilih sebagai negara tuan rumah oleh UNEP sekurang-kurangnya karena dua alasan.  Pertama, Rwanda dipilih sebagai respon dunia atas komitmen negara tersebut terhadap lingkungan dan yang berhubungan dengan keberlanjutan. Kedua, perayaan tahun ini dikaitkan dengan perayaan tahunan Kwita Izina di Rwanda, yang berarti memberikan nama bagi bayi-bayi gorilla yang lahir. Ini adalah sebuah tradisi unik dalam upaya menggugah rakyat  Rwanda agar peduli terhadap gorrila gunung yang terancam punah, dan berlangsung setiap tahun sejak tahun 2005. Dengan demikian Rwanda akan menjadi negara tuan rumah dari World Environment Day 2010 yang bertema: “Many Species, One Planet, One Future”.

Bagi Indonesia, yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan spesies fauna dan floranya yang juga unik, tentunya memiliki alasan yang sama kuatnya untuk memperingati hari lingkungan sedunia 2010 tersebut.  Negara kita juga memiliki beberapa jenis hewan yang terancam punah oleh rendahnya kesadaran pimpinan daerah dan masyarakat di mana habitat hewan itu berada.  Kita memiliki komodo — yang mendapat julukan the giant lizard dan pernah difilmkan dengan  judul the living dragon — yang kini terancam punah karena rusaknya habitat mereka.

Alangkah membanggakannya apabila hari lingkungan sedunia tahun ini juga merupakan hari pencanangan kembali tekad dan komitmen para pimpinan, baik di pusat maupun di daerah, serta seluruh rakyat untuk mengakhiri semua ketidakpeduliannya selama ini dan kembali menjadi bangsa yang sangat peduli terhadap lingkungan.

Pemanasan Global.

Penemuan mesin uap oleh Thomas Savery di tahun 1698 merupakan dimulainya Revolusi Industri yang dianggap sebagai pemicu terjadinya pemanasan global.  Konsentrasi gas CO2 ketika itu masih berkisar 290 parts per million (ppm) dan belakangan ini telah mencapai 350 ppm.  Konsentrasi tersebut akan semakin tinggi lagi apabila laju emisi gas CO2 tidak ditekan serta masih mempertahankan gaya hidup yang boros energi.

Mengembalikan tekad untuk menurunkan konsentrasi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.  Kita juga harus memahami betul tentang akibat dari tidak dilaksanakannya tekad tersebut, serta akibat dari tekad yang dilaksanakan  dengan setengah hati saja. Kita juga harus tahu tentang hal-hal lain apa saja yang harus dilakukan. Pemerintah telah meratifikasi Protokol Kyoto, berarti telah menyatakan tekad untuk secara bersama menekan emisi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas rumah kaca (GRK) lainnya agar tidak melonjak konsentrasinya di atmosfir. Salah satu GRK yang bersifat alami adalah gas metana (CH4). Gas ini mempunyai daya serap energi panas 23 kali lebih besar dari  gas CO2.  Gas metana terbentuk sebagai produk dari proses pembusukan sampah organik.  Jadi, akan sia-sialah pencanangan gerakan menanam sejuta pohon, maupun semboyan satu orang satu pohon yang dicanangkan Gubernur Jawa Tengah, apabila kita membiarkan sampah organik tersebut berserakan di tempat terbuka hingga membusuk.

Pembangunan Berkelanjutan.

Kelestarian alam tidak mungkin terjaga secara berkelanjutan ketika sebuah generasi umat manusia mengeksploitasi sumber daya alam dan mineralnya secara besar-besaran sehingga merusak lingkungan.  Kelestarian flora dan fauna tidak mungkin terjaga ketika hutan alami yang menjadi habitat dari ribuan spesies flora dan fauna  telah berubah menjadi jutaan hektar tanaman monokultur demi keuntungan segelintir orang saja.  Ini berarti bahwa setiap pembangunan yang dilakukan oleh sebuah generasi tidak boleh menjadi masalah bagi generasi mendatang dalam melaksanakan pembangunan mereka.  World Commission on Environment and Development (WCED), dalam laporannya yang dikenal dengan Brundtland Report, mendefinisikan pembangunan berkelanjutan yaitu:

development that meets the needs of the present without compromising

the ability of future to meet their own needs”.

Penulis merasa terganggu dengan kata without compromising yang tertulis dalam definisi tersebut.  Penulis menduga bahwa lahirnya definisi tersebut tidak lepas dari dominasi pemikiran para pakar anggota komisi yang berasal dari negara-negara maju.  Definisi ini kurang pas jika dijadikan referensi oleh negara-negara berkembang yang masih bergulat dalam mengentaskan kemiskinan dan memajukan pendidikan rakyatnya, termasuk Indonesia.  Mengapa demikian?  Jika definisi tersebut diaplikasikan dalam konteks memenuhi kebutuhan energi sebuah negara, maka kebijakan pemerintah dalam mengeruk kekayaan minyak bumi dan batubara sebanyak-banyaknya tidak dapat disalahkan.  Definisi tersebut seakan-akan mengisyaratkan bahwa biarlah generasi mendatang menggunakan caranya sendiri dalam memenuhi kebutuhan energinya.  Oleh karenanya, definisi pembangunan berkelanjutan harus dipahami tanpa mengabaikan etika dan budaya bangsa, khususnya demi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara secara berkelanjutan.

Program Three in One.

Tantangan di hadapan kita saat ini adalah mengembalikan konsentrasi GRK sekurang-kurangnya 5% di bawah konsentrasi tahun 1990 dan tercapai sebelum tahun 2012. Caranya adalah dengan menahan kenaikan konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfir serta memperbaiki lingkungan yang rusak akibat salah kebijakan. Namun kita juga dihadapkan pada penyediaan energi secara jangka panjang dan berkelanjutan.  Ini berarti penggunaan batubara dan minyak bumi harus diakhiri karena terbukti sebagai  penyebab utama emisi karbon dan pemanasan global.  Energi yang paling ideal adalah energi listrik karena di samping bersih, juga dapat dikonversikan dari dan ke bentuk energi lainnya. Jadi, ada 3 program yang perlu dilaksanakan secara simultan yaitu: (a) melakukan kebijakan yang bermuara pada pengurangan emisi karbon, (b) mengakhiri penggunaan batubara dan minyak bumi, dan beralih ke energi alternatif yang murah dan terbarukan, serta (c) menempatkan energi listrik sebagai energi utama penggerak roda ekonomi menuju masyarakat yang sejahtera.

Pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan akan lebih menguntungkan  dari pada pembangkit listrik konvensional, apabila  biaya eksternal dimasukkan ke dalam perhitungan biaya operasional pembangkit listrik.  Biaya eksternal tersebut antara lain adalah: (a) biaya pengoperasian instalasi penangkap gas karbon dan penyimpanannya; (b) pengenaan pajak emisi karbon pada industri, kendaraan bermotor, dan pembangkitan listrik penyebab emisi karbon; serta (c) biaya pengawasan dan pemeliharaan reaktor PLTN pasca operasi yang sangat mahal dan berlangsung puluhan tahun.  Penerapan pajak emisi karbon akan mendorong sektor industri dan pembangkitan listrik beralih ke pemanfaatan energi terbarukan. Sudah barang tentu program three in one ini harus berlandaskan pada perencanaan pembangunan yang terpadu, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Catatan:   Dimuat dalam SUARA PEMBARUAN, Kamis 3 Juni 2010, hal. 5.

Tinggalkan komentar

Filed under The Economics of Climate Change

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s