Selain Berisiko, PLTN Bukan Solusi Agar TDL Tetap Terjangkau Masyarakat

In Addition To Risk, Nuclear Power Plant Is Not The Solution To Keep Basic Electricity Tariff  Affordable For Low Income Society

Penulis  merasa lega ketika beberapa minggu yang lalu membaca berita bahwa Pak SBY tidak akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) karena adanya reaksi penolakan dari masyarakat maupun karena pertimbangan antara manfaat dan risikonya. Akan tetapi hari ini kita kembali dikejutkan oleh jawaban Pak Boediono ketika ditanya tentang PLTN oleh peserta Program Pendidikan Reguler Lemhanas Angkatan XVIV, sebagaimana dimuat di KOMPAS, 20 Agustus 2010.

Pertanyaan penulis kepada Bapak:

Mengapa untuk merebus air di boiler, agar menghasilkan uap sebagai penggerak turbin dari generator, kita harus menggunakan teknologi nuklir yang sangat canggih serta menuntut disiplin yang tinggi, namun juga sangat berisiko?

Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa PLTN lebih efisien dan ramah lingkungan bila dibandingkan dengan PLTU berbahan bakar minyak atau batubara. PLTN memang relatif bersih karena hanya melepas uap air ke udara. Tapi ketahuilah Bapak, bahwa bahan bakar fossil yang telah dipakai untuk proses pengolahan uranium — mulai dari penambangan, penggilingan, proses pengayaan, hingga ke penyimpanan limbah uranium tersebut – telah menyebabkan emisi karbon yang sangat besar. Ini belum terhitung biaya restorasi atas kerusakan yang terjadi di lokasi penambangan.  Dari proses tersebut, tampak bahwa harga pellet uranium akan mahal.  Indonesia sampai saat ini belum menguasai teknologi proses produksi uranium sampai siap pakai, walaupun mungkin kaya akan mineral tersebut.

Berbeda dengan pembangkit-pembangkit listrik lainnya, PLTN harus menjalani proses decommissioning dan dismantling setelah tidak beroperasi. Proses decommissioning adalah tindakan menurunkan tingkat radiasi dari reaktor serta peralatan lainnya setelah mengakhiri operasinya, agar tidak membahayakan pekerja, masyarakat sekitar, maupun lingkungan. Proses untuk menurunkan tingkat radiasi hingga 5 mSv (atau lebih rendah) ini memerlukan waktu sekitar 70-110 tahun (Bayliss, 2003). Proses dismantling adalah proses pemotongan bagian-bagian dari inti reaktor dan peralatannya menjadi potongan-potongan kecil agar mudah dikemas dan diangkut. Biaya ini sangat besar dan menjadi tanggungan anak-cucu kita karena berlangsung lama. Biaya tersebut belum termasuk alokasi dana, yang namanya nuclear liabilities, untuk keselamatan publik.  Biaya proses decommissioning dan dismantling tersebut sudah barang tentu akan diperhitungkan di dalam penetapan tarif listrik.

Di Inggris, nuclear liabilities untuk sektor publik mencapai £50,- milyar. Pemerintah Inggris masih harus mendanai kerja United Kingdom Atomic Energy Authority (UKAEA) sebesar £270,- juta setiap tahunnya untuk mengelola keamanan dan keselamatan publik, serta mengembangkan program restorasi lingkungan. Di AS, biaya decommissioning sebuah reaktor berkisar US$368,- juta, sedangkan di Jerman sebesar €601,- juta (Bayliss, 2003). Sejak tahun 1973 AS tidak lagi membangun PLTN baru. PLTN pun harus diasuransikan, mengingat risikonya yang berdampak kepada masyarakat sekitar.  Perlu dicatat, bahwa apabila keputusan untuk membangun PLTN akhirnya ditetapkan oleh Pemerintah, keputusan tersebut akan menjadi beban (sekurang-kurangnya) dari dua generasi mendatang di dalam ikut menanggung biaya decommissioning maupun dismantling-nya.  Pengeluaran ini pun akan dibebankan ke dalam tarif listrik.

