Mengentaskan Kemiskinan Berarti Membangun Infrastruktur

Kemiskinan.

Kemiskinan, atau poverty,  yang oleh WHO didefinisikan sebagai penghasilan per orang per hari dibawah US$ 1.-, kuranglah tepat.  Sebuah masyarakat tidak mungkin bangkit dari kemiskinan jika mereka masih hidup di lingkungan yang kurang tersedia bahan makanan, kurang gizi, tidak ada akses untuk memperoleh air bersih, tidak tersedia energi, serta tinggal di lingkungan yang kumuh dan tidak sehat.  Pemberdayaan masyarakat lewat  pendidikan formal maupun pembekalan keterampilan praktis akan menjadi sia-sia manakala mereka masih hidup dalam kondisi dimana seluruh kekurangan tersebut masih mengelilingi mereka.

Infrastruktur.

Atas dasar itulah maka kemiskinan harus kita artikan secara lebih luas dan mencakup keterbatasan air bersih, persediaan pangan, tingkat kesehatan, sarana transportasi, serta keterbatasan sumber energi yang dapat dimanfaatkan.  Hanya dengan pemahaman yang baru inilah maka solusi untuk mengentaskan kemiskinan — yang umumnya masih banyak dijumpai di kampung-kampung pedalaman — haruslah dengan membangun infrastruktur di kampung tersebut. Berbagai laporan internasional maupun nasional menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur akan meningkatkan pendapatan masyarakat desa dan menurunkan angka kemiskinan secara signifikan.  Di samping itu, peranan infrastruktur dalam pembangunan ekonomi adalah sangat penting, bahkan sering kali lebih besar efeknya dari pada investasi kapital.  Sebagai contoh, tersedianya akses jalan yang menghubungkan wilayah pedesaan dengan pedesaan lain atau kota terdekat akan mengurangi biaya transport barang hasil produksi desa tersebut. Di samping itu jalan juga akan meningkatkan akses untuk pelayanan-pelayanan sosial dan ekonomi lainnya. Semboyan Gubernur Barnabas Suebu “Membangun dari Kampung ke Kota” sungguh merupakan semboyan yang tepat dan cocok untuk melandasi berbagai program pembangunan infrastruktur di Provinsi Papua.

Priorioritas Infrastruktur.

Yang menjadi pertanyaan adalah, infrastruktur yang manakah yang menjadi prioritas dan bagaimana urutan prioritasnya? Adapun yang merupakan infrastruktur pedesaan/ kampung antara lain adalah: rumah, pangan, air bersih,  kesehatan, jalan, sarana transportasi umum, sekolah, dan ketersediaan energi listrik.  Jenis dan prioritas pembangunan infrastruktur di setiap desa/ kampung tidak sama satu dengan yang lain.  Ada sebuah desa yang lebih mengutamakan pembangunan jalan karena hasil produksi agrarianya selama ini tidak bisa di jual ke desa/kota lain karena mahalnya biaya transportasi.  Desa yang lain lebih mengutamakan tersedianya sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduknya.

Untuk menentukan jenis infrastruktur yang akan diprioritaskan dibangun di sebuah desa/ kampung kita perlu mendengarkan pendapat masyarakat desa setempat atau dikenal dengan pendekatan bottom up policy; namun ada juga yang bersifat top down policy seperti antara lain: kesehatan, jalan, alat transportasi, pendidikan, perumahan, dan tawaran berupa kredit mikro yang akan lebih memberdayakan potensi ekonomi masyarakat.  Proyek-proyek infrastruktur yang bersifat percontohan juga perlu dilakukan karena believing by seeing sering kali lebih efektif dalam memotivasi masyarakat untuk ikut serta di dalam pembangunan infrastruktur.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur, yaitu antara lain: (a) proses pengalihan tanah milik perorangan atau kelompok yang umumnya masih berlandaskan hukum/ adat setempat, (b) menggunakan tenaga kerja dan produk lokal, (c) keberpihakan kepada kaum perempuan karena merekalah yang lebih sering berada di rumah/ kampung, (d) pembangunan infrastruktur berbasis tenaga kerja atau padat karya – bukan berbasis teknologi, dan (e) pembangunan infrastruktur merupakan pembangunan berkelanjutan, yang berarti berlangsung terus menerus walaupun terjadi pergantian pimpinan daerah.

Melalui perencanaan dan persiapan yang matang serta monitoring di dalam pelaksanaannya, maka pembangunan infrastruktur di provinsi Papua diharapkan dapat sekaligus menurunkan angka kemiskinan hingga 2% per tahun, bahkan lebih.  Semoga.

Catatan:   Artikel ini pernah dimuat pada  Cenderawasih Pos – Jayapura, Selasa 6 Februari 2007, hal. 5.

Tinggalkan komentar

Filed under Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s