Masih mampukah Pemerintah menetapkan TDL yang terjangkau masyarakat apabila semua external cost tadi diperhitungkan ke dalam tarif listrik? Kalaupun mampu, tentunya akan berupa subsidi yang sangat besar, di samping subsidi untuk pembelian pellet-pellet uraniumnya. Ingatlah, bahwa dana subsidi itupun  juga berasal dari pajak yang dibayar oleh masyarakat.

Jangan pernah berpikir untuk mencelakakan rakyat dengan menggunakan uang rakyat.  Kita tidak perlu merasa ketinggalan zaman dan malu hanya karena  tidak menggunakan teknologi nuklir sebagai pembangkit listrik.  Membatalkan rencana membangun PLTN adalah lebih membanggakan karena berarti telah turut peduli terhadap kesengsaraan penduduk negara lain dan kerusakan besar di lokasi penambangan uranium, meskipun mereka bukan bangsa kita sendiri.

Bukankah kita bisa memiliki kebanggaan dalam penggunaan teknologi nuklir yang lain, misalnya untuk scanning;  suatu bentuk teknologi kedokteran yang paling mutakhir di dalam mendeteksi kelainan tubuh pasien maupun penyumbatan aliran darah, bahkan mendeteksi sel-sel radikal di dalam tubuh manusia.  Juga dalam dunia teknik, dapat digunakan untuk pendeteksian akan adanya keretakan halus pada konstruksi beton dari sebuah dam atau bendungan.  Kekuatan radioaktifitas dari penggunaan teknologi nuklir untuk scanning jauh  sangat kecil bila dibandingkan dengan penggunaannya untuk menghasilkan energi listrik.

Ledakan reaktor Unit 1 dan Unit 3 dari PLTU Fukushima I, menyusul terjadinya gempa dan Tsunami di Jepang pada hari Jum’at 12 Maret 2011 yang lalu, semakin menegaskan bahwa pembangkitan listrik dengan menggunakan energi nuklir sangatlah berisiko. Ribuan orang asing yang sedang studi maupun berada di Jepang terburu-buru pulang ke negaranya; bukan karena gempa tetapi karena sangat kuatir akan penyebaran partikel radioaktif pasca kedua ledakan tadi.

Belajar dari tragedi PLTN Fukushima I di Jepang, Pemerintah Jerman telah memutuskan akan mengakhiri  penggunaan PLTN di negara tersebut sebelum tahun 2020.

Adalah lebih bijaksana jika Pemerintah mengalihkan orientasinya ke pemanfaatan energi terbarukan, atau menunggu sampai teknologi fusion reaction, yang jauh lebih  aman dari fission reaction, telah siap secara komersial.

6 Komentar

Filed under Nuclear Risks Issues

6 responses to “Selain Berisiko, PLTN Bukan Solusi Agar TDL Tetap Terjangkau Masyarakat

  1. Budi Sudarsono

    Apabila Indonesia memiliki program nuklir jangka panjang, tentunya biaya decommissioning sudah di-internalize. Biaya sdh menjadi beban yang memakai listr ik nuklir.

    • Yang saya hormati Pak Budi Sudarsono.

      Saya tidak yakin bahwa listrik dapat semurah itu tanpa subsidi pemerintah, apalagi Korea Selatan tidak memiliki SDA sendiri. Dan sangat beralasan pula bahwa pemerintah Korea Selatan merasa perlu memberikan subsidi demi mendukung industri besar di negara tersebut. Demikian juga di Amerika Serikat.

      Mari kita lihat proses pembuatan pellet uranium, mulai dari penambangannya hingga menjadi pellet. Uranium terdapat di bumi dalam konsentrasi yang rendah, tidak seperti pada tambang emas, tembaga, atau lainnya. Oleh karena itu kerusakan lahan akibat penambangan tersebut sangat besar. Proses penghancuran menjadi bubuk, pemisahannya dari komponen lain, hingga ke pangayaannya (enrichment process) membutuhkan energi listrik yang sangat besar. Itupun belum terhitung BBM yang dipakai dalam proses penambangan dan transportasi ke kota lain untuk menjalani proses-proses berikutnya.

      Kita belum mampu memproduksi sendiri dan sepenuhnya akan impor pellets tersebut. Tentunya pihak penjual akan mengambil keuntungan dari bisnis tersebut. belum lagi adanya pengawasan internasional atas transaksi tersebut. Pemerintah Jerman bertekad akan mengakhiri penggunaan PLTN di negaranya dalam waktu secepatnya, tentunya bukan tanpa alasan.

      Saya setuju bahwa decommissioning cost harus sudah diinternalized. Yang saya tanyakan, bagaimana dengan asuransi dan external costs lainnya? Apakah semua itu akan ditanggung Pemerintah dalam bentuk subsidi agar TDL terjangkau? Dalam situasi ekonomi dunia (dan domestik) yang cukup berat ini, setiap program untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sebaiknya tidak dibangun dengan mengandalkan subsidi Pemerintah. Kecuali Pemerintah bertekad menanggung subsidi seluruhnya, termasuk BBM dan insentif bagi pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Dari alasan itulah maka saya berasumsi bahwa tarif dasar listrik sulit ditekan karena external costs tadi. Perlu diketahui bahwa rumah tangga yang merupakan pelanggan PLN terbesar (80%).

      Dua tahun yang lalu, Pemerintah Ukraina meminta dukungan dana dari negara-negara Eropa karena 25 tahun upaya decommissioning yang mereka lakukan terhadap PLTN Chernobil masih menyisakan partikel radioaktif. Mereka merencanakan akan membungkus bangunan reaktor tersebut dengan sebuah kubah baja raksasa. Ini sebuah realita dari kasus yg masih dirasakan dalam 25 tahun terakhir pasca musibah PLTN di Ukraina.

      Demikian penjelasan saya, dan terima kasih atas respon Bapak.

  2. Budi Sudarsono

    Menteri BUMN pernah menanyakan sendiri di KoreaSelatan berapa biaya listrik nuklir dan dijawab: 4 senAS. Jelas murah! Tidak sampai 400 rupiah/kWh.

  3. Prof Dr. K.Tunggul Sirait

    Selamat bekerja Pak Prof Atmonobudi.Saya ikuti terus perjuangan Anda dalam mendessiminasikan info tentang energi berkelanjutan dan ramah lingkungan serta issu penyebab serta dampak dari perubahan iklim. Pemikiran-pemikiran yang proaktiv sangat diperlukan untuk kesejahteraan anak bangsa generasi mendatang.Apa yang kita perjuangakan sekarang, hasilnya mungkin tidak akan kita nikmati sendiri tetapi dinikmati oleh anak bangsa generasi yang akan datang.GBU (KTSirait)

    • Dear Prof. K. Tunggul Sirait yang saya banggakan.

      Terima kasih banyak atas kunjungan Prof. di blog ini.

      Blog ini memang saya maksudkan sebagai sarana penyampaian gagasan kepada saudara-saudara se tanah air, khususnya dalam lingkup keilmuan yang saya geluti.

      Masukan dan usulan idea maupun koreksi akan sangat berharga bagi kita semua.

      Betul, bahwa manfaat dari penyampaian gagasan maupun ajakan untuk merawat bumi secara lebih baik memerlukan waktu yang lama.

      Sekian dulu respon saya, dan selamat membaca tulisan-tulisan lainnya yg tidak kalah pentingnya dengan masalah PLTN yang kita prihatinkan.

      Salam,
      Atmonobudi S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